Monday , August 19 2019
Home / Role Model / Sam Walton Kejayaan Ritel Wal-Mart

Sam Walton Kejayaan Ritel Wal-Mart

Jika Anda bertanya apa nama salah satu toko swalayan atau mini mart favorit masyarakat Amerika Serikat, maka tanpa diragukan lagi Wal-Mart adalah jawabannya.

Ya, Wal-Mart merupakan perusahaan ritel raksasa di Amerika Serikat, di mana jaringan department store-nya mengular di mana-mana. Menariknya lagi, Wal-Mart membangun toko-tokonya di daerah minim persaingan. Pada tahun 2009, jaringannya mampu menghasilkan sebanyak 51% dari penjualan USD 258 di bisnis grosir. Bahkan di tahun 1990, Wal-Mart mampu mengalahkan penjualan pesaingnya, K-Mart dan juga Sears pada tahun 1991.

Wal-Mart yang berkantor pusat di Bentonville, Arkansas ini juga memiliki 10,800 toko di 27 negara, dengan di bawah 69 nama yang berbeda serta masuk ke ranah e-commerce di 10 negara. Sebut saja di Britania Raya, Wal-Mart beroperasi dengan nama ASDA, sementara di Jepang dengan nama Seiyu Dan Walmex untuk brand ritelnya di Kanada serta Meksiko. Wal-Mart juga pernah membuka toko di Jerman, namun akhirnya tutup lantaran merugi. Bahkan juga pernah berdiri di Indonesia dengan brand Supermal Karawaci, di mana nasibnya juga sama, yakni gulung tikar pada tahun 1990. Meski begitu, Wal-Mart tetap menjadi yang terdepan di Amerika Serikat.

Adalah Sam Walton, sosok penting di balik kejayaan Wal-Mart Stores, Inc. Pria kelahiran 29 Maret 1918 ini mendirikan Wal-Mart pertama kalinya pada tahun 1962. Siapa sangka orang yang mendirikan raksasa retail tersebut awalnya hanyalah seorang pemerah susu sapi serta sekaligu mengantarkannya ke rumah-rumah. Samuel Moore Walton lahir di daerah pedesaan di Kingfisher, Oklahom dan merupakan anak pertama dari pasangan Thomas Walton (seorang banker) dan Nancy Lee. Walton dibesarkan di Missouri dan mengenyam pendidikan di sana. Ia lulus dari Hickman High School di Columbia, Missouri pada 1936 silam dan melanjutkan ke jenjang perkuliahan di University of Missouri di Columbia dengan mengambil jurusan ekonomi.

Sam Walton muda sudah tidak asing dnegan lingkungan pekerja keras. Bahkan saat masih bocah, ia rela memerah susu sapid an mengemasnya ke dalam botol hingga mengantarkannya ke ruma-rumah demi mendapatkan uang saku tambahan. Pun ketika kuliah, ia juga pernah mengambil pekerjaan paruh waktu sebagai penjaga pantai, pelayan, dan bahkan pengantar koran dengan rute pengiriman ke seratus enam puluh pelanggan. Setelah menamatkan kuliahnya, Walton melamar pekerjaan di JC Penney Company, sebuah perusahaan bidang eceran tingkat kecil. Walton hanya berkarir beberapa tahun di perusahaan tersebut lantaran ia harus masuk militer untuk Angkatan Darat Amerika Serikat.

Usai Perang Dunia ke-II, Walton kembali ke kehidupannya sebagai seorang sipil. Ia bersama adiknya berwirausaha dengan mendirikan sebuah toko waralaba bernama ben Franklin di Newport, Arkansas. Modal awalnya berupa pinjaman sebesar $25.000 yang didapatkan Walton dari ayah mertuanya. Mereka sukses memperbanyak jaringan toko waralaba tersebut hingga menjadi 15 cabang. Sayangnya itu belum cukup bagi Walton, karena usahanya masih belum mampu menembus pasar di pedesaan. Itu yang membuatnya terpacu untuk membangun usaha lainnya sendiri.

Akhirnya pada tahun 1962, Walton mendirikan toko Wal-Mart pertamanya di Rogers, Arkansas. Dalam kurun waktu lima tahun, Walton memperluas jaringannya hingga 24 toko di seluruh Arkansas dan meraup USD 12.6 juta dalam penghasilannya. Pada tahun 1968, Walton membuka toko pertamanya di luar Arkansas, tepatnya di kawasan Sikeston, Missouri dan Claremore, Oklahoma. Bisnis Wal-Mart pertamanya itu begitu cepat meraih kesuksesan. Siapa yang menduga 14 tahun kemudian, Wal-Mart bertransformasi menjadi perusahaan publik dengan nilai saham mencapai USD$ 176 juta. Di awal tahun 1990 saja, nilai saham Wal-mart melonjak ke angka USD 45 miliar. Ketika negara berada dalam cengkeraman resesi, usaha Wal-Mart justru mampu bertahan dan bahkan mampu meningkatkan penjualan hingga lebih dari 40 persen.

Secara teknologi, Wal-Mart juga terbilang maju di awal tahun 1980, karena telah menggunakan Universal Product Code (barcode) untuk mengotomasi stok mereka. Bahkan pada tahun 1983, Wal-Mart mengembangkan sistem satelit pribadi yang mampu melacak truk pengiriman, akselerasi transaksi kartu kredit, pengiriman sinyal audio dan video, sekaligus data penjualan.

Visi Walton untuk membuat sebuah toko ritel diskon di daerah pedesaan berhasil diwujudkannya. Meskipun secara universal, Walton dikritik karena bisnisnya membunuh bisnis milik pengecer-pengecer kecil di dunia. Meski begitu, ia dan Wal-Mart juag berjasa dengan membuka lapangan pekerjaan untuk lebih dari 1,3 juta orang. Walton fokus terhadap penjualan produk dengan harga rendah untuk mendapatkan hasil penjualan yang lebih tinggi dengan margin laba lebih rendah. Ia mengilustrasikan hal tersebut sebagai pengorbanan bagi konsumen. Ya, Ia memang lantas mengalami kemunduran, dikarenakan tekanan harga sewa dan beli outlet-nya yang sangat tinggi. Meski begitu, ia mampu untuk menemukan suplier yang memberikan harga rendah ketimbang yang digunakan oleh toko-toko lain.

Walton mengumumkan pengunduran dirinya sebagai CEO Wal-Mart pada tahun 1988, meski begitu ia tetap aktif di perusahaan yang memiliki slogan “Save money, live better” itu hingga wafat pada tahun 1992 lantaran komplikasi penyakit leukemia dan kanker tulang sumsum yang dideritanya. Sebulan sebelum kematiannya, Walton mendapatkan penghargaan dari Presiden Amerika Serikat  kala itu, George H.W Bush berupa Presidential Medal of Freedom.

About admin

Check Also

Kevin Systrom – Si Pencipta ‘FILTER FOTO’ cantik

Masa-masa sebelum tahun milenium bergulir belum banyak diantara kita yang memiliki handphone, terutama anak-anak usia remaja.

Boleh dibilang saat itu kita masih bersahabat erat dengan telepon umum berkoin dan masih setia menggunakan jasa pak pos, because Pak Pos is our hero, terutama di daerah pinggiran. Saat itu era komunikasi masih flat dan belum ada loncatan yang extrem dari gaya berkomunikasi masyarakat. Baru sekitar 5-6 tahun belakangan ini kantong kita telah dipenuhi oleh dua sampai tiga handphone sekaligus. Lifestyle anak-anak remaja pun mulai berubah, terutama sejak fenomena jejaring sosial menjadi menu santapan sehari-sehari di berbagai belahan dunia. Persis seperti yang dinyanyikan oleh rapper berbadan tambun saykoji, On line- on line. Dimanamana selalu Online. Banyak pengamat yang mengatakan bahwa menjamurnya kaum netizen (pengguna aktif internet) karena mewabahnya jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter yang kini melanda dunia.

Melihat celah opportunity di situs jejaring sosial inilah, seorang anak muda lulusan Stanford University Amerika telah berhasil menggoreskan tinta emas kesuksesannya dalam menelurkan sebuah situs jejaring sosial dengan mengambil segmentasi berupa foto. seperti peribahasa yang pernah kita dengar, sebuah foto bisa lebih berbicara dari pada seribu katakata. sebuah foto atau gambar bisa melukiskan ribuan pesan dan maksud yang terkandung didalamnya.

Adalah sebuah terobosan yang sangat brilian dari seorang Kevin Systrom yang berhasil mencuri perhatian dunia dengan jejaring sosialnya yang diberi nama Instagram. Instagram yang diluncurkan belum lama ini, yaitu tahun 2010 telah berhasil mengubah cara pandang, berpikir dan share tentang foto-foto hasil jepretan manusia diberbagai belahan dunia. Dengan memiliki fasilitas lengkap yang memungkinkan pengguna untuk mengambil foto, menerapkan filter digital dan membagikannya ke berbagai layanan jejaring sosial lainnya termasuk milik Instagram sendiri, pengguna dimanja untuk bisa berkreasi sebebas mungkin. hampir tanpa batas. Banyak headline media yang mengupas masalah gosip dan entertainment mengambil menu dapur redaksinya sehari-hari dari situs besutan Kevin Systrom ini.

Bila menengok ke belakang, pada awalnya Kevin Systrom adalah karyawan di Odeo, perusahaan yang kelak menjadi cikal bakal Twitter. untuk menambah pengalamannya di dunia IT Kevin lalu berlabuh dan menghabiskan waktu dua tahun bekerja di Google. Pertama ia bekerja untuk mempermak Gmail, lalu memoles Google Reader dan produk-produk lainnya. Ia dikenal memiliki semangat yang tinggi saat membicarakan produk jejaring sosial yang memungkinkan orang saling berinteraksi lebih mudah dan menggabungkan antusiasmenya dalam dunia fotografi.

Tak puas mengeruk pengalaman di Google ia lantas beralih ke Nextstop sebagai product manager hingga tahun 2009. Pria yang memilih jurusan computer science dan investment science sewaktu masa kuliah ini lalu menggandeng rekan seperjuangannya yang bernama Mike Krieger dan memutuskan mendirikan Instagram di mana pengembangannya dimulai di San Fransisco, Amerika serikat. Nama Instagram sendiri dipilih karena namanya ‘berbau’ kamera. Perjuangan anak muda yang cerdas, kreatif, inovatif dan mampu melihat potensi pasar yang demikian gemuk ini tidak sia-sia.

Instagram pada awalnya hanya merambah iOs. selama beberapa waktu hanya pengguna Apple saja yang merasakan platform eksklusif dari Instagram ini. Tapi jangan Anda kira penggunanya sedikit. Dari satu sistem operasi ini saja, aplikasi yang lahir dari tangan dingin Kevin Systrom mampu meraih 30 juta pengguna.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *