Tuesday , June 25 2019
Home / Insight / Beautiful Mind..

Beautiful Mind..

Suatu hari, saya sedang membaca artikel di Twitter, Singapura akan memberikan denda sekitar 100 hingga 5000 dollar Singapore bagi warganya yang ketahuan membiarkan mesin kendaraannya menyala (kalau di Indonesia, mungkin maksudnya sedang memanasi kendaraan atau menunggu seseorang). Respon saya waktu itu, WOW….negara “kecil” itu begitu concern tentang kenyamanan dan udara sehat bagi warganya.

Kebayang nggak kalau itu diterapkan di Indonesia? Kebijakan pemerintah mengenakan biaya plastik belanja yang cuma Rp 200 saja beberapa dari kita masih ngedumel kan. Yaa, begitulah kita kadang mengisi hari-hari dengan prasangka, politik, skeptis dan masih banyak pikiran jelek lainnya. Padahal positive thinking seringkali menyelamatkan, kenapa… Lets cek up :

Sulit untuk Dipercaya
Anda saja sudah sulit menerima kesalahan bagi diri sendiri, alih-alih ingin memperbaiki, tentunya Anda akan sulit menerima masukan orang lain, komentar orang lain, apalagi kritikan yang seringkali tiap orang beda-beda cara menyampaikannya, bahkan mungkin Anda akan apatis pada tiap perubahan yang terjadi di sekitar Anda. Yang ada hanyalah praduga, prasangka, intrik dan aneka ketidakpercayaan lainnya. Buntutnya, semakin tak percaya diri. Padahal, siapa tahu dengan perubahan-perubahan yang terjadi di sekitar kita, berikut masalahnya justru dapat membantu kita menjadi manusia yang tumbuh, berpikir dan kreatif, setuju.

Depresi
Tiap kali gagal mengerjakan tugas, Anda langsung mencela diri sendiri. Tiap kali tak capai target, Anda langsung vonis diri kurang bekerja keras. Begitu dikritik atasan, Anda langsung tak mau mengerjakan pekerjaan itu lagi alias tak percaya diri, Kantor Anda punya kebijakan baru, Anda langsung komen kebijakan kantor tak memihak karyawan. Well, stres gak jauh-jauh kan. Stres begitu mudah Anda ciptakan hanya dengan mencela, mengkritik dan mengkotakkan diri dalam ketidakmampuan. Stres datang begitu kita berkomentar pada sesuatu yang terjadi di luar kendali kita. hasilnya, Anda akan selalu dan sangat mudah depresi. Tipsnya, cobalah berikan diri Anda sendiri apresiasi, dan mencoba berkompromi pada sesuatu yang bukan “urusan” Anda. Saat gagal, jangan cela diri Anda, lebih baik gagal dari pada Anda tidak berbuat apa-apa bukan? Saat ada orang yang terburu-buru menyalip mobil Anda, cobalah untuk tak mengumpat. Mungkin keliatan remeh, tapi coba praktekkan 5 hari saja, hati Anda lebih damai lho.

No Optimism
Saya pernah membaca sebuah buku, judulnya adalah “Bukan Untuk Dibaca”, saya mengutip sebuah cerita dalam salah satu bab nya, bahwa ada seorang pengusaha yang memerintahkan tenaga sales-nya untuk menjual sisir kepada Biksu. Nah lho, kebayang kan, gimana caranya jual sisir pada Biksu, kan sisir gunanya untuk menyisir? Si Negatif Mind pasti akan segera berkata itu ide gila, tak mungkin, atau aneh.., namun si Positif Mind melihat itu sebagai peluang, bahwa Si Sisir justru bisa menjadi sebuah souvenir bagi para pengunjung Vihara tersebut. Nah, terasa kan perbedaaannya walau hanya membaca.. Manusia harus selalu punya HOPE alias harapan. Tidak ada satupun di dunia ini yang bisa merampas harapan sepanjang kita berusaha, dan sekali lagi BE POSITIF.

Beautiful Mind = Beautiful Life
Saya memberi judul tulisan ini dengan sebutan Beautiful Mind daripada memberinya judul How To Be Positif, karena menurut saya pikiran kita, otak kita, benar-benar adalah sesuatu yang indah, yang ajaib dimana kita benar-benar punya kendali penuh untuk mengaturnya. Ketika kita bisa mencela, atau kita dengan seketika bisa optimis. Cobalah untuk berpikir dan bereaksi sesuai dengan kadarnya. Jika itu tidak mempengaruhi Anda secara langsung, abaikan. Jika itu kebijakan tempat Anda bekerja, terimalah karena tujuannya pasti lebih baik, baik bagi personal diri kita dan juga bagi perusahaan. Terimalah segala bentuk kenegatifan sebagai sarana bagi Anda, untuk maju dan tumbuh menjadi manusia lebih baik.
hasilnya, saya mengharapkan semoga kita semua dianugerahi Beutiful Life.

Apakah benar-benar Penting
Yup, sebelum Anda berkomentar, nyeletuk negatif, ngedumel, coba tanyakan dalam hati “apakah ini benar-benar penting”. Apakah dengan Anda ngomel, Anda merasa lebih baik, sehat, rejeki berlimpah? Apakah dengan menyalahkan diri sendiri, masalah Anda akan selesai? Apakah dengan menyalahkan kebijakan perusahaan, Anda merasa pekerjaan Anda di kantor terbantu. Well, coba kembalikan kepada diri Anda sendiri. Mungkin sulit dan tak mungkin diterapkan seketika, tapi patut dicoba. Berpositif thinking-lah, karena itu bisa membantu kita membuat prioritas tentang cara berpikir dan bereaksi pada suatu kejadian.

“Positive thinking isn’t about expecting the best to happen every time, but accepting that whatever happens is the best for this moment.” 

by Ina Lestari

About admin

Check Also

Raih Target Market dengan Pendekatan Multi Generasi pada Bisnis Travel

Raih target market dengan pendekatan multi generasi pada bisis travel.

Mengetahui siapa target market Anda sangat penting dalam sebuah keberhasilan proses marketing dan sales. Setiap generasi memiliki cara pendekatan yang berbeda agar mereka yang awalnya adalah strangers kemudian bisa Anda konversi menjadi customer atau bahkan promoters bisnis Anda.

Anda mungkin pernah mendengar istilag generasi boomers, generas X dan generasi millenial. Generasi boomers adalah generasi yang lahir antara tahun 1946 sampai dengan 1964, sedangkan generasi X adalah generasi yang lahir antara tahun 1965 sampai dengan 1980. Generasi yang lahir setelah tahun 1980 disebut generasi millennial.

Generasi yang lebih tua biasanya lebih suka datang langsung untuk berbelanja di toko atau perusahaan Anda, sedangkan generasi pertengahan (Gen-X) lebih tech savy dan kalau berbelanja lebih memilih untuk berbelanja lewat website. Generasi millenial sudah lebih familiar berbelanja secara online. Malah sebelum berbelanja, mereka akan membandingkan dan bertanya terlebih dahulu terhadap produk yang ingin dia beli di media sosial atau situs review.

Bagaimana pendekatan pada masing-masing generasi untuk Anda yang memiliki bisnis travel? Berikut ulasannya:

Generasi Boomers

Generasi Boomers adalah orang yang memiliki ciri-ciri berikit ketika memutuskan untuk berbelanja:

  • Loyal terhadap sebuah brand
  • Ingin dilayani secara personal dan memerlukan interaksi dengan manusia
  • Lebih menghargai nilai

Untuk meraih daya beli pasar generasi boomers, Anda harus membuat mereka merasa nyaman dan percaya diri dalam membuat keputusan dalam membeli. Pendekatan dan komunikasi secara personal perlu Anda lakukan. Sebagian besar generasi boomers sudah mengetahui apa yang mereka inginkan dan biasanya jika mereka sudah merasa nyaman dengan Anda, mereka akan sangat mudah untuk loyal kepada brand Anda.

Jika Anda memiliki hotel dengan target market generasi boomers, beberapa dari mereka biasanya masih bepergian dalam rangka bisnis, walaupun ada juga yang travelling untuk rekreasi karena mungkin mendapatkan laba dari bisnisnya.

Generasi X

Ciri-ciri dari generasi X adalah sebagai berikut:

  • Lebih terbiasa menggunakan teknologi
  • Bekerja untuk hidup, bukan hidup untuk bekerja
  • Lebih sosial

Generasi X lebih suka berbelanja melalui website dari brand yang mereka sudah kenal. Jika Anda adalah salah satu orang yang termasuk dari generasi X dan ingin membeli tiket pesawat, apakah Anda akan memilih untuk datang ke kantor travel agent langganan Anda atau cukup memesannya melalui website atau email?

Saya yakin Anda memilih memesan melalui website, meskipun Anda masih memerlukan pendekatan secara personal dengan bertanya beberapa hal detail, tetapi Anda sudah menggunakan teknologi untuk melakukan hal itu.

Generasi X lebih banyak mengalokasikan uangnya untuk traveling daripada generasi boomers. Apalagi mereka yang sedang mendapatkan bonus tahunan atau laba besar dalam bisnisnya. Dalam bekerja, generasi X lebih menyukai ruang-ruang sosial daripada bekerja sendiri dalam ruang kerja. Mereka lebih memilih untuk bekerja di cafe, restaurant, lounge dan tempat-tempat lain yang memungkinkan adanya ruang untuk bersosialisasi.

Untuk mendapatkan target market dari generasi X, Anda harus melengkapi website Anda dengan sistem booking yang memudahkan kelompok generasi X cepat dalam membuat keputusan karena mereka lebih menghargai efisiensi. Selanjutnya pastikan bahwa bisnis Anda memiliki ruang untuk bersosialisasi untuk mereka. Cafe, bar, lounge dan restoran adalah tempat yang sangat tepat untuk leisure travellers. Ingat, efisiensi adalah top priority mereka.

Generasi Millenial

  • Sangat familiar dengan teknologi
  • Lebih sabar dan independent
  • Melakukan research sebelum memutuskan
  • Free Wi-Fi Access

Mereka yang termasuk generasi ini biasanya akan lebih sabar dan sebelum memutuskan untuk membeli sesuatu mereka akan melakukan research di internet terlebih dahulu. Mereka akan melakukan perbandingan dari berbagai macam pilihan opsi yang ada internet. Mereka adalah kelompok yang tidak terlalu royal dengan brand, tetapi sangat mudah merekomendasikan sebuah brand melalui media sosial jika mereka sudah sangat menyukainya. Jika ingin booking hotel atau tiket pesawat, mereka lebih suka melakukannya sendiri tanpa bantuan orang lain. Mereka tidak suka bertanya-tanya dulu sebelum membeli. Tetapi mereka lebih suka melakukan research dan melihat review terhadap sesuatu yang mereka inginkan.

Dalam beberapa tahun ke depan, generasi millenial inilah yang akan banyak. Untuk itu Anda harus sudah mulai memikirkan langkah-langkah apa yang seharusnya Anda tentukan agar bisnis Anda tidak kehilangan oppurtunity. Reputasi dan media sosial adalah kunsi Anda jika Anda ingin menargetkan generasi millenial.

Termasuk generasi yang manakah Anda? Saya adalah salah satu generasi millenial.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *