Thursday , July 18 2019
Home / Interview / William Tanuwijaya – Millionaire Next Door

William Tanuwijaya – Millionaire Next Door

We are the luckiest generation ever. In the internet era, everyone, even the underdog has the chance to challange the status quo, stand against all odds, survive and eventually win. – William Tanuwijaya 

Datang dari daerah menantang ibukota, berjibaku dengan ide toko online bernama Tokopedia. Determinasinya tangguh, namun perjalanannya tak mudah. Berkalikali proposalnya ditolak sejumlah investor. tapi itu tak surutkan cita-citanya. Dan sekarang, ide kecilnya ini telah menghasilkan investasi  sebesar US$ 100 Juta.

Quotes itulah yang terpampang besar di kantor baru Tokopedia, ungkapan dari William Tanuwijaya selaku pendirinya, bahwa inilah eranya kita, anak-anak muda mengambil peran untuk melawan “status quo” melalui internet. Dan melalui Tokopedia, pria kelahiran tahun 1981 ini telah membuktikannya.

Dan hari ini, tidak ada lagi yang asing dengan nama aplikasi yang satu ini, jingle-nya kerap terdengar di sejumlah tayangan iklan televisi. Bahasa promosinya di skenario dengan unik dan memikat. Alhasil, startup ini melesat cepat beberapa tahun terakhir. Bahkan “kutukan” akan sulitnya bagi sejumlah startup menghasilkan profit, terpatahkan sudah. Perusahaan berbasis internet ini berhasil merenggut perhatian masyarakat dan mendapat kepercayaan di antara para pelaku e-commerce di Indonesia. Selain menjadi salah satu brand yang dipercaya, Tokopedia juga menjadi salah satu marketplace dengan total pengunjung terbaik di Indonesia.

Bukan hanya itu, Tokopedia juga sanggup meraih kepercayaan dari setiap penjual maupun pembeli untuk bertransaksi di sini, walaupun taruhannya harus berhadapan dengan para raksasa besar seperti Amazon, Alibaba atau perusahaan internet besar lainnya. Tidak hanya eksis di ajang persaingan e-commerce. William juga berhasil menggandeng para pemodal asing seperti Softbank dan Sequoia Capital dari Amerika Serikat yang nilainya mencapai Rp 1,3 Triliun atau sekitar US$ 100 Juta. Namun jelas, tiap jengkal kesuksesannya tidak dibangun dalam waktu satu malam. Ketika kami mewawancarainya secara eksklusif, William bercerita bagaimana dirinya mengalami masa-masa sulit untuk membangun sebuah bisnis, “sebelumnya saya pernah menjadi seorang operator warnet untuk melanjutkan kuliah,” ujarnya. Masih banyak lagi cerita dari seorang William Tanuwijaya. Berikut, kisahnya yang dituturkannya kepada Singgih Wiryono reporter Money&I.

William Tanuwijaya, siapa sebenarnya Anda?

Hahaha.., kalau dari nama, itu pemberian dari paman saya, nama William terinspirasi dari kerajaan Inggris. Ketika saya lahir, sedang heboh-hebohnya pangeran William keluarga Kerajaan Inggris. Jadi nama saya itu diambil dari nama Pangeran William. Sepupu saya juga ada yang namanya Diana, dan ada juga yang Harry. Jadi memang dari situ asalnya.

Saya lahir dan besar di Kota Pematang Siantar. Saat lulus SMA, pertama kalinya saya keluar dari Sumatera Utara, diberikan kesempatan oleh ayah dan paman untuk melanjutkan kuliah ke Jakarta. Naik kapal empat hari tiga malam, excited sekali melihat Jakarta dan kuliah di Universitas Bina Nusantara. Saat kuliah, saya mencari pekerjaan sampingan. Mulai semester dua saya bekerja di warnet sejak pukul 21.00 malam hingga 09.00 pagi, full 7 hari dari Senin sampai Minggu. Ini adalah kisah saya berkenalan dan jatuh cinta dengan Internet. Ketika Internet masih mahal, saya bisa menggunakannya dengan gratis, bahkan dibayar.

Bagaimana awal mula Anda membangun Tokopedia?

Untuk menjawab hal tersebut, saya harus menceritakan bagaimana Internet mengubah hidup saya, yang juga menjadi alasan, mengapa Tokopedia itu harus gratis. Saat lulus, saya selalu ingin bekerja di perusahaan Internet. Namun perusahaan yang saya kagumi seperti Google, belum memiliki kantor di Jakarta. Saya pun bekerja di beberapa perusahaan yang bergerak dalam industri pengembangan software.

Sampai pada tahun 2007, ketika mendapatkan ide untuk membangun Tokopedia, saya mulai memiliki mimpi untuk membangun perusahaan Internet sendiri. Saat itu ayah saya divonis kanker dan saya tidak bisa meninggalkan pekerjaan, karena saya satu-satunya pencari nafkah di dalam keluarga. Saya butuh pemodal untuk membangun Tokopedia. Dan pertanyaan pertama saya saat itu adalah, “mengapa Google dan Facebook yang saya pakai sehari-hari itu gratis, dari mana uangnya?” Dari sana saya belajar tentang adanya pendanaan untuk startup company di negara-negara maju. Semua perusahaan besar yang saya kagumi tersebut, mulai dari ide kecil, kerja keras yang didukung oleh pendanaan secara bertahap oleh pemodal ventura (venture capitals) membuat mereka berhasil menjadi besar. Terinspirasi dari hal tersebut, saya mulai mencari pemodal.

Saya tidak kenal para pemodal ventura, jadi saya datang ke satu-satunya orang berduit yang saya kenal. Saya datang ke bos tempat saya bekerja dan menceritakan ide Tokopedia, tentang Indonesia yang merupakan negara kepulauan, di mana seringkali pembeli dan penjual yang tidak pernah bertemu satu sama lain. Di sinilah terjadi banyak celah penipuan online, sedangkan para penjual dan pembeli online butuh untuk bisa saling percaya.

Saya juga menceritakan tentang banyaknya individu dan pemilik bisnis yang ingin berbisnis online, tapi terbentur pada keterbatasan dana, akses ke teknologi, mitra perbankan dan logistik, bahkan akses ke pasar, dan menjelaskan bagaimana marketplace mampu memecahkan masalah-masalah tersebut.

Bagaimana reaksinya?

Bos saya berbaik hati. Ia memperkenalkan saya ke beberapa temannya, pebisnis yang sudah banyak mengecap asam garam dunia bisnis, yakni para investor. Selama dua tahun, saya mencoba menyakinkan para investor untuk memberikan pendanaan awal, dan saya mendapati bahwa membangun kepercayaan tersebut sangatlah sulit. Bombardir pertanyaan datang dari para investor, rata-rata hanya tentang masa lalu saya dari keluarga mana, kuliah di mana, pernah berbisnis apa sebelumnya.

Saya belajar bahwa sulit sekali mendapatkan kepercayaan jika kita benarbenar mencoba memulai dari nol. Namun saya sangat percaya, walaupun masa lalu tidak bisa kita ubah, masa depan ada di tangan kita sendiri.

Saya beruntung karena pada akhirnya saya dan rekan saya, Leontinus Alpha Edison, diberikan sebuah tiket kepercayaan dan bisa mendirikan Tokopedia tahun 2009. Belajar dari pengalaman tentang sulitnya mendapatkan kepercayaan, filosofi kami waktu itu adalah tidak perlu ada marketing jorjoran. Seluruh dana investasi akan kami pakai untuk membangun tim dan memastikan bahwa Tokopedia gratis, bisa dipakai oleh siapa saja di Indonesia, baik untuk berjualan maupun berbelanja online.

Apa benar Tokopedia gratis sepenuhnya?

Salah satu pendanaan yang harus kami lakukan untuk memastikan Tokopedia gratis adalah dalam melakukan subsidi untuk setiap transaksi di Tokopedia. Untuk para Toppers (sebutan untuk pengguna Tokopedia, baik penjual maupun pembeli. red) yang juga membangun situs sendiri pasti mengetahui bahwa sebenarnya ada biaya yang harus dibayarkan kepada pihak bank untuk setiap transaksi dengan menggunakan metode pembayaran tertentu.

Tokopedia ingin mengedukasi, bahwa internet bisa bermanfaat secara positif dan kami melakukan subsidi untuk memastikan hampir semua metode pembayaran di Tokopedia bersifat gratis, terkecuali kartu kredit.

Untuk kartu kredit, seluruh risiko harus ditanggung pemilik platform dan biaya MDR yang menggunakan persentase yang nilainya cukup besar, tidak mampu kami subsidi sepenuhnya. Khusus metode pembayaran ini, kami tetap melakukan subsidi sebagian dan sisanya kami memberikan pilihan kepada pembeli. Jika ingin menggunakan kartu kredit, ada biaya administrasi untuk risiko yang harus kami tanggung tersebut. Namun dari sisi penjual, tetap tanpa biaya tambahan untuk metode pembayaran apa pun yang dilakukan.

Kami percaya sistem subsidi silang mampu membantu yang belum mampu atau yang baru memulai. Sistem subsidi silang inilah yang akan kami terus pertahankan sebagai sumber penghasilan dan tetap memastikan ada bagian-bagian dari Tokopedia yang sifatnya gratis, selamanya.

Lalu dari mana Tokopedia akan mendapatkan keuntungan?

Tokopedia telah menyediakan pilihan Gold Merchant untuk merchant-merchant yang ingin menjadi sponsor Tokopedia dengan biaya rendah per bulan, dan juga memberikan fitur-fitur yang sifatnya membantu para Gold Merchant menjadi lebih efisien. Selain itu, kami juga telah memperkenalkan fitur TopAds untuk merchant-merchant yang ingin mendapatkan exposure tambahan.

Mengapa para pemodal ventura percaya pada Tokopedia. Bagaimana modal mereka akan kembali?

Ada pepatah, “tidak ada makan siang gratis di dunia ini”. Dengan besarnya investasi yang terus digelontorkan para pemodal ventura ke Tokopedia. SoftBank adalah pemodal di balik kesuksesan Alibaba. Mereka menaruh investasi US$ 20 Juta yang memungkinkan Alibaba mengembangkan produk dan pasar. Dan saat ini investasi US$ 20 Juta mereka telah bernilai lebih dari US$ 50 Miliar, atau lebih dari 2.500 kali lipat dari modal awal mereka. Sequoia Capital ini juga merupakan pemodal di balik keberhasilan Apple, Google, YouTube, Instagram dan WhatsApp. Sebanyak 20 persen dari bursa saham Nasdaq adalah portofolio mereka. Filosofi investasi mereka adalah ke perusahaan yang mampu membawa manfaat sebesar-besarnya bagi banyak orang.

Suatu hari nanti, jika Tokopedia mampu menjadi perusahaan Internet kelas dunia, Tokopedia akan menjadi perusahaan publik yang sahamnya diperdagangkan secara terbuka. Para Toppers juga bisa memiliki Tokopedia. Saat itu nilai perusahaan diharapkan sudah jauh di atas nilai ketika para investor memberikan pemodalan. Dari sanalah keuntungan akan didapatkan oleh para pemodal ventura.

Apa kiat Tokopedia hingga dalam satu singkat menjadi salah satu marketplace terbesar di Indonesia?

Tujuh tahun sebenarnya tidak sebentar. Rahasianya ya, kalau ada titipan kepercayaan jangan dikecewakan. Setiap pelanggan Tokopedia sedapat mungkin diberikan pelayanan yang terbaik.

Karena kami percaya, kita bertumbuh bersama dengan pelanggan juga. Di awal pengenalan, kami berupaya benar-benar fokus pada apa yang Tokopedia bisa berikan, itu 10 kali lipat lebih baik dari alternatif-alternatif yang ada di pasaran. Kami juga menggunakan kearifan lokal dalam berinovasi. Misalnya saja dalam sisi inovasi pembayaran, kami sadar bahwa tidak semua masyarakat Indonesia itu sudah punya kartu kredit, atau punya rekening di bank. Banyak yang hanya punya tunai. Di sini kami berinovasi, di Tokopedia, belanjanya bisa online, bayarnya bisa pakai cash ke Indomaret setempat. Itu adalah inovasi yang menggunakan kearifan lokal yang disesuaikan kepada budaya setempat. Dari sisi penjualan, kami juga memberikan inovasi terhadap apa yang mereka butuhkan. Kita memberikan fasilitas cicilan. Jadi Tokopedia itu seperti membangun sebuah kota, dan kami membuat infrastrukturnya.

Filosofi nama dari Tokopedia sendiri?

Dulu saya ingin namanya yang keren, yang hanya memiliki dua suku kata seperti perusahaan-perusahaan keren dunia, seperti Google, Yahoo, Facebook, kan namanya cuma dua suku kata, eh ternyata susah. Banyak nama yang sudah dibeli, akhirnya nggak ketemu-ketemu namanya. Awalnya saya menggagas nama “toko apa aja” yang disingkat kopaja, atau belanja aman dot com, dicoba-coba ternyata sudah ada. Di satu sisi, terbersit kata “Tokopedia.com” inspirasinya, ini adalah ensiklopedia toko-toko online terpercaya di Indonesia, setelah dicari-cari ternyata belum ada yang punya domainnya, ya udah kita beli aja domainnya.

Awalnya kita beli untuk nama proyek, sambil nanti cari nama baru yang sesuai, terdiri dari dua suku kata. Pas launching tanggal 17 Agustus 2009, belum ada nama baru. Saya akhirnya teringat akan rumah makan favorit yang lokasinya di dalam gang, susah dijangkau, tidak punya nama yang megah. Tapi saya tetap balik ke sana karena saya suka masakan dan pelayanannya. Akhirnya saya berpikir apalah arti sebuah nama. Sebenarnya yang terpenting adalah pelayanannya, produknya, hidangannya. Akhirnya kita pakai Tokopedia ini permanen. Dan kami fokus mengembangkan pelayanannya.

Dengan pesatnya perkembangan Tokopedia sekarang, apakah banyak tawaran untuk akuisisi?

Tawaran akuisisi sih sudah sering, hanya visi dari Tokopedia itu ingin menjadi perusahaan yang bisa dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia. Jadi goal-nya itu jadi Tbk (perusahaan terbuka) suatu hari nanti. Jadi setiap masyarakat Indonesia, kalau ingin jadi bagian dari Tokopedia, kan bisa beli di Bursa Efek Indonesia.

Apakah sebelumnya memiliki pengalaman menjadi seorang pebisnis?

Tidak, saya tidak punya. Saya merasa beruntung sekali bisa mendapatkan kesempatan untuk belajar. Bagi saya, pengalaman entrepreneur yang paling menarik adalah pengalaman belajar tiada henti. Jadi tiap hari, entrepreneurship itu akan terus belajar. Di kurun waktu 7 tahun belakangan ini, sebenarnya saya lebih banyak gagalnya. Tetapi kegagalankegagalan itulah yang membuat saya belajar banyak. Jadi, setiap hari harapannya bisa jadi pemimpin yang lebih baik, khususnya dalam memimpin diri sendiri agar bisa menjadi pribadi yang lebih baik.

Apa prediksi Anda soal e-commerce di masa mendatang?

Saya tidak bisa berbicara banyak untuk ini, tapi prediksi saya internet akan seperti listrik. Internet seperti kebutuhan akan listrik yang akan menjadi bagian dari hidup sehari-hari. Akan ada banyak yang sudah tidak dianggap sebagai sesuatu yang futuristik, ia akan menjadi bagian dari hidup.

Kelak tidak ada yang akan menanyakan belanja Anda di online atau offline? Ya belanja saja, seperti itu. Dan buat saya, marketplace sangat dibutuhkan di Indonesia. Karena disini pemerataan ekonomi sangat sulit dilakukan, Indonesia memiliki demografi dengan kurang lebih 17.000 pulau. Marketplace akan membuat toko-toko ini menjadi bertahan. Mereka akan bersinergi. Selama ini orang-orang yang memiliki produk yang bagus, mereka sebenarnya kesulitan untuk mendobrak pasar konvensional, misalnya di daerah saya ada produk bisa bikin kerupuk yang enak, mau dipasarkan ke pasar-pasar tradisional itu susah, dia mesti membangun brand-nya, dan itu mungkin bisa dilakukan sampai lewat lintas generasi. Menawarkan dari door to door, sudah dikenal dan diteruskan oleh anaknya, dan makin lama bisa menjadi usaha besar, kemudian menjadi brand yang dikenal di seluruh Indonesia. Itu kan gambaran sederhananya.

Jadi berterima kasihlah dengan internet, yang membuat akses ke pasar secara langsung tanpa batas. Jadi siapapun, berada di mana pun, kalau punya produk bagus, bisa dipasarkan dan mengakses ke 250 juta penduduk Indonesia secara langsung, itu sebuah hal yang tak pernah bisa dirasakan di generasi-generasi sebelumnya. Ini yang akan terjadi di generasi mendatang.

Bagaimana Anda memandang Asean Economi Community, ancaman atau peluang?

Peluang! Karena internet sendiri bahkan saingannya bukan hanya ASEAN, saingannya sudah seluruh dunia. Seharihari pun kita sudah menggunakan produk-produk yang kita tidak peduli dari mana negara asal produk tersebut, yang terpenting adalah kualitas yang bagus. Ini sebenarnya peluang agar orang-orang Indonesia itu, kreatif dan mau naik kelas, mau berusaha membuat produk yang kualitasnya kelas dunia.

Apa harapan yang belum tercapai?

Hmm.., sebenarnya saya ingin generasi Indonesia berikutnya, tidak lagi menanyakan tentang pertanyaanpertanyaan ketika awal saya membangun bisnis. Harapannya nanti, tidak ada lagi yang berpikir “jangan bermimpi muluk-muluk”.

Sebelum 100 tahun Indonesia merdeka, saya ingin titipan pendiri bangsa kita Bung Karno bisa terwujud, beliau percaya Indonesia ini negara dan bangsa yang besar. Dan untuk menjadi bangsa besar, beliau bilang “bermimpilah setinggi langit, karena jika engkau jatuh, engkau akan
terjatuh diantara bintang-bintang”.

Apa pesan yang ingin Anda sampaikan untuk generasi saat ini?

Kalau di Tokopedia, kami benar-benar percaya kesuksesan itu hanya bisa diraih dengan cara membantu orang lain jadi lebih sukses. Itu mungkin menjadi salah satu rahasia kenapa Tokopedia masih tetap dicintai masyarakat Indonesia hingga hari ini. Untuk saya pribadi, saya selalu menganggap diri sebagai generasi internet yang amat beruntung karena lahir di generasi ini.
Karena menurut saya, di zaman internet, setiap orang memiliki kesempatan yang sama walaupun dia seorang underdog, ia memiliki kesempatan yang sama untuk menantang persaingan, melawan dan bertahan di atas ketidakmungkinan dan menjadi pemenang. Seperti filosofi bambu runcing, keberanian, kegigihan dan harapan untuk menjadi merdeka.
 

 

About admin

Check Also

Trisna Rahanian, Owner Bali Zoo “Kalau kangen, saya akan video call dengan satwa..”

Jika merujuk pada data di Wikipedia, maka di Indonesia hanya tercatat memiliki tidak lebih dari 25 kebun binatang.

Sebagai sebuah negara yang begini besarnya, jumlah ini terang saja tidak proporsional, malah bisa dibilang terlampau sedikit. Itupun banyak diantaranya yang memang sudah ada sejak jaman Belanda, lainnya didirikan ketika era orde baru. Dan jika dihitung dalam waktu 15 tahun terakhir, jumlahnya tidak lebih dari 15 kebun binatang baru yang berdiri di Indonesia. Jumlah ini jelas berbanding terbalik dengan taman rekreasi hiburan lainnya, seperti watre park misalkan yang tumbuh subur dihampir setiap propinsi. Alasannya jelas, Kebun Binatang merupakan wahana yang paling ribet dalam hal pendiriannya mulai dari ijin keberadaan satwa, hingga kebutuhan lahan yang sangat luas, belum lagi biaya perawatan satwa yang tidak mudah dan murah. Apalagi kemudian dengan menghitung masa pengembalian investasinya yang lama, wajar jika kemudian kebun binatang bukanlah primadona bagi kebanyakan investor. Butuh alasan yang lebih dari sekedar bisnis, untuk mendorong seseorang mau menjadikan satwa sebagai ajang edukasi masyarakat. Dan ini, terjadi pada Anak Agung Gede Putra!

Berlatar belakang pendidikan jurusan peternakan, Gede Putra mengabdikan dirinya sebagai PNS dilingkungan Dinas Peternakan Provinsi Bali selama 7 tahun. Dari pilihan jurusan pendidikannya, sudah menunjukkan ketertarikan beliau pada hewan, dan burung adalah hobinya yang tak bisa di tawar. Hampir setiap hari, Gede Putra pergi ke pasar burung. Dan semakin lama, koleksi hewan peliharaannya terus bertambah, bahkan belakangan bukan hanya burung, namun juga Orang Utan dan Walabi. Sayangnya, beberapa satwa yang dimilikinya ini tergolong langka, Gede Putra pun merasakan bagaimana dirinya kemudian di razia petugas, dan hewanhewan peliharaannya pun berpindah tangan. Namun dari sinilah kemudian idenya muncul, bagaimana caranya memelihara satwa dengan legal, dan bahkan bisa menjadi ajang bisnis? Yup, kebun binatanglah jawabannya! Maka pada tahun 2002, berdirilah Bali Zoo yang berlokasi di Singapadu Gianyar Bali.

Kini, Bali Zoo sudah dikelola oleh generasi kedua, salah satunya adalah Anak Agung Trisna Dewi Rahanian. Sejak kecil, anak kedua dari 5 bersaudara ini sudah hidup ditengah satwa-satwa peliharaan orang tuanya, dan ini yang membuat ikatan emosi antara dirinya dengan satwa demikian lekat. Ia pun turut menangis ketika orang utan yang tumbuh besar bersamanya kemudian di razia petugas. Bahkan, ia akan video call dengan satwanya jika tengah berada di luar kota demi melepas rindu. Rasa cinta seperti inilah yang kemudian menjadi modal bagi lulusan Fashion Business Retail di Esmod Jakarta ini untuk membawa Bali Zoo terus berkembang. Kepada Money&I, Trisna pun bercerita lebih banyak prihal bisnis yang kini dikelola bersama saudaranya, berikut kutipannya.

Benarkah Anda melakukan video call jika kangen dengan hewan peliharaan?

Ha..ha.. hobi saya itu memang memelihara binatang, ini adalah warisan dari kecintaan Ayah saya terhadap satwa. Jika sehari saja tidak bertemu dengan hewan peliharaan, rasanya ada yang kurang, dan kalau lagi keluar kota, saya sempatkan diri untuk video call dengan mereka he..he.. Menggelikan memang bagi sebagian orang. Dan bukan cuma itu, saya juga sangat menjaga asupan makanan mereka, melakukan treatment akupuntur dan massage yang terapisnya saya langsung panggil ke rumah untuk mereka.

He..he.. so sweet. Ayah Anda memiliki kecintaan pada satwa, inikah yang menjadi fundamen berdirinya Bali Zoo?

Betul, Ayah saya (Anak Agung Gede Putra. red) memiliki kecintaan terhadap berbagai macam satwa. Beliau merupakan lulusan Fakultas Peternakan UNUD, dan selama 7 tahun mengabdikan diri sebagai PNS dilingkungan Dinas Peternakan Provinsi Bali. Tapi kemudian beliau melihat pesatnya perkembangan industri pariwisata, dan bermunculannya art shop kerajinan gold dan silver, ini kemudian menumbuhkan jiwa bisnis beliau, dan memutuskan untuk mendirikan usaha Gallery (Singapadu Gallery.red). Tapi sayangnya, belum lama usaha ini beroperasi, ujian pertama datang, perang teluk meletus sehingga kunjungan turis asing ke Bali menurun drastis, karena penerbangan dari wilayah Eropa terganggu. Beliau pun kemudian memutuskan untuk undur diri PNS, dan berkonsentrasi menyelamatkan usaha.

Berhasilkah upaya tersebut?

Tipe Ayah saya adalah pekerja keras, beliau tak kenal lelah untuk melakukan eksperimen untuk meningkatkan produk yang inovatif, dan ini yang kemudian justru menjadikan Singapadu Gallery berkembang pesat, dan ketika kondisi wisata Bali mulai kondusif, ini semakin memuluskan usahanya. Dan ketika usaha ini mulai stabil, saat itulah ayah saya memiliki waktu lebih untuk memanjakan hobinya memelihara burung, kecintaan beliau terhadap satwa inilah yang menurun kepada saya. Coba bayangkan, hampir setiap sore orang tua saya mengajak kami (Trisna dan saudara), ke pasar burung. Lama kelaman koleksi yang kami pelihara dirumah pun berkembang pesat, ini yang membangun ikatan emosional saya dengan satwa sangat kuat. Bahkan termasuk koleksi satwa langka yang dilindungi, seperti Orang Utan, Kaswari dan Walabi. Kami sangat terpukul ketika beberapa satwa langka ini kemudian di razia oleh BKSDA (Badan Konservasi Sumber Daya Alam) Bali. Saya
tidak henti-hentinya menangis, masih teringat jelas wajah-wajah orang utan yang setiap hari menemani masa kecil saya.

Hingga kemudian ayah mengajak kami untuk refreshing ke beberapa Kebun Binatang. Beliau tertegun dan tercetus dalam benaknya untuk membangun Taman Satwa. Dan kemudian pada tanggal 4 September 2002, berdirilah Bali Zoo, yang merupakan perpaduan bisnis, hobi, dan kecintaan pada satwa dan lingkungan. Sekarang, saya dan saudara merupakan generasi kedua penerus usaha ini.

Berapakah modal yang dikeluarkan untuk mendirikan usaha ini?

Usaha ini dibangun secara bertahap, sekalipun secara resmi dibuka pada tahun 2002, namun prosesnya sudah dimulai dari tahun 1999. Dari modal sendiri dan juga pinjaman bank, proporsinya kira-kira, 40% modal sendiri dan 60% pinjaman bank. Total sekitar belasan miliar untuk pendirian Bali Zoo ini.

Kebun binatang merupakan bisnis dengan model dan risiko yang tinggi, bagaimana Anda melihat ini?

Menurut saya, tidak ada bisnis yang tidak beresiko. Seperti hukum keseimbangan alam, dibalik resiko dan tantangan yang besar, juga terdapat peluang yang besar. Tapi memang, sejak awal didirikan, kami mendapatkan tantangan yang luar biasa besar. Seperti usaha Galeri orang tua, yang ketika awal berdiri mendapat tantangan dari efek perang teluk, di Bali Zoo juga sama.

Pada awal berdiri, sambutan masyarakat sangat antusias, wisatawan asing terus berdatangan. Tapi belum lama menghela nafas lega, tragedi Bom Bali I terjadi, selama 6 bulan Bali Zoo mengandalkan pengunjung domestik. Kemudian setelah pariwisata mulai pulih sekitar 2 tahunan, terjadi lagi Bom Bali II, dan ini efeknya jauh lebih dahsyat. Belum hilang rasa terkejut, hanya selang beberapa jam, pemerintah menaikkan harga BBM hingga 100% lebih waktu itu. Yang membuat daya beli masyarakat runtuh. Inilah rentetan ujian paling berat yang kami hadapi. Kegigihan Ayah yang mampu mambawa Bali Zoo bangkit, membuktikan ketangguhannya sebagai pengusaha.

Bagaimana situasinya ketika mulai dikelola oleh generasi kedua?

Pertumbuhan sudah semakin stabil, dari sisi internal, mulai ada variasi produk baru, tim manajemen juga semakin solid, apalagi dengan diperkuat oleh para konsultan yang berpengalaman. In house training yang semakin banyak, perluasan dan penambahan fasilitas Bali Zoo juga terus dilakukan. Sedangkan dari faktor eksternal, tingkat kunjungan wisatawan asing dan domestik semakin meningkat, pasar baru mulai bermuculan seperti dari Cina, India, Timur Tengah dimana daya beli mereka meningkat karena kurs dolar naik. Saat ini proporsi antara kunjungan wisatawan asing dan domestik itu 55 : 45.

Di model seperti ini, sumber daya manusia (SDM) berperan sangat vital, bagaimana dengan di Bali Zoo?

Itulah sebabnya tantangan internal kami saat ini yaitu meningkatkan mutu SDM, sebagai negara yang sedang berkembang, mutu SDM kita masih kalah jauh dengan negara lain. Saat ini Bali Zoo memiliki 252 karyawan, dan kami tengah mendorong kreatifitas sebagai budaya kerja kita. Terlebih lagi dengan pengunjung Bali Zoo yang banyak diantaranya tamu mancanegara, mereka sangat mengharapkan mutu service dan animal welfare yang tinggi. Itu sebabnya, perusahaan kami terus melakukan pelatihan dan pembinaan dalam rangka meningkatkan profesionalisme karyawan, baik untuk peningkatan SDM dan juga pelatihan untuk animal welfare yang khusus kita datangkan dari Singapura. Karena isu-isu seputar animal welfare juga mempengaruhi bisnis ini. Kalau dari faktor eksternal sendiri, perlambatan ekonomi global kami rasakan sangat berpengaruh, demikian juga pertumbuhan ekonomi dalam negeri dan situasi politiknya.

Adakah kebun binatang yang menjadi referensi acuan saat mendirikan usaha ini?

Singapore Zoo, karena kebun binatang tersebut bisa memberikan pengalaman luar biasa yang menyenangkan, dan juga memberikan edukasi kepada para pengunjungnya

Bagaimana prospek kedepan dari bisnis ini?

Sangat menjanjikan, saya sangat optimis bisa menjadikan Bali Zoo sebagai kebun binatang terbaik di Asia Pasifik, sesuai dengan misi Bali Zoo sendiri, yakni ‘Love. Conserve. Share’. Bali Zoo akan terus mengembangkan program-program baru agar pengunjung selalu merasakan pengalaman berbeda setiap kali datang kemari.

Saat ini kami sedang melakukan banyak pengerjaan proyek baru, seperti Kampung Sumatra, Bali Deer Park dan berbagai program Animal Release untuk mendukung pelestarian satwa endemic Indonesia. Juga mengembangkan program edukasi untuk anak, seperti yang sudah berjalan yakni Bali Zoo Goes To School, dengan membawa satwa ke sekolah-sekolah untuk diperkenalkan lebih dekat kepada murid-murid. Kami juga memperkenalkan program baru yaitu Breakfast with Orangutan. Semua ini kami harapkan bisa mewujudkan target kami, dimana pada tahun 2020, kita mendapatkan 3000 tamu setiap harinya.

Beralih ke soal satwa, hewan apa yang paling sulit perawatannya?

Satwa yang berjenis Primata, karena perlu ketelatenan khusus untuk merawatnya. Mereka ini sangat mirip dengan manusia. Tapi yang biaya perawatannya paling banyak adalah satwa karnivora, yang pakan utamanya daging.

Adakah kesulitan saat mendatangkan satwa-satwa tersebut?

Kesulitan ketika Bali dinyatakan siaga rabies. Pada tahun 2008 juga ada isu seperti flu babi dan flu burung, ini sangat mempengaruhi proses kami untuk mendatangkan satwa, karena otomatis keluar masuk binatang dari dan keluar Bali saat itu dibatasi. Dan ada satu harapan saya yang juga belum tercapai, yakni mendatangkan hewan-hewan Afrika ke Bali Zoo.

Apa satwa yang menjadi favorit Anda?

Kuda, karena terlihat anggun dan terhormat. Kuda adalah hewan yang sangat cerdas, dia tidak akan meninggalkan majikannya jika tidak dalam keadaan terpaksa.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *