Tuesday , June 25 2019
Home / Insight / The Best Of You

The Best Of You

Setiap orang pasti ingin menampilkan yang terbaik dan memang seharusnya begitu. Kita harus berjuang, berusaha sampai akhir. Setiap orang pasti punya cita-cita, harapan, keinginan dan rencana kehidupan. Semua orang punya idealisme sendiri dalam menjalani kehidupan lengkap dengan tantangannya. Nah, bagaimana kalau ternyata tantangan itu justru orang terdekat Anda? Semoga sharing berikut menginspirasi.

1. Me Vs My Parent

Wah, ini jelas bukan lawan tanding yang sepadan bukan? Harus diakui, begitu Anda beranjak SMA, kuliah hingga memutuskan untuk bekerja. Mungkin hampir 80% orang tua kita akan terlibat, termasuk memilihkan jurusan apa, fakultas apa, dan yang lainnya. Salahkah? Tentu tidak. Namun bagaimana jika cita-cita Anda ingin bekerja di bank, sedangkan orang tua ingin Anda bersekolah di kebidanan. Dengan persaingan seperti sekarang, tentu sulit bagi Anda untuk mewujudkan cita-cita. Jika seandainya masih bisa bernegosiasi dengan orang tua, Anda masih bisa membicarakan antara sekolah dan cita-cita karier, namun jika tidak? Ya mau tidak mau Anda harus dapat memenuhi keinginan orang tua, dan harus dapat mengisi diri di waktu senggang untuk cita-cita Anda. latar belakang pendidikan memang tidak selalu menjamin kesuksesan, jadi cobalah selalu mengisi diri dengan berbagai skill yang berguna di dunia kerja, kelak karena akan memudahkan Anda mewujudkan cita-cita.

2. Me Vs My Boss

Setelah orang tua, tantangan selanjutnya tentu our lovely boss . Anda pasti punya pengalaman sudah kerja banting tulang tapi si bos tetap tak puas, atau Anda sudah banting tulang tapi si bos merasa memang sudah seharusnya lah Anda begitu. Anda tidak bisa membuat semua orang happy , pun begitu sebaliknya. Namun yang pasti bisa kita kontrol adalah diri sendiri. Daripada Anda bolak balik resign karena tak cocok pada atasan, bersungut-sungut karena tak dapat pujian bos, dan aneka keluhan lainnya, cobalah paham dan mengertikan maksud atasan. Si bos tidak berniat jahat, dia hanya menchallange Anda untuk maksimal dan jangan pernah menjelek-jelekkan bos Anda “sekejam” apapun dia. Selama kita bekerja, memang sudah seharusnya kita memberikan yang terbaik bukan? Dan yang terbaik tidak berarti sepenuhnya versi Anda, tapi versi perusahaan.

3. Me Vs My Friend

Dunia serasa runtuh jika ternyata ide brilian Anda untuk proyek penting di kantor disabotase teman satu tim. Anda pasti jengkel luar biasa jika justru teman Anda sendiri menggosipkan Anda kepada atasan, atau justru karyawan Anda sendiri yang menggosipkan Anda dengan atasan lain, tidak akan ada habisnya bukan? Dimana pun, sekeren apapun perusahaan Anda, sudah pasti ada saja satu atau dua orang yang berpotensi menguji kesabaran. Daripada kepikiran atau justru balas sibuk menggosipkan orang lain, cobalah bicarakan dengan yang bersangkutan, atau jika Anda tak punya “keberanian” untuk berbuat itu, ya lupakan saja, move on . Ingat, waktu kita hanya 24 jam sehari. Daripada mencari musuh, lebih baik Anda menambah teman dan jadikan selalu sebagai bahan intropeksi diri.

4. Me Vs My Soulmate

Apa jadinya jika justru soulmate tak mendukung karir Anda dan hobi Anda? boro-boro berjuang bersama menggapai citacita? Ponsel Anda selalu berdenting dan isinya hanya untuk mengecek keberadaan Anda. Semua promosi dan celotehan tentang pekerjaan atau harapan Anda selalu negatif di matanya. Waduh, dukungan orang tercinta tentu penting bagi Anda. Namun jika support itu tak muncul juga, pasti ada yang salah pengertian. Karena tak mungkin seseorang tak memberikan support tanpa alasan yang jelas. Cobalah bicarakan pada pasangan, bisa jadi karena ia tak paham pekerjaan Anda, tak paham budaya perusahaan Anda, tak mengerti pada bidang pekerjaan Anda, atau justru si dia kasihan pada Anda yang sudah banting tulang tapi si bos tetap tutup mata. Yakinlah semua bisa dibicarakan.

5. Me Vs My Self

Inilah dia tantangan terberat bagi Anda. The one and only adalah diri kita sendiri. Rasa takut gagal, takut mencoba, pasrah pada kehidupan, egois, ambisi, emosi yang meletup-letup, iri hati, tak sabaran, semua sifat dan karakter itu sungguh sulit ditangani. Belum lagi keharusan kita untuk selalu positif dan always think the bright side. Untuk menjadi the best of me, kita justru dituntut mutlak untuk bisa mengendalikan diri sendiri. Manusia tumbuh tentu harus dapat saling menginspirasi, saling memotivasi dan memberikan teladan bagi sekitarnya. Sudah pasti jika kita tak bisa mengendalikan diri, maka orang lain justru sulit memajukan kita. Memperbaiki diri sendiri adalah langkah yang paling awal untuk menunjukkan potensi diri. Create Your Own Destiny, If You Don’t, Someone Else Will (Chris Leber).

About admin

Check Also

Raih Target Market dengan Pendekatan Multi Generasi pada Bisnis Travel

Raih target market dengan pendekatan multi generasi pada bisis travel.

Mengetahui siapa target market Anda sangat penting dalam sebuah keberhasilan proses marketing dan sales. Setiap generasi memiliki cara pendekatan yang berbeda agar mereka yang awalnya adalah strangers kemudian bisa Anda konversi menjadi customer atau bahkan promoters bisnis Anda.

Anda mungkin pernah mendengar istilag generasi boomers, generas X dan generasi millenial. Generasi boomers adalah generasi yang lahir antara tahun 1946 sampai dengan 1964, sedangkan generasi X adalah generasi yang lahir antara tahun 1965 sampai dengan 1980. Generasi yang lahir setelah tahun 1980 disebut generasi millennial.

Generasi yang lebih tua biasanya lebih suka datang langsung untuk berbelanja di toko atau perusahaan Anda, sedangkan generasi pertengahan (Gen-X) lebih tech savy dan kalau berbelanja lebih memilih untuk berbelanja lewat website. Generasi millenial sudah lebih familiar berbelanja secara online. Malah sebelum berbelanja, mereka akan membandingkan dan bertanya terlebih dahulu terhadap produk yang ingin dia beli di media sosial atau situs review.

Bagaimana pendekatan pada masing-masing generasi untuk Anda yang memiliki bisnis travel? Berikut ulasannya:

Generasi Boomers

Generasi Boomers adalah orang yang memiliki ciri-ciri berikit ketika memutuskan untuk berbelanja:

  • Loyal terhadap sebuah brand
  • Ingin dilayani secara personal dan memerlukan interaksi dengan manusia
  • Lebih menghargai nilai

Untuk meraih daya beli pasar generasi boomers, Anda harus membuat mereka merasa nyaman dan percaya diri dalam membuat keputusan dalam membeli. Pendekatan dan komunikasi secara personal perlu Anda lakukan. Sebagian besar generasi boomers sudah mengetahui apa yang mereka inginkan dan biasanya jika mereka sudah merasa nyaman dengan Anda, mereka akan sangat mudah untuk loyal kepada brand Anda.

Jika Anda memiliki hotel dengan target market generasi boomers, beberapa dari mereka biasanya masih bepergian dalam rangka bisnis, walaupun ada juga yang travelling untuk rekreasi karena mungkin mendapatkan laba dari bisnisnya.

Generasi X

Ciri-ciri dari generasi X adalah sebagai berikut:

  • Lebih terbiasa menggunakan teknologi
  • Bekerja untuk hidup, bukan hidup untuk bekerja
  • Lebih sosial

Generasi X lebih suka berbelanja melalui website dari brand yang mereka sudah kenal. Jika Anda adalah salah satu orang yang termasuk dari generasi X dan ingin membeli tiket pesawat, apakah Anda akan memilih untuk datang ke kantor travel agent langganan Anda atau cukup memesannya melalui website atau email?

Saya yakin Anda memilih memesan melalui website, meskipun Anda masih memerlukan pendekatan secara personal dengan bertanya beberapa hal detail, tetapi Anda sudah menggunakan teknologi untuk melakukan hal itu.

Generasi X lebih banyak mengalokasikan uangnya untuk traveling daripada generasi boomers. Apalagi mereka yang sedang mendapatkan bonus tahunan atau laba besar dalam bisnisnya. Dalam bekerja, generasi X lebih menyukai ruang-ruang sosial daripada bekerja sendiri dalam ruang kerja. Mereka lebih memilih untuk bekerja di cafe, restaurant, lounge dan tempat-tempat lain yang memungkinkan adanya ruang untuk bersosialisasi.

Untuk mendapatkan target market dari generasi X, Anda harus melengkapi website Anda dengan sistem booking yang memudahkan kelompok generasi X cepat dalam membuat keputusan karena mereka lebih menghargai efisiensi. Selanjutnya pastikan bahwa bisnis Anda memiliki ruang untuk bersosialisasi untuk mereka. Cafe, bar, lounge dan restoran adalah tempat yang sangat tepat untuk leisure travellers. Ingat, efisiensi adalah top priority mereka.

Generasi Millenial

  • Sangat familiar dengan teknologi
  • Lebih sabar dan independent
  • Melakukan research sebelum memutuskan
  • Free Wi-Fi Access

Mereka yang termasuk generasi ini biasanya akan lebih sabar dan sebelum memutuskan untuk membeli sesuatu mereka akan melakukan research di internet terlebih dahulu. Mereka akan melakukan perbandingan dari berbagai macam pilihan opsi yang ada internet. Mereka adalah kelompok yang tidak terlalu royal dengan brand, tetapi sangat mudah merekomendasikan sebuah brand melalui media sosial jika mereka sudah sangat menyukainya. Jika ingin booking hotel atau tiket pesawat, mereka lebih suka melakukannya sendiri tanpa bantuan orang lain. Mereka tidak suka bertanya-tanya dulu sebelum membeli. Tetapi mereka lebih suka melakukan research dan melihat review terhadap sesuatu yang mereka inginkan.

Dalam beberapa tahun ke depan, generasi millenial inilah yang akan banyak. Untuk itu Anda harus sudah mulai memikirkan langkah-langkah apa yang seharusnya Anda tentukan agar bisnis Anda tidak kehilangan oppurtunity. Reputasi dan media sosial adalah kunsi Anda jika Anda ingin menargetkan generasi millenial.

Termasuk generasi yang manakah Anda? Saya adalah salah satu generasi millenial.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *