Thursday , July 18 2019
Home / Creator Inc / Reza Arganata – Trik Skateboard dengan mengubahnya menjadi Kacamata

Reza Arganata – Trik Skateboard dengan mengubahnya menjadi Kacamata

Suka extre,e sport? Kalau iya, biasanya punya jiwa militan dengan olahraga tersebut. Ada macam-macam bentuknya, mulai dari BMX, Surfing sampai dengan Parkour. Salah satu yang diminati anak-anak muda adalah Skateboard.

Olahraga ini masuk dalam kategori ekstrem, karena resikonya yang tidak ringan taruhannya, tapi juga papan luncur yang kita gunakan. Alhasil para penyuka olahraga ini biasanya harus pasrah jika melihat skateboardnya patah atau rusak karena mencoba trik-trik baru.

Hal yang sama, terjadi pada Reza Arganata. Pemuda kelahiran Denpasar, 22 Desember 1993 ini merupakan mahasiswa akhir Desain Komunikasi Visual Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar. Penggila olahraga skateboard dan kerap mendapati papan luncurnya menjadi korban dari percobannya menjajal trik-trik baru, alhasil koleksi papan luncur rusak di rumahnya menjadi bertumpuk. Bingung dengan kondisi itu, dan merasa sayang jika harus membuangnya, ia pun kemudian mendapatkan ide unik. Pada tahun 2015, ia mendapat ide untuk merubah papan luncurnya menjadi kacamata dengan konsep desain yang unik. Dan hebatnya, keisengannya in bukan saja memproduktifkan barang bekas yang dimilikinya, namun juga menjadi ajang untuk cari duit. Akhirnya, ia mendirikan usaha dengan brand Cik Eye. Kepada reporter Money&I Angga Wijaya, ia bertutur tentang kisahnya.

Bagaimana awalnya memulai usaha ini?

Awalnya karena suka main skateboard, dan banyak papan yang saya miliki itu rusak dan nggak terpakai, daripada dibuang sayang, saya mulai browsing di internet, buat cari ide, mau diapakan papan-papan bekas ii. Disitulah saya kemudian lihat, ada kacamata yang terbuat dari papan luncur bekas, lalu saya ingin mencoba membuatnya dengan alat-alat manual dan ternyata berhasil.

Kok bisa papan-papan itu rusak?

Saya suka melakukan berbagai trik menantang di papan seluncur, nah hal itu yang bikin cepat rusak. Dan akhirnya beli lagi, yang lama numpuk dan tak terpakai. Terus dapat ide untuk merecycle papan-papan yang rusak itu.

Apakah dari stok papan yang rusak itu cukup untuk produksi?

Untuk awal memang pakai dari papan-papan sendiri yang sudah rusak, tapi sekarang saya mengumpulkan dari beberapa punya teman, yang ngalamin kondisi yang sama. Papan-papan rusak mereka yang numpuk, saya ambil.

Kapan mulai menjalankan hal ini?

Sekitar akhir tahun 2015. Tadinya tidak mau dibisniskan. Kebetulan saya memang suka mengkoleksi kacamata dan kacamata yang berhasil saya buat dari papan yang rusak, saya pakai sendiri. Teman-teman kemudian melihatnya, memang langsung tertarik dan menyarankan untuk dijadikan bisnis.

Ada nama mereknya?

Ada, Cik Eye. Nama itu berasal dari panggilan saya, yakni “Cik” itu julukan dari teman-teman, karena menurut mereka wajah saya mirip orang Tionghoa hee..hee

Sistem bisnisnya seperti apa?

Saat ini masih custom order, belum ready stock. Saya memasarkan kacamata ini melalui sosial media seperti instagram.

Bagaimana respon pasar ketika mulai dijual?

Respon masyarakat sangat bagus, jumlah pemesan semakin meningkat apalagi setelah beberapa stasiun televisi datang dan mewawancarai saya. Mereka melihat keunikan kacamata yang saya buat. Sejak ditayangkan di televisi, jumlah pemesan semakin banyak terutama dari luar Bali.

Media mana saja yang sudah meliput?

Ada Net TV, MNC dan beberapa media lainnya.

Sulitkah membuat kacamata ini?

Pertama-tama saya membuat desain kacamata di kertas stiker, lalu menempelkannya di papan luncur. Setelah itu papan dipotong dan dibentuk sesuai desain. Proses selanjutnya menghaluskan dengan amplas, kemudian mencatnya dengan pernis. Langkah terakhir adalah pemasangan lensa dan engsel kacamata.

Berapa lama waktuyang dibutuhkan untuk membuatnya?

Pembuatannya cukup lama, sekitar tiga hari dari proses awal sampaijadi.

Anda hanya memberinya finishing pernis, tidak mewarnainya?

Ini yang menarik, tidak perlu penambahan warna pada produksi kacamata ini. Karena setiap skateboard sudah memiliki alur warna masing-masing. Hanya diberikan pernis saja, maka jadilah warna unik pada kacamata ini.

Apa tantangannya dalam memproduksi ini?

Ketelitian. Kesulitan yang ada terutama saat pembentukan, perlu ketelitian yang tinggi dalam proses tersebut.

Soal harga bagaimana?

Harga kacamata mulai dari Rp. 600.000 hingga Rp. 800.000 tergantung jenis lensa dan tingkat kesulitan pembuatan. Bisnis kacamata ini bisa dibilang tidak terduga, karena berawal dari hobi.

Bagaimana kesan Anda?

Terus terang saya terkejut karena tak pernah terpikir bisa mengawali bisnis yang dimulai dari hobi. Dan ternyata saya menjalaninya sekarang.

Apa harapan Anda kedepan?

Saya berencana membuat bengkel atau workshop sendiri, karena saat ini saya memakai garasi rumah untuk bengkel kacamata ini. Saya juga ingin kacamata saya menembus pasar lua negeri dan Go Internasional.

About admin

Check Also

Amelia Layata – Jelita Perkasa Di Bisnis Para Pria

Wanita yang memiliki prinsip harus selalu sukses ini, kemudian mengambil langkah panjang untuk menjadi the new revolutionary inventor, salah satunya ia aplikasikan melalui bisnis yang  bernama Home Solutions.

“Saya membuka usaha ini karena melihat potensi yang bagus untuk dikembangkan dalam bisnis material finishing,” ungkapnya ketika kami menanyakan apa alasan ia memilih membangun bisnis dalam bidang home property.

Usaha yang ia bangun dari nol sejak akhir tahun 2012 silam ini, sekarang menjadi perusahaan yang memiliki idealisme tinggi dari culture yang ia bawa dari Amerika. “kami akan memberikan pelayanan yang terbaik, dan saya selalu mempriorotaskan kualitas daripada kuantitas, “tuturnya lagi. Saat kamu bertandang ke kantornya di Jalan Sunset Road. Kami disapa senyum ramah oleh seluruh karyawannya. Wanita yang kerap disapa Amel berwirausaha dari usia muda. Berikut adalah kutipan wawancara reporter kami Singgih Wiryono di kantor Home Solutions.

Bagaimana Anda memulai usaha ini?

Di mulai sejak tahun 2012, kalau tidak salah enam bulan setelah kelulusan saya dari Seattle University. Saya tertarik karena waktu itu saya langsung melihat ada potensi yang besar untuk mengembangkan usaha ini. Potensi bagus untuk mengembangkan bisnis bangunan terkait material finishing. Dan kebetulan, orang tua saya memang sudah 30 tahun bergelut di bidang bangunan, sedikit banyak saya mendapat masukan untuk memahami bidang ini.

Saya jadi belajar banyak dari orang tua. Dan ini artinya saya memiliki orang-orang terdekat yang memahami bisnis tersebut. Selain suami juga lulusan interior design di universitas yang sama dengan saya.

Potensi apa yang Anda lihat untuk dikembangkan?

Saya menyebutnya New Revolutionary Invention, sebuah invention yang bagi saya adalah sesuatu yang tidak akan tercipta lagi, dalam artian sebuah pengembangan. Seperti contohnya bola lampu, Alva Edison adalah seorang penemu bohlam pijar pertama di dunia. Setelah itu, tidak ada lagi penemu lampu, tapi yang ada adalah mengembangkan ide lampu tersebut. Berkembang dari pijar menjadi hologen, kemudian menjadi fluorescent, lalu HID dan yang terbaru adalah LED yang penemunya sendiri adalah orang Indonesia yang sekarang berada di Amerika Serikat, namanya Nelson Tansu. Ini adalah contoh evolusi perkembangan lampu dari masa ke masa. Itulah yang saya bilang sebagai inovasi baru, dan hal ini selalu tertanam di benak saya.

Aplikasinya dalam bisnis Anda?

Di Home Solutions, customer akan merasakan sensasi yang berbeda di antara yang laiin. Dari cara pelayanan kami yang ramah, cepat dan konsisten. Intinya, bidang bisnis ini saya jadikan terasa berbeda. Kami biasanya melayani pelanggan dengan cara yang profesional, tidak akan membedakan pelanggan yang membeli satu atau membeli banyak, kami akan melayaninya sepenuh hati.

Kami juga akan terus memfollow-up apa yang menjadi keinginan customer. Di sini lah kami akan terus berinovasi, dari sisi kualitas pelayanan, kualitas barang yang kami sediakan dan kualitas jasa yang kami sediakan.

Ketika Anda di Amerika Serikat, Anda sempat berwirausaha juga?

Banyak mitos yang bilang, anak terakhir itu anak yang manja dan penakut. Tapi saya berusaha menepis itu. Sedari SD saya menjadi murid yang aktif dan bisa dibilang jadi kesayangan guru-guru. Saya hobi olahraga, ketika SMP sudah aktif terpilih menjadi pemain basket putri, sepak bola, kasti sampai estafet. Setelah masuk SMA, saya melanjutkan sekolah di Senior High School di Seattle Washington. Di sana saya mulai berkenalan dengan budaya Amerika yang praktis. Dan ini membuat saya menjadi benar-benar mandiri. Di tahun kedua, saya belajar berwirausaha dan bekerja di kantin sekolah. Jadi  sempat merasakan bagaimana memberikan pelayanan kepada customer. Jadi ya, saya sudah belajar berbisnis sejak SMU.

Siapa panutan Anda dalam berbisnis?

Jelas orang tua saya, beliau adalah guru terbaik. Tapi jika ditanya selain orang tua, jawabannya adalah Brian Tracy. Buku-buku Brian adalah sumber inspirasi bagi saya, buku-bukunya sangat membantu untuk menentukan langkah-langkah ke depan sebagai seorang leader di perusahaan. Dan yang terpenting adalah ibu saya. Beliau seorang wanita tangguhm banyak mengajari saya untuk menjadi pemimpin, komitmen di setiap keputusan dan tindakan, gigih, bertanggung jawab, tegas namun juga rendah hati.

Seperti apakah bisnis orang tua sebelumnya?

Usaha orang tua itu sudah beroperasi sejak tahun 1979. Usaha orang tua saya ini masih konvensional, tetapi dalam konteks yang sedikit berbeda, karena bisnis orang tua memiliki konsep yang terus berubah menyesuaikan dengan market yang ada, walaupun secara kasat mata terlihat tidak moderen.

Anda melakukan modernisasi, apakah terpengaruh oleh IKEA, Depo Bangunan atau Ace Hardware?

Konsep Home Solutions itu memperbaharui dan mengevolusi bisnis orang tua saya sebelumnya. Karena bisnis orang tua saya sungguh berpotensial, dan saya diberikan kesempatan untuk membuka sendiri dengan style saya sendiri. Saya kemudian diberikan lokasi untuk buka usaha dan langkah awal saya adalah mencocokkan anatar lokasi tersebut yang berada di kawasan Seminyak Sunset Road ini, dan apa yang bisa dijual. Dikombinasi dengan apa yang sudah saya pelajari dan alami semasa saya kuliah di luar, dimana segala sesuatunya sangat praktis, organize dan mengutamakan service kepada customer.

Mengenai konsep, saya tidak meniru IKEA, Depo Bangunan atau Ace Hardware, dikarenakan kita bergerak dibidang, cara dan lingkungan yang jelas berbeda. Kalau mereka, menurut saya self-service ya, customer belanja seperti  di grocery store, kalau di Home Solutions, full assitance, customer bisa duduk dengan tenang, dan di-assist keperluannya, pilihan material yang cocok sesuai dengan kebutuhan mereka dari nol. Dan kami selalu keep in touch dengan customer sampai project mereka selesai.

Jadi saya bisa bilang, kalau kami bukan terpengaruh, tapi lebih tepatnya adalah mempelajari, konsep-konsep apa yang sudah diterapkan oleh company lain, memiliki kelebihan dan kekurangan apa saja. Dengan memahami dan mempelajari, saya bisa melihat dampak positif soal ide-ide baru yang bisa saya kembangkan untuk Home Solutions. Lalu mencari yang suitable untuk diterapkan di sini. Karena kadang di company lain hal tersebut positif, belum tentu di tempat saya juga akan sama. Begitu pula sebaliknya.

“Prinsip ini meminta setiap karyawan untuk bertindak langsung dengan realitas situasi yang ada saat itu juga, berdasar fakta, realitas, dan bukan harapan, keinginan atau asumsi semata.” – Amelia Layata –

Konsep full service seperti yang anda lakukan ini, apakah biaya operasionalnya tidak mahal?

Tidak sih, dengan melakukan cara ini, kami malah bisa memikirkan hal lain, meningkatkan sales dan membuka cabang di tempat lain loh. Karena tenaga dan otak kami tidak habis untuk mikirin hal yang itu-itu saja, sehingga kami bisa memikirkan banyak hal. Ya tentu untuk kemajuan perusahaan. Saya saja capai melihat orang tua yang sampai sekarang masih khawatir masalah order, check stock, memberi harga pada customer, takut stoknya diambil karena tidak memiliki sistem seperti saya. Malah dalam waktu dekat, orang tua saya mau mencontoh sistem ini loh.. lagian sekarang internet juga sudah bisa sharing untuk satu perusahaan. Selain itu, customer saya 80% foreigners, dan mereka sangat nyaman dengan cara kami melayani, yang berbahasa fasih dengan mereka. Dan mereka prefer untuk email atau whatsapp. Jadi sebenarnya kalau bicara biaya, justru tidak banyak.

Darimana ide melakukan modernisasi layanan seperti ini?

Saya dan suami memang suka technology dan sangat admire Steve Jobs. Jadi kami mau segala sesuatunya itu advance dan berteknologi. Dan saya mau perusahaan ini terus bertumbuh seperti Apple. Dan bukan bisnis yang hanya dikenal dalam hitungan tahun saja. Saya ingin ini terus jalan sekalipun saya sudah tidak efektif untuk bekerja, diusia 40-an misalnya. Jadi tetap ada penerus usaha ini dari generasi lebih muda. Dan tetap tercipta sesuatu yang baru untuk dikembangkan.

Apakah konsep ini linier dengan kenaikan omset?

Tentunya, saya bahkan menyalip saingansaingan lama. Padahal saya baru banget di bidang ini, anggap saja baru 3 tahun-an efektifnya. Jadi untuk omzet kami stabil, walaupun ada penurunan, tapi dihari lainnya sudah bisa ter-cover.

Selama 4 tahun ini, bagaimana proses pertumbuhannya?

Kalau dari jumlah karyawan tidak banyak berubah, sekarang ini kita beroperasi dengan 10-11 an orang. Mobil saja kita juga cuma punya satu untuk pengiriman. Karena sistem yang moderen ini-lah kita bisa seperti ini. Bahkan karyawan pun masih punya waktu luang kok. Cara kita melayani customer, sungguh-sungguh dimengerti sehingga mereka appreciate integritas kita.

Selain dari sisi layanan, apa outstanding move yang Anda lakukan?

Tahun pertama saya masih berusaha membuat sistem yang sesuai kemauan, yang cocok dengan perusahaan. Sehingga customer cukup datang sekali saja. Selanjutnya mereka tinggal order melalui mail atau WA. Mereka tinggal transfer untuk pembayaran, dan kita check online banking and done. Jadi itu benar-benar membuat customer merasa sangat dimudahkan.

Saya juga terus mencari produk yang unik, dimana barang tersebut tidak tersedia dimana-mana. Saya tidak suka memiliki barang-barang yang mirip dengan yang ada ditempat lain. Hal ini membuat saya mencari sendiri hingga ke China, bikin merek sendiri dan mengirimkannya ke Bali.

Ada customer tertentu yang mempunyai taste tertentu pula. Ada yang suka dengan warna-warna bronze misalnya, atau suka yang model-model kuno untuk di restoran atau spa. Produk-produk seperti ini, berapapun harganya akan tetap di beli, karena mereka memang suka, bahkan sampai mereka bawa ke negaranya loh.

Saya juga melihat ini dari faktor lokasi. Usaha saya dan orang tua itu lokasinya sangat berbeda, usaha orang tua di Imam Bonjol. Tapi kebutuhan customer dan tastenya bisa berbeda 180 derajat. Di usaha orang tua saya, kebanyakan customer lokal dan sukanya yang produk kilap-kilap gitu, kalau di tempat saya lebih premium dan matt colour. Karena customer-nya mencakup Seminyak, Legian, Oberoi, Nusa Dua dan Canggu.

Dan sekarang saya mau fokus membenahi struktur internal, sampai benar-benar mantap. Dan ke depannya saya mau buat convention hall diatas. Walaupun toko ini buka sampai jam 5 saja, tapi nanti akan saya buat seperti gallery. Nanti saya undang deh kalau sudah jadi. Biar nggak spoiled dulu he he… Sementara kalau dari pemasaran, saya hanya percaya dari mulut ke mulut, itu spread paling cepat. Setelah itu baru media, lewat majalah Money&I dong ^_^.

Satu hal yang penting, saya bisa seperti sekarang karena selalu mengutamakan kualitas dan kejujuran, dalam hal pengiriman barang misalnya, jika memang kualitas B atau C, kita akan bilang seperti apa adanya. Bila sampai beda seri, atau ada satu yang pecah. Kami akan lapor, halhal seperti ini yang kemudian memunculkan apresiasi dari konsumen.

Apa tantangan terberat Anda selama perusahaan ini berdiri?

Yang pertama mungkin adalah ketika saya membuka usaha ini di awal. Karena memang dari nol, saya merasa harus belajar banyak, dan membangun integritas perusahaan itu susah. Jadi waktu itu saya harus mengelola segalanya dari yang terbesar hingga yang terkecil.  Yang kedua adalah SDM (Sumber Daya Manusia) yang kurang. Jadi saya merekrut orang-orang terbaik dengan kualitas terbaik. Dan itu ternyata susah nyarinya, dan menjadi kendala di awal. Sekarang, tim sudah solid dan memiliki kejujuran dan integritas yang tinggi.

Adakah usaha selain Home Solutions?

Ada sih, tapi hanya sekedar kecil-kecilan. Saya mengembangkan usaha catering, kemudian bantu-bantu suami kembangkan studio fotonya. Ya lumayan banyak sih, tapi kecil-kecil.

Bagaimana Anda membagi waktu?

Membagi waktu antara pekerjaan dan ibu rumah tangga sebenarnya bukan masalah bagi saya. Zaman sekarang kan ada suatu perbedaan yang sangat tinggi, yang kadang dilupakan banyak orang hanya karena melihat image bisnis yang rumit. Saya mengaplikasikan cara saya berbisnis sesuai dengan kehidupan kita sehari-hari, jadi saya merasa enjoy melakukannya. Tapi bukan juga enjoy yang kelewat santai. Saya juga menanamkan sistem dan prosedur kerja yang sangat mengutamakan integritas.

Apakah itu berlaku untuk seluruh karyawan disini?

Benar, di sini tidak pernah ada yang namanya decision leader. Kami semua adalah satu tim untuk mencapai visi kita.

Bagaimana Anda melihat kompetitor?

Bagi saya kompetitor bukanlah hal yang perlu diperhatikan, justru menjadi pemicu semangat kami. Saya selalu tekankan pada seluruh bagian Home Solutions untuk berpikir positif dan sibuk berbenah diri. Kita harus tetap melihat apa yang orangorang sukses telah kerjakan, berpikirlah untuk bisa mengambil, mengolah dan menerapkan dalam kehidupan berbisnis sehingga bisa keluar untuk satu inovasi baru yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Don’t be a follower tetapi jadilah inventor terbaik di era ini.

Jangan pernah melihat kelebihan atau kekurangan orang lain, kesuksesan atau kegagalan mereka, tetapi lihat prospek yang ada pada orang itu dan tetap berpegang pada prinsip. Karena dengan itu, kita akan memiliki konsep yang berbeda dan akan mencapai inovasi baru dalam berbisnis.

Apakah ada peluang usaha ini kelak di waralabakan?

Berhubung saya belum bisa meraih suatu image dengan taraf kualitas sesuai dengan konsep yang saya tanamkan, saya masih harus membuat suatu sistem yang belum saya temukan apa itu bahasanya. Yang jelas bukan sistem franchise karena sistem itu harus ada pengauditan agar image Home Solutions bisa tetap sama. Karena masih susah untuk menerapkan sistem franchise dalam bidang bangunan. Karena resiko untuk menurunkan kualitas imagenya lebih besar daripada profitnya. Ke depannya saya berharap untuk membuka sendiri saja di daerah lain, kalau bisa buka sendiri. Mengapa harus difranchise-kan? 🙂

Apa visi Anda ketika membuka Home Solutions?

Saya selalu tekankan dalam diri ketika membangun Home Solutions. Masa depan adalah milik kita yang berani mengambil risiko, bukan mereka yang mencari aman. Di situlah masa depan adalah milik para pemimpin yang bersedia keluar dari zona nyaman mereka dan mengambil risiko yang diperlukan bagi perusahaan untuk tetap bertahan dan terus maju dalam situasi ekonomi apa pun. Tapi kita tidak pernah menghilangkan elemen risiko, karena risiko itu akan selalu ada, makanya kita harus berani percaya diri dengan mengambil tindakan agresif mewujudkan visi kami.

Harapan Anda untuk Home Solutions?

Harapan saya ke depan untuk Home Solutions akan selalu berkarakteristik, sesuai dengan apa yang saya evolutionarykan sehingga bisa diterima oleh evolusi perkembangan zaman, di mana saya melihat setiap ide-ide yang pernah saya sampaikan ke generasi X, masih sangat awam dan tidak bisa melihat peluang yang saya pikirkan serta jalankan selama ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *