Tuesday , January 22 2019
Home / Creator Inc / Ria Templer – Bali Berbagi Khasiat dan Estetika Alam

Ria Templer – Bali Berbagi Khasiat dan Estetika Alam

Sekitar pukul 9 pagi, Ria Templer selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi Utama Spice Bali, sebuah produsen untuk produk natural aromatherapy yang berlokasi di Jalan Danau Poso 57, Sanur. Siangnya ia akan menyambangi toko serupa yang outlet-nya berada di bilangan Monkey Forest dan Pengosekan, Ubud.

Rutinitas itu ia lakukan hampir setiap harinya. Bukan tanpa alasan, perempuan kelahiran 20 Agustus 1988 ini merupakan generasi kedua pemilik usaha Utama Spice Bali. Kini, ia yang bertanggung jawab dalam mengelola bisnis yang berdiri sejak tahun 1995 tersebut. Meski begitu, perempuan yang akrab disapa Ria ini tidak pernah memperkenalkan dirinya sebagai seorang owner, melainkan marketing manager. Setidaknya itu yang tertera pada kartu namanya.

Bersama rekan bisnisnya yang berdarah Australia, Skyler Grant, Ria Templer berusaha meneruskan pengembangan bisnis keluarga yang diinisiasi pertama kali oleh Ibunya, Melanie Templer. “Ketika pertama kali datang ke Bali sekitar tahun 1970-an, Ibu saya sudah jatuh cinta dengan pulau ini. Ia mendapatkan banyak pengetahuan tentang alam serta menemukan kecintaannya yang kuat terhadap tanaman dan herbal,” kenang Ria akan kesan yang pernah diutarakan Ibunya.

Ria mengungkapkan bahwa masyarakat Bali sejatinya telah memiliki pengetahuan akan herbal yang bersifat lisan dari turun-temurun. Di Bali, setiap keluarga punya ramuan boreh atau loloh nya masing-masing. Pengetahuan seperti itu yang membuat Melanie sangat tertarik untuk mempelajarinya. Terlebih dengan kekayaan alam Bali, terutama Ubud sebagai tempat domisilinya selama di Bali, yang begitu melimpah dengan rempah-rempah dan tanaman herbal.

“Sayangnya, banyak tanaman herbal Bali mulai tergeser oleh tanaman lekas panen dan bebungaan. Pengobatan tradisional Bali juga terus terdesak untuk memberikan ruang bagi pengobatan modern. Selain itu, pendirian bangunan villa, hotel, restoran, dan pemukiman yang masif juga menggeser areal persawahan,” ungakap Ria. Melanie pun berusaha mencari cara untuk melestarikan pengetahuan dan tanaman herbal Bali. Wanita berdarah Inggris ini pun bertemu dengan Dayu Suci, seorang wanita Klungkung yang juga punya passion yang sama dengannya di bidang herbal.

Melanie dan Dayu pun menghabiskan begitu banyak waktu bertukar pengalaman dan pengetahuan mengenai kearifan tanaman dan rempah, serta herbal Bali kuno. Tri Hita Karana, sebuah ajaran Hindu Bali yang menekankan pada hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Sang pencipta menjadi prinsip yang mereka pegang. Dari sana kemudian tercetus ide untuk membuat dupa dari bahan-bahan organic yang sifatnya suistainable dan tidak merusak alam.

Ria masih ingat Ibunya mengungkapkan kalau pembuatan dupa tersebut memakan waktu 2-3 tahun. “Mereka ingin membuat dupa yang sempurna dengan mengandalkan bahan-bahan herbal yang ada di seluruh alam Indonesia. Mereka enggak pakai sandalwood, karena mereka tak ingin merusak hutan. Lem yang digunakan untuk dupa adalah bagian tersulit yang mereka pernah kerjakan. Mereka memanfaatkan ­arang kelapa, rempah-rempah, hingga getah tanaman, “ terang Ria sambil memperlihatkan dupa buatan Ibunya tersebut.

Setelah sukses dengan eksperimen dupanya pada tahun 1989, banyak permintaan yang lantas menghampiri Ibunya, seperti membuatkan lotion atau sabun untuk menghilangkan penyakit kulit. Bahkan sebuah ramuan obat nyamuk yang memanfaatkan bahan herbal juga lahir dari tangan Melanie. “Saya masih ingat produk itu dibuat untuk anjing saya yang awalnya dikerubungi serangga saat ia sakit akibat terkena gigitan ular. Ibu saya kasihan dengan anjing saya itu dan mencoba menciptakan obat pengusir serangga,” jelasnya.

Sebelum menjadikannya PT Supa Dupa Spice pada tahun 2000, Melanie belum serius mengarahkan seluruh produk buatannya ke dalam dunia bisnis. Pertemuannya dengan Saraswati, seorang wanita berkebangsaan Amerika Serikat lah yang membuatnya terpikir untuk melabeli sebuah brand khusus untuk produk herbal ciptaannya. “Tahun 1995, Saraswati datang ke rumah dan menemui ibu saya. Ia bersemangat sekali memesan produk herbal buatan Ibunya. Kebetulan, ia punya usaha butik dan spa di Amerika. Ibu saya enggak mikir saat itu bisa jadi bisnis, karena ia melakukan semua itu karena hobi saja,” tutur Ria yang pernah mengenyam pendidikan hukum di London.

Alhasil, logo dan brand Utama Spice Bali pun mulai dirancang Melanie, di mana sarat dengan makna filosofi kehidupan dan alam. “Utama Spice dijadikan nama brand kami, karena merujuk dari posisi Indonesia sebagai pusat penghasil rempah-rempah utama di dunia. Desain logo menjadi sebuah refleksi dari apa yang kami perbuat selama ini lewat Utama Spice,” imbuh anak pertama Melanie ini.

Secara perlahan tawaran dari hotel dan villa di Ubud pun banyak berdatangan ke Utama Spice. Rata-rata mereka meminta Ibunda Ria untuk membuatkan semacam research development bagi keperluan produk spa mereka. “Dari situ kemudian berkembang dan semakin banyak yang tertarik, baik masyarakat maupun pemerintah. Semuanya serba dari mulut ke mulut.

 

Sang Penerus

Ketika peristiwa Tsunami di Aceh pada tahun 2004, ibunda Ria memutuskan untuk pergi ke Aceh dan membantu pemulihan korban di sana. Melanie pun melepaskan diri dari bisnis Utama Spice dan menyerahkannya tanggung jawab sepenuhnya pada tim manajemen. “Ibu saya rasa sosialnya sangat tinggi. Ia pergi ke Aceh dan membangun klinik persalinan dan membantu petani setempat,” ucap Ria.

Sepeninggal Melanie, manajemen Utama Spice mengalami sedikit persoalan. Ketika Ria mengetahuinya, ia pun berinisiatif mengajak rekannya Skyler yang punya latar belakang pendidikan bisnis untuk mengambil alih manajemen Utama Spice dan melakukan perombakan yang signifikan terhadap tubuh organisasi di dalamnya. “Saya merasa bisnis ini telah melakukan banyak hal-hal yang baik dan saya merasa berkewajiban untuk meneruskan mimpi-mimpi ibu saya. Sejak kecil, saya diberi pengetahuan tentang herbal dan aromatherapy. Saya pun lihat sendiri bagaimana kerja ramuan tersebut,” ujarnya.

Dengan merevitalisasi tubuh organisasi di dalam manajemen Utama Spice, Ria pun akhirnya bisa membentuk sebuah tim yang solid dengan kultur kerja dan brand loyalty yang baik. Selain manajemen, Ria mulai fokus mengangkat kembali brand Utama Spice Bali ke permukaan. Jika sebelumnya Utama Spice kerap membantu membuatkan produk untuk brand spa atau pun aromaterapi perusahaan lain. Kini, Ria ingin menonjolkan produk dengan brand Utama Spice Bali itu sendiri.

“Brand kita fokus untuk lifestyle, terutama mengangkat konsep aromatherapy untuk spa dan estetika. Memang sekarang banyak produk skincare di luaran sana, tapi Utama Spice membuatnya berbeda dengan fokus terhadap healthy lifestyle dan natural lifestyle, “ kata perempuan yang berdomisili di Sanur ini.

Demi memperkuat branding Utama Spice. Ria mulai ketat melakukan quality control produk, berkreasi dnegan product packaging, serta melengkapinya dengan sertifikasi dari uji lab BPOM dan Departemen Kesehatan. Target pasarnya pun mengarah kalagan remaja usia 20 tahun hingga dewasa 50 tahun. Ria pun kini lebih cenderung memaksimalkan pemasaran lewat online, seperti social media maupun blog untuk menarik antusiasme pasar lokal. Tercatat 44 stockists tersebar di seluruh Bali, Jakarta, Bandung, Jogjakarta, dan Balikpapan. Bahkan ekspor juga dilakukan Utama Spice ke Australia, Amerika, Eropa, Afrika Selatan, dan Rusia

Menariknya lagi, keberadaan Utama Spice mampu memberikan lapangan pekerjaan bagi penduduk lokal. Dari yang awalnya hanya 20 pekerja berkembang menjadi 50 pekerja, di mana kebanyakan pekerjanya merupakan perempuan muda Bali di bawah usia 30 tahun dari desa-desa sekitar. “Ibu saya sangat bahagia kalau bisnis ini bisa berjalan dan bisa memberi nafkah kepada sejumlah pekerja lokal,” tegas Ria.

 

Estetika dan Pengobatan

Produk lotion, sabun, lip balm, hingga obat pengusir nyamuk menjadi primadona di Utama Spice. Ria juga mengatakan bahwa Utama Spice juga tengah mengembangkan produk berbahan organic yang bisa dijadikan sebagai pengepel lantai, sabun cuci piring, laundry, dan juga spray aromatherapy ruangan.

Utama Spice tidak semata menghasilkan produk untuk estetika, tetapi sebagian besar bermanfaat untuk healing. Di tengah-tengah gencaran produk anti-aging berbahan kimia yang dijual secara massal di pasaran, Utama Spice berusaha mengedukasi customer tentang healthy living lewat produknya. Produk Utama Spice memberi efek anti-aging yang lebih lama dan baik untuk kesehatan kulit.

Produk yang dijual pun sangat terjangkau, yakni kisaran 16 ribu rupiah sampai 500 ribu rupiah. “Kita berusaha buat se-affordable mungkin, dan kita bikin lebih simpel untuk harga produksi minim. Kita berusaha 90 persen bahan dari lokal, dan untuk beberapa yang belum kita punya teknologinya dibeli dari luar,” katanya. Ria menegaskan bahwa hampir semua produk yang diciptakan ibunya di Utama Spice Bali berangkat dari keinginan untuk membuat sesuatu serta bersama misi pelestarian alam.

“Kami bekerja dengan produk yang 100% alami dan dibuat dengan tangan, sangat penting bagi setiap permukaan untuk terbuat dari stainless steel dan steril, untuk menghindari kontaminasi silang. Kami percaya bahwa proses penciptaan perlu dilalui dengan sepenuh hati. Ketika kita memberikan seluruh hati, energi, dan hasrat kita—semua ini akan terlihat dan membuat perbedaan dalam produk yang kita hasilkan,” terangnya.

Ria ingat bagaimana ibundanya tidak pernah mau memakaina ia dan adiknya dengan sabun atau lotion di pasaran, malah Melanie membuatnya sendiri dari bahan alam tanpa muatan kimia. “Beliau selalu berusaha untuk membuat lebih baik. Bukan semata-mata bisnis, tetapi kecintaan ibu terhadap alam, pelestarian, dan pengetahuan. Juga melestarikan para petani Bali, di mana kita support mereka dan meminta mereka untuk menanam tumbuhan asli bali agar tidak cepat punah,” katanya.

Utama Spice Bali memiliki sebuah lahan seluas 6 are di daerah Andong, Ubud yang bisa mereka tanami tumbuhan sejenis kumis kucing, sereh, bunga celeng, bunga pucuk, temu-temuan, jahe, cekuh, daun gajah, dan berbagai macam bunga. “Sekarang sangat terasa sudah banyak tanaman herbal yang hilang. Dulu pas kecil masih bisa lihat sawah dan kunang-kunang. Sekarang sudah tergantikan banyak bangunan,” tambahnya.

Lewat Utama Spice Bali, Ria ingin membuktikan bahwa bukan tidak mungkin menggabungkan sustainable, ethical, dan factory business. “ Cara dunia kita mengonsumsi sekarang ini sudah terlalu banyak mengambil dari alam. Mereka tidak memikirkan bagaimana caranya membuatnya seimbang, karena suatu nanti kita tidak mungkin akan terus mengambil saja,” ujar wanita yang hobi traveling ini. Untuk itu Utama Spice berusaha membuat produk terbaik dengan menggunakan bahan-bahan yang sifatnya sustainable.

Dalam waktu dekat, Ria akan membuka satu outlet lagi di Ubud dan berencana membuat semacam workshop khusus bagi para pengunjung di sana, agar mereka bisa langsung terlibat dalam pembuatan produk Utama Spice. Selain itu ia dan Skyler juga tengah mengembangkan sebuah teknik aquaponic, agar tanaman herbal mereka lebih cepat tumbuh serta kualitasnya lebih baik.

About admin

Check Also

Damayanthi “Ogek” Putri Suardana – Move On dengan MOV

Keisengan anak muda adalah kreativitas yang dicari dunia. Bukankah sudah banyak bukti, pencipta media sosial yang sekarang seakan mengendalikan dunia maya facebook.

Awalnya adalah keisengan Mark Zuckerberg untuk membuat komunitas digital di kampusnya. Tapi yang kita lihat sekarang adalah perusahaan dengan harga saham yang selangit, mengakuisisi beberapa perusahaan teknologi dan menjadi korporat raksasa di dunia.

Tak hanya satu contoh saja, ada Evan Spiegel pencipta aplikasi Snapchat dengan keisengannya untuk mengejutkan seorang temannya. Ilkaa Pananen, si seniman yang menuangkan seni dalam game sejuta umat, COC. Tony Hsieh dengan keinginannya menjual sepatu via online yang tak terpikirkan waktu itu. Dan satu lagi penemu Virtual Reality, Palmer Luckey, bocah berusia 19 tahun yang ingin masuk dunia game. Bukankah semua adalah sebuah keisengan dan imajinasi yang tak terpikirkan sebelumnya?

Namun di tangan anak-anak muda itulah dunia berubah. Era Globalisasi adalah sebuah era yang memberikan kesempatan manusia sama rata. William Tanuwijaya, founder Tokopedia.com mengatakan, “era Internet membuat seorang underdog pun memiliki kesempatan yang sama seperti kesempatan para juara.”

Ini yang menjadi bagian dari sebuah kisah hidup dara manis kelahiran Denpasar, 29 maret 1994 silam. Berawal dari ketidakpuasan akan model sepatu yang kerap kali ia jumpai di toko sepatu biasa, dan keisengannya untuk mendesain sepatunya sendiri, kini ia merintis toko online sepatu buatan tangan dan desain dari dirinya sendiri.

Ia bertutur, “awalnya saya susah mendapatkan sepatu yang pas dengan kaki saya yang berukuran lumayan besar 26 cm. Lalu iseng-iseng buat sepatu untuk digunakan sendiri, ternyata teman-teman banyak yang suka. Akhirnya memutuskan untuk berjualan handmade shoes.

Gadis yang bernama lengkap Damayanti Putri Suardana ini sebelumnya bukanlah seorang yang dibilang biasa-biasa saja. Ia adalah anak dari Prof.Dr. IB. Raka Suardana, guru besar di Universitas Udayana dan Gusti Ayu Sri Ardhini yang berprofesi sebagai wartawan.

Dengan bibit, bebet dan bobot yang begitu meyakinkan, Ogek, begitu sapaannya, dikenal memiliki segudang bakat dan prestasi. Siapa sangka gadis manis ini memiliki bakat bernyanyi ketika SD. soal bakat tarik suara ini, ia memiliki kenangan yang begitu spesial. Di usia 10 tahun, atau duduk di Kelas IV SDK Harapan, Ogek mendapat kesempatan menyanyi di Istana merdeka. Tidak tanggung-tanggung, Ogek menyanyi di depan Presiden RI, waktu itu Ibu Megawati Soekarnoputri. ”Pengalaman yang tidak mudah dilupakan, bisa nyanyi di depan Presiden, bisa langsung tatap muka dengan pemimpin negara tercinta ini,” kenangnya. Ogek juga pernah menyandang predikat Delegasi Anak Badung 2010, Duta Endek 2012, Puteri Bali Berbakat 2015 dan segudang prestasi lainnya.

Kini Jebolan Ilmu Komunikasi Universitas Udayana tersebut disibukkan dengan keisengannya yang malah menjadikan ia semakin sukses. Yups, mendirikan toko sepatu di tahun 2012 lalu, sekarang Ogek mulai kebanjiran order dari seluruh penjuru, bahkan sampai datang dari Negeri Jiran Malaysia.

Toko sepatu online yang ia beri nama MOV shoes tersebut kini sedang terfokus pada penjualan via online dengan memanfaatkan akun Instagram @MOV_id yang memiliki 20.000 followers lebih. Di sela-sela kesibukannya berbisnis, Ogek juga sibuk mengerjakan tesis untuk gelar masternya di Universitas Airlangga Surabaya. Bagaimana gadis cantik ini memulai bisnisnya, berikut adalah paparan wawancara kami bersama Ida Ayu Damayanthi Putri Suardana.

Sekarang sedang sibuk apa?

Kalau sekarang sih, masih kuliah master di Airlangga Surabaya. Ya, sambil mengembangkan usaha juga. Itu aja sih, sesekali juga jalankan hobi, travelling, jalan-jalan.

Bisa ceritakan sedikit tentang diri Anda?

Lulus dari SMA Negeri 5 Denpasar, terus lanjut kuliah di s1 Ilmu Komunikasi Undiknas Denpasar, dan sekarang sedang mengambil s2 di Universitas Airlangga Surabaya. Saya anak ke 2 dari 4 bersaudara, Ayah saya Prof IB Raka Suardana, beliau Guru besar di Universitas Udayana. Kalau ibu, Gusti Ayu Sri Ardhini, profesinya wartawati.

Awal mula mengembangkan toko sepatu online seperti apa, karena keluarga Anda dari kalangan akademisi?

Ceritanya sih iseng aja. Awalnya saya susah mendapatkan sepatu yang pas dengan ukuran kaki saya yang lumayan besar, sizenya 26 cm. Lalu iseng-iseng buat sepatu untuk digunakan sendiri, ternyata teman-teman saya banyak yang suka. Akhirnya memutuskan untuk berjualan handmade shoes. Mula-mula buka pre-order wah ternyata laku keras. Dan akhirnya sekarang sudah buka yang ready stock.

Memang sedari kecil ingin berwirausaha?

Yups, emang dari SMP. Saya itu suka jualan, mulai dari MLM sampai Palaguda, ‘Apa Lu Mau Gue Ada’. hahaha, jadi macem-macem saya pernah jual.

Kenapa memilih nama MOV Shoes?

Awalnya brand ini belum terbentuk. Saya memulai usaha handmade shoes ini di tahun 2012. Nah waktu itu belum ada brand nih, di pertengahan tahun 2013 baru kepikiran untuk buat brand, karena udah mulai banyak yang pesan. Cari-cari, eh akhirnya ketemu kata ‘move’. Akhirnya saya singkat menjadi MOV berasal dari kata move, artinya pindah. Pindah dengan melangkah. melangkah bersama MOV, he.. he.. he..

Berapa keuntungan per bulan?

Tergantung ya, kadang bisa sepi kadang bisa ramai, kalau ada bazar biasanya jauh lebih banyak.

Bagaimana dengan desainnya?

Semua sepatu yang ada di MOV shoes adaah desain dari saya. Namanya juga handmade shoes ya, jadi memang benar-benar buatan tangan. Tapi untuk produksi, saya punya karyawan untuk itu.

Sekarang sudah berapa karyawan?

Untuk karyawan di bagian administrasi ada 2 orang, sementara di bagian produksi ada 3 orang. Apa pernah sampai ekspor ke luar negeri? Bukan ekspor sih, tapi kita sih pernah shipping sampai Malaysia.

Kenapa enggak pakai marketplace seperti tokopedia, bukalapak dan lainnya?

Ya untuk sementara saya manfaatkan akun Instagram dan beberapa sosial media. Dan baru-baru ini kami lagi mau masuk Berrybenka, doakan yah.

Bagaimana tanggapan Anda tentang kompetitor di bisnis ini?

Wah, kalau saya sih memandang kompetitor seperti ini, kompetitor itu bikin saya makin kreatif dalam mengembangkan model sepatu kami. Karena apapun usahanya, pasti selalu ada kompetitor, yang penting bersaing secara sehat saja. Begitu sih menurut saya

Siapa mentor Anda?

Ibu, beliau selalu mendukung saya, kadang malah ibu yang suka excited buat model baru dan beli display untuk sepatu, ha..ha.. ha..

Apa kutipan favorit Anda?

Motivation is what gets you started. Habit is what keeps you going, ini quote dari Jim Rohn.

Harapan-harapan Anda ke depan?

Semoga bisa makin dikenal masyarakat luas, dan pastinya bisa export beneran keluar negeri juga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *