Tuesday , January 22 2019
Home / Creator Inc / Trisna Rahanian, Owner Bali Zoo “Kalau kangen, saya akan video call dengan satwa..”

Trisna Rahanian, Owner Bali Zoo “Kalau kangen, saya akan video call dengan satwa..”

Jika merujuk pada data di Wikipedia, maka di Indonesia hanya tercatat memiliki tidak lebih dari 25 kebun binatang.

Sebagai sebuah negara yang begini besarnya, jumlah ini terang saja tidak proporsional, malah bisa dibilang terlampau sedikit. Itupun banyak diantaranya yang memang sudah ada sejak jaman Belanda, lainnya didirikan ketika era orde baru. Dan jika dihitung dalam waktu 15 tahun terakhir, jumlahnya tidak lebih dari 15 kebun binatang baru yang berdiri di Indonesia. Jumlah ini jelas berbanding terbalik dengan taman rekreasi hiburan lainnya, seperti watre park misalkan yang tumbuh subur dihampir setiap propinsi. Alasannya jelas, Kebun Binatang merupakan wahana yang paling ribet dalam hal pendiriannya mulai dari ijin keberadaan satwa, hingga kebutuhan lahan yang sangat luas, belum lagi biaya perawatan satwa yang tidak mudah dan murah. Apalagi kemudian dengan menghitung masa pengembalian investasinya yang lama, wajar jika kemudian kebun binatang bukanlah primadona bagi kebanyakan investor. Butuh alasan yang lebih dari sekedar bisnis, untuk mendorong seseorang mau menjadikan satwa sebagai ajang edukasi masyarakat. Dan ini, terjadi pada Anak Agung Gede Putra!

Berlatar belakang pendidikan jurusan peternakan, Gede Putra mengabdikan dirinya sebagai PNS dilingkungan Dinas Peternakan Provinsi Bali selama 7 tahun. Dari pilihan jurusan pendidikannya, sudah menunjukkan ketertarikan beliau pada hewan, dan burung adalah hobinya yang tak bisa di tawar. Hampir setiap hari, Gede Putra pergi ke pasar burung. Dan semakin lama, koleksi hewan peliharaannya terus bertambah, bahkan belakangan bukan hanya burung, namun juga Orang Utan dan Walabi. Sayangnya, beberapa satwa yang dimilikinya ini tergolong langka, Gede Putra pun merasakan bagaimana dirinya kemudian di razia petugas, dan hewanhewan peliharaannya pun berpindah tangan. Namun dari sinilah kemudian idenya muncul, bagaimana caranya memelihara satwa dengan legal, dan bahkan bisa menjadi ajang bisnis? Yup, kebun binatanglah jawabannya! Maka pada tahun 2002, berdirilah Bali Zoo yang berlokasi di Singapadu Gianyar Bali.

Kini, Bali Zoo sudah dikelola oleh generasi kedua, salah satunya adalah Anak Agung Trisna Dewi Rahanian. Sejak kecil, anak kedua dari 5 bersaudara ini sudah hidup ditengah satwa-satwa peliharaan orang tuanya, dan ini yang membuat ikatan emosi antara dirinya dengan satwa demikian lekat. Ia pun turut menangis ketika orang utan yang tumbuh besar bersamanya kemudian di razia petugas. Bahkan, ia akan video call dengan satwanya jika tengah berada di luar kota demi melepas rindu. Rasa cinta seperti inilah yang kemudian menjadi modal bagi lulusan Fashion Business Retail di Esmod Jakarta ini untuk membawa Bali Zoo terus berkembang. Kepada Money&I, Trisna pun bercerita lebih banyak prihal bisnis yang kini dikelola bersama saudaranya, berikut kutipannya.

Benarkah Anda melakukan video call jika kangen dengan hewan peliharaan?

Ha..ha.. hobi saya itu memang memelihara binatang, ini adalah warisan dari kecintaan Ayah saya terhadap satwa. Jika sehari saja tidak bertemu dengan hewan peliharaan, rasanya ada yang kurang, dan kalau lagi keluar kota, saya sempatkan diri untuk video call dengan mereka he..he.. Menggelikan memang bagi sebagian orang. Dan bukan cuma itu, saya juga sangat menjaga asupan makanan mereka, melakukan treatment akupuntur dan massage yang terapisnya saya langsung panggil ke rumah untuk mereka.

He..he.. so sweet. Ayah Anda memiliki kecintaan pada satwa, inikah yang menjadi fundamen berdirinya Bali Zoo?

Betul, Ayah saya (Anak Agung Gede Putra. red) memiliki kecintaan terhadap berbagai macam satwa. Beliau merupakan lulusan Fakultas Peternakan UNUD, dan selama 7 tahun mengabdikan diri sebagai PNS dilingkungan Dinas Peternakan Provinsi Bali. Tapi kemudian beliau melihat pesatnya perkembangan industri pariwisata, dan bermunculannya art shop kerajinan gold dan silver, ini kemudian menumbuhkan jiwa bisnis beliau, dan memutuskan untuk mendirikan usaha Gallery (Singapadu Gallery.red). Tapi sayangnya, belum lama usaha ini beroperasi, ujian pertama datang, perang teluk meletus sehingga kunjungan turis asing ke Bali menurun drastis, karena penerbangan dari wilayah Eropa terganggu. Beliau pun kemudian memutuskan untuk undur diri PNS, dan berkonsentrasi menyelamatkan usaha.

Berhasilkah upaya tersebut?

Tipe Ayah saya adalah pekerja keras, beliau tak kenal lelah untuk melakukan eksperimen untuk meningkatkan produk yang inovatif, dan ini yang kemudian justru menjadikan Singapadu Gallery berkembang pesat, dan ketika kondisi wisata Bali mulai kondusif, ini semakin memuluskan usahanya. Dan ketika usaha ini mulai stabil, saat itulah ayah saya memiliki waktu lebih untuk memanjakan hobinya memelihara burung, kecintaan beliau terhadap satwa inilah yang menurun kepada saya. Coba bayangkan, hampir setiap sore orang tua saya mengajak kami (Trisna dan saudara), ke pasar burung. Lama kelaman koleksi yang kami pelihara dirumah pun berkembang pesat, ini yang membangun ikatan emosional saya dengan satwa sangat kuat. Bahkan termasuk koleksi satwa langka yang dilindungi, seperti Orang Utan, Kaswari dan Walabi. Kami sangat terpukul ketika beberapa satwa langka ini kemudian di razia oleh BKSDA (Badan Konservasi Sumber Daya Alam) Bali. Saya
tidak henti-hentinya menangis, masih teringat jelas wajah-wajah orang utan yang setiap hari menemani masa kecil saya.

Hingga kemudian ayah mengajak kami untuk refreshing ke beberapa Kebun Binatang. Beliau tertegun dan tercetus dalam benaknya untuk membangun Taman Satwa. Dan kemudian pada tanggal 4 September 2002, berdirilah Bali Zoo, yang merupakan perpaduan bisnis, hobi, dan kecintaan pada satwa dan lingkungan. Sekarang, saya dan saudara merupakan generasi kedua penerus usaha ini.

Berapakah modal yang dikeluarkan untuk mendirikan usaha ini?

Usaha ini dibangun secara bertahap, sekalipun secara resmi dibuka pada tahun 2002, namun prosesnya sudah dimulai dari tahun 1999. Dari modal sendiri dan juga pinjaman bank, proporsinya kira-kira, 40% modal sendiri dan 60% pinjaman bank. Total sekitar belasan miliar untuk pendirian Bali Zoo ini.

Kebun binatang merupakan bisnis dengan model dan risiko yang tinggi, bagaimana Anda melihat ini?

Menurut saya, tidak ada bisnis yang tidak beresiko. Seperti hukum keseimbangan alam, dibalik resiko dan tantangan yang besar, juga terdapat peluang yang besar. Tapi memang, sejak awal didirikan, kami mendapatkan tantangan yang luar biasa besar. Seperti usaha Galeri orang tua, yang ketika awal berdiri mendapat tantangan dari efek perang teluk, di Bali Zoo juga sama.

Pada awal berdiri, sambutan masyarakat sangat antusias, wisatawan asing terus berdatangan. Tapi belum lama menghela nafas lega, tragedi Bom Bali I terjadi, selama 6 bulan Bali Zoo mengandalkan pengunjung domestik. Kemudian setelah pariwisata mulai pulih sekitar 2 tahunan, terjadi lagi Bom Bali II, dan ini efeknya jauh lebih dahsyat. Belum hilang rasa terkejut, hanya selang beberapa jam, pemerintah menaikkan harga BBM hingga 100% lebih waktu itu. Yang membuat daya beli masyarakat runtuh. Inilah rentetan ujian paling berat yang kami hadapi. Kegigihan Ayah yang mampu mambawa Bali Zoo bangkit, membuktikan ketangguhannya sebagai pengusaha.

Bagaimana situasinya ketika mulai dikelola oleh generasi kedua?

Pertumbuhan sudah semakin stabil, dari sisi internal, mulai ada variasi produk baru, tim manajemen juga semakin solid, apalagi dengan diperkuat oleh para konsultan yang berpengalaman. In house training yang semakin banyak, perluasan dan penambahan fasilitas Bali Zoo juga terus dilakukan. Sedangkan dari faktor eksternal, tingkat kunjungan wisatawan asing dan domestik semakin meningkat, pasar baru mulai bermuculan seperti dari Cina, India, Timur Tengah dimana daya beli mereka meningkat karena kurs dolar naik. Saat ini proporsi antara kunjungan wisatawan asing dan domestik itu 55 : 45.

Di model seperti ini, sumber daya manusia (SDM) berperan sangat vital, bagaimana dengan di Bali Zoo?

Itulah sebabnya tantangan internal kami saat ini yaitu meningkatkan mutu SDM, sebagai negara yang sedang berkembang, mutu SDM kita masih kalah jauh dengan negara lain. Saat ini Bali Zoo memiliki 252 karyawan, dan kami tengah mendorong kreatifitas sebagai budaya kerja kita. Terlebih lagi dengan pengunjung Bali Zoo yang banyak diantaranya tamu mancanegara, mereka sangat mengharapkan mutu service dan animal welfare yang tinggi. Itu sebabnya, perusahaan kami terus melakukan pelatihan dan pembinaan dalam rangka meningkatkan profesionalisme karyawan, baik untuk peningkatan SDM dan juga pelatihan untuk animal welfare yang khusus kita datangkan dari Singapura. Karena isu-isu seputar animal welfare juga mempengaruhi bisnis ini. Kalau dari faktor eksternal sendiri, perlambatan ekonomi global kami rasakan sangat berpengaruh, demikian juga pertumbuhan ekonomi dalam negeri dan situasi politiknya.

Adakah kebun binatang yang menjadi referensi acuan saat mendirikan usaha ini?

Singapore Zoo, karena kebun binatang tersebut bisa memberikan pengalaman luar biasa yang menyenangkan, dan juga memberikan edukasi kepada para pengunjungnya

Bagaimana prospek kedepan dari bisnis ini?

Sangat menjanjikan, saya sangat optimis bisa menjadikan Bali Zoo sebagai kebun binatang terbaik di Asia Pasifik, sesuai dengan misi Bali Zoo sendiri, yakni ‘Love. Conserve. Share’. Bali Zoo akan terus mengembangkan program-program baru agar pengunjung selalu merasakan pengalaman berbeda setiap kali datang kemari.

Saat ini kami sedang melakukan banyak pengerjaan proyek baru, seperti Kampung Sumatra, Bali Deer Park dan berbagai program Animal Release untuk mendukung pelestarian satwa endemic Indonesia. Juga mengembangkan program edukasi untuk anak, seperti yang sudah berjalan yakni Bali Zoo Goes To School, dengan membawa satwa ke sekolah-sekolah untuk diperkenalkan lebih dekat kepada murid-murid. Kami juga memperkenalkan program baru yaitu Breakfast with Orangutan. Semua ini kami harapkan bisa mewujudkan target kami, dimana pada tahun 2020, kita mendapatkan 3000 tamu setiap harinya.

Beralih ke soal satwa, hewan apa yang paling sulit perawatannya?

Satwa yang berjenis Primata, karena perlu ketelatenan khusus untuk merawatnya. Mereka ini sangat mirip dengan manusia. Tapi yang biaya perawatannya paling banyak adalah satwa karnivora, yang pakan utamanya daging.

Adakah kesulitan saat mendatangkan satwa-satwa tersebut?

Kesulitan ketika Bali dinyatakan siaga rabies. Pada tahun 2008 juga ada isu seperti flu babi dan flu burung, ini sangat mempengaruhi proses kami untuk mendatangkan satwa, karena otomatis keluar masuk binatang dari dan keluar Bali saat itu dibatasi. Dan ada satu harapan saya yang juga belum tercapai, yakni mendatangkan hewan-hewan Afrika ke Bali Zoo.

Apa satwa yang menjadi favorit Anda?

Kuda, karena terlihat anggun dan terhormat. Kuda adalah hewan yang sangat cerdas, dia tidak akan meninggalkan majikannya jika tidak dalam keadaan terpaksa.

 

About admin

Check Also

Trevor Zhou – “Saya ingin hidup dalam Film”

Waltz film yang mengejutkan, awalnya saya kira hanya tentang seorang ibu paruh baya yang ingin belajar dansa Waltz, seperti judulnya. Tapi dalam durasi pendek, Trevor bisa memberikan refleksi tentang ego dan amarah dengan pasangan yang didamaikan dengan hal-hal sederhana.

Misalnya mengenyahkan barang-barang yang menumpuk di tiap pojok rumah, hingga memiliki ruang dansa (masih sangat sempit karena tinggal di apartemen) dan menari bersama suaminya.

Itulah tulis Luh De Suryani seorang Blogger yang juga merupakan relawan dari kegiatan Minikino Film Week 2016. Film Waltz adalah satu dari puluhan film yang diputar pada festival film pendek kedua yang dibuat oleh Trevor Zhou, seorang movie maker, penulis dan juga aktor yang tinggal di New York. Sineas ini kelahiran Beijing, Trevor dan keluarganya pindah ke Ann Arbor. Michigan ketika ia berusia lima tahun. Kemudian kuliah di University of Michigan dan menerima gelar bachelor. Selama waktunya di perguruan tinggi. Ia belajar selama satu tahun di University of Cape Town Afrika Selatan, dimana ia fokus pada seni rupa.

Karya-karyanya berkisar proyek konseptual yang memanfaatkan banyak media termasuk elektronik, patung, keramik, cat dan pemasangan. Dia kemudian beralih ke dunia akting, tampil di sejumlah film independen dan muncul dalam iklan nasional dan regional. Trevor juga tercatat dalam kredit televisi seperti Law & order: SVU, The Blacklist Broad City dan Person of Interest. Dia juga dapat dilihat pada The Sitter dengan Jonah Hill , serta Batman v Superman; Dawn of Justice. Film pertamanya, berjudul The problem of Gravity terpilih secara resmi di sejumlah festival film. Beberapa waktu lalu, Trevor berkunjung ke Indonesia untuk mengenal lebih dekat dunia perfilman tanah air. Kepada kami, Trevor bercerita soal karirnya.

Sejak kapan Anda mencintai dunia film?

Saya suka film dari kecil, saya lahir di Beijing, film pertama yang saya tonton, tentang seorang yang menggunakan kursi roda, kemudian orang tersebut membawa pistol dan ia berkelahi dengan menggunakan pistol itu, saya mulai suka karena menonton film ini, Saya pindah ke Amerika saat berumur 5 tahun, dimana film yang saya tonton pertama kali adalah “Home Alone”

Mengapa memilih film pendek?

Saya memilih film pendek dari pada picture film, karena picture film biayanya lebih besar, saya baru membuat 2 film pendek, di film kedua, saya mengambil ide dari picture film yang panjang. Salah satunya yang barusan ditayangkan dilayar (film Waltz). Jadi film pendek itu lebih amazing menurut saya, karena tidak perlu memiliki struktur yang sama seperti fitur-fitur film yang biasanya.

Bagaimana rasanya terlibat pembuatan film kelas internasional?

Saya suka ketempat baru, ketemu orang baru, terus ada makanan baru, kebudayaan baru seperti itu. Saya suka membagikan film untuk memperkenalkan budaya saya, ke budaya sebenarnya. Kita itu merasakan hal yang sama walaupun dengan budaya yang berbeda-beda.

Apa proyek yang sedang dikerjakan sekarang?

Beberapa hari yang lalu saya ke Singapura, dan saya singgah di rumah makan, saya memperhatikan seseorang selama satu setengah jam, lalu membuatkan film dokumenter mengenai sahabat saya di Afrika Selatan.

Selain itu, saya menulis film mengenai “assassination”, pembunuh yang baru memulai kehidupannya berkeluarga, tapi film ini saya buat bersama teman saya dan sedang kami kerjakan.

Bagaimana anda melihat perkembangan perfilman di Indonesia?

Saya belum pernah melihat film Indonesia, karena itulah saya datang ke Indonesia untuk mengetahui film di Indonesia.

Adakah misi khusus sebagai pembuat film?

Saya juga ingin membuat dunia lebih baik melalui art atau film-film yang saya buat, dan saya ingin memiliki keluarga dan buah hati, serta memaksimalkan potensi pada diri saya sebagai pembuat film, dan ingin hidup hidup dalam film tersebut, tapi ini harapan yang belum saya capai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *