Tuesday , November 12 2019
Home / Interview / Rene Suhardono – Sang Provokator Yang Terobsesi dengan People Passion Performance

Rene Suhardono – Sang Provokator Yang Terobsesi dengan People Passion Performance

Hari ini, istilah passion menjadi begitu populer, terlebih di kalangan anak-anak muda generasi sekarang. Namun kalau mau di runtut kebelakang, sebenarnya istilah ini belum benar-benar membumi satu dekade lalu. Dan jika boleh menuding orang yang paling bertanggung jawab dari populernya istilah “Passion” di Indonesia, maka kami akan melayangkannya kepada Rene Suhardono!

Inilah sosok yang berhasil mengajak generasi muda dengan provokasinya, untuk membuka pandangannya bahwa doktrin soal karir peninggalan jaman bahuela tak lagi relevan. “Masih mau mengerjakan pekerjaan yang tak sesuai kata hati?” Tanyanya kepada ratusan eksekutif BPR Lestari dalam gelaran Sales Conference beberapa waktu lalu. Cita-cita menjadi Dokter, Arsitek atau Pilot adalah “Indonesia Dream” tahun 80-an, yang sayangnya tak lekang oleh waktu hingga sekarang. Persoalannya, cara kerja dunia telah berubah jauh dengan berbagai teknologinya, yang menciptakan peluang-peluang baru yang bisa diburu para generasi sekarang, dan sesuai dengan kata hati mereka, namun justru masih banyak yang terbelenggu oleh cara pandang lama dan akhirnya gagal menunjukkan performa mereka sebenarnya.

Inilah isu besar yang menjadi perhatiannya, sebagaimana dituliskan Rene dalam statusnya di Twitter, Pria kelahiran Jakarta 8 Juli 1972 ini kerap menunjukkan perhatiannya pada People Passion Performance. Tak mengenal kata lelah untuk berbagi kisah inspiratifnya guna memotivasi orang di sekelilingnya.

Menariknya, gerakan provokasi yang dilakukan Rene sangat persuasif, terlebih melihat sosoknya yang begitu “Fun”, terasa begitu lekat. Siapapun yang pernah melihat sosoknya, sulit sekali untuk menafikan hal ini.

Pemilik nama lengkap Rene Suhardono Canoneo ini mengawali karirnya dengan bekerja di sebuah bank swasta. Menjadi partner di Amrop Indonesia adalah loncatan berikutnya, sebuah perusahaan business advisors and excecutive search sejak tahun 1996. Namun gerakannya justru dimulai pada Januari 2007, ketika dirinya menggagas sebuah program yang menuai sukses di radio swasta berjudul Career Coach. Dari sana, tidak butuh lama bagi Rene untuk semakin melebarkan gerakannya. Dimulai sejak tahun 2010 dengan menerbitkan buku yang berjudul Your Job is Not Your Career. Buku ini membuka pandangan banyak orang khususnya anak-anak muda untuk mendengarkan kata hati mereka. Buku tersebut adalah proyek penulisan perdananya dari beberapa buku lainnya yang terbit kemudian.

Dan gerakannya tidak hanya sebatas tulisan, Rene juga seorang entrepreneur yang mendirikan berbagai macam organisasi dan perusahaan yang berbasis wadah konsultasi, baik untuk mengoptimalkan diri maupun perusahaan. Diantaranya PT Indonesia Lebih Baik, yakni wadah konsultasi untuk membantu perusahaan dalam menciptakan kondisi terbaiknya dengan cara mengoptimalkan aset perusahaan, yaitu para pegawainya. Adapula Impact Factory yang mengenalkan paradigma seseorang untuk menjadi entrepreneur.

Perpindahan karir yang dialami Rene dari karyawan swasta menjadi Career Coach, adalah turning point yang sebenarnya bisa terjadi pada siapa saja. Hanya sebagian besar dari kita tidak menyadarinya. “Yang membuat seseorang beralih pekerjaan sebenarnya bukanlah situasi, melainkan diri sendiri. Kemudian keputusan dari diri sendiri untuk beralih pekerjaan itu tergambar dalam situasinya,” ujar Rene. Lalu apa lagi gerakan yang saat ini tengah dijalannya, dan seperti apakah pandangannya soal Indonesia hari ini? Kepada Arif Rahman editor majalah M&I, lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini bercerita dengan lugasnya, bukan hanya soal passion, namun juga akan keputusannya untuk bersuara dalam bidang politik. Berikut petikannya!

Sulit untuk memisahkan anda dengan kata “Passion”, edukasi soal follow your passion saya nilai begitu berhasil saat ini, namun fakta dilapangan, kita melihat banyak anak-anak muda yang memutuskan berpindah karir kerja dalam bidang yang jauh berbeda dengan mudahnya, bagaimana anda melihat ini?

Seiring dengan perkembangan waktu, peran yang dimainkan seseorang dapat bertambah. Kita sering lihat, ada mahasiswa jurusan arkeologi yang kemudian berprofesi menjadi Koki, dan berbagai contoh lainnya yang sering kita jumpai sekarang. Apa yang mereka jalankan, tidak sesuai dengan bidang pendidikan yang mereka tempuh. Ini terjadi karena proses. Saya misalkan, bukan hanya menjalankan peran sebagai Career Coach. Di sisi lain, saya juga seorang bapak, konsultan dan pemilik usaha. Poin utamanya bukan seberapa banyak peran yang saya jalankan, melainkan seberapa paham kita akan peran-peran tersebut. Passion itu pada dasarnya bagaimana kita bisa memberdayakan diri.

Bukankah mencapai level master membutuhkan waktu dan latihan berkali-kali. Jika saja kita sadari awal fokus pada satu bidang, dan melatihnya berulang-ulang, maka peluang kita untuk kompetitif semakin besar?

Betul, itu sebabnya perubahan karir itu adalah bagian dari apa yang kita rasakan, menjadi Koki dengan latar belakang pendidikan ekonomi misalnya, bukan masalah besar selama peran itu bisa dimainkannya dengan baik, dan semakin baik. Namun untuk mencapai level master, kita memang harus berlatih berulang-ulang, dan ini adalah konsekuensi dari sebuah pilihan.

Lalu bagaimana kita bisa mengawali pilihan khususnya di usia sekolah, agar sesuai dengan keberhasilan yang bisa mereka capai?

Anak-anak muda hampir selalu mengharapkan jawaban akan kemana karir mereka seperti resep lengkap dengan hal-hal spesifik yang harus dikerjakan, namun tidak ada resep keberhasilan yang bisa secara universal dijalankan semua orang. Jika “resep” bisa selalu diaplikasikan maka semua restoran sukses, tidak ada orang miskin, tidak ada hutan gundul dan seterusnya.

Kenyataannya “how to” berbeda bagi setiap orang karena tidak ada dua orang yang sama walaupun mereka yang kembar sekalipun. Tidak ada resep universal untuk jadi kaya, bahagia dan sukses. karena setiap orang selalu punya interpretasi berbeda atas apapun. Pertanyaan yang diawali “harus bagaimana?” hanya relevan jika sudah berani dan mampu bertanya “kenapa” dan meniadakan kata “harus”. Menariknya, pemahaman diri yang lebih baik justru berawal dari ketertarikan diri pada dunia sekitar kita. Sesederhana itu.

 

Poin utamanya bukan seberapa banyak peran yang saya jalankan, melainkan seberapa paham kita akan peranperan tersebut. Passion itu pada dasarnya bagaimana kita bisa memberdayakan diri 

– Rene Suhardono

 

Belajar dan terus belajar?

Ketertarikan, kesukaan dan keingintahuan pada dunia luar dan sekitar adalah salah satu bentuk nyata proses tumbuh kembang diri. Tanpa ketertarikan terhadap langit dan bintang, mustahil Albert Einstein bisa memunculkan teori relativitas. Tanpa kesukaan terhadap musik dan kemanusiaan, tidak mungkin Bono bisa terus menghasilkan karya-karya dahsyat yang menggetarkan. Semua artis hebat, musisi kondang, inovator istimewa, negarawan kelas dunia dan pemimpin yang dicintai selalu diawali oleh minat nyata mereka akan dunia di sekeliling dan sekitar mereka. Keingintahuan bukan semata untuk kebaikan dunia, namun untuk mempertajam proses pemahaman diri.

Apakah passion sendiri seperti hobi yang kemudian menghasilkan uang?

Passion sedikit berbeda dengan hobi, passion bukanlah segala sesuatu yang kita kuasai, namun yang kita cintai. Passion adalah salah satu unsur karir. Karir haruslah melibatkan passion, tujuan hidup, values, ketercapaian dan kebahagiaan. Jadi pada saat kita bekerja sesuai dengan passion, maka kita berada di jalur untuk mencapai karir. Dan pertanyaan yang sering terlontar adalah bagaimana menemukan passion, ini yang gampang-gampang susah, karena sesungguhnya passion itu terdapat di dalam diri kita sendiri. Baru setelah menemukan passion, kita bisa menentukan tujuan hidup. Semakin jelas, dan detail tujuan hidup yang ditetapkan, maka semakin besar kemungkinan terealisasinya tujuan tersebut.

Apakah konsep ini yang membedakan mana pekerjaan dan mana karir?

Pekerjaan itu pada dasarnya milik perusahaan, kalau karir milik kita sendiri, sebuah perjalanan. Seseorang bisa memiliki banyak pekerjaan dalam karir, dan bisa juga mengalami banyak pergantian profesi di dalamnya. Sedangkan karir itu memiliki pola yang tidak linear dan sulit ditebak. Karir itu dipengaruhi dari refleksi diri dan sudut pandang kita, kalau kita menganggap karir adalah gaji yang masuk ke dalam rekening kita tiap bulannya, jabatan, pangkat ataupun gelar akademis, maka itulah refleksi dari karir kita.

Saat ini, anda mendorong lahirnya banyak entrepreneur?

Menjadi entrepreuner itu sama seperti kita memilih alat. Analoginya, kita harus memilih cara, jadi bukan tujuan yang kita cari. Entrepreneur adalah alat yang mempunyai kontribusi pada orang lain, dan untuk itu, kita harus pahami dulu apa yang menjadi passion kita. Kemudian problem apa yang kita hendak diselesaikan, dan yang terakhir waktu untuk merealisasikannya.

Oleh banyak orang, Indonesia yang tengah memiliki bonus demografi dinilai sebagai salah satu keunggulan untuk menjadi bangsa yang besar, tapi di luar sana, dalam sejarah sejumlah negara pernah mendapatkan bonus demografi namun gagal berkembang, bagaimana anda melihat ini?

Gini, sekarang ini ada penelitian yang menyebutkan semestinya usia manusia itu 300 tahun, dan teknologinya pun saat ini sudah ada. Namanya Stem Cell, yang fungsinya sistem perbaikan untuk mengganti sel-sel tubuh yang telah rusak demi kelangsungan hidup organisme. Saat sel terbelah, sel yang baru mempunyai potensi untuk tetap menjadi sel dari jenis lain dengan fungsi yang lebih khusus.

Misalnya sel otot, sel darah merah atau sel otak. Tujuannya adalah untuk memperbaiki sel-sel yang sudah rusak. Bayangkan saja sekarang, jika cara ini berhasil, dan usia rata-rata manusia kemudian menjadi 300 tahun, maka konsep-konsep demografi akan berubah drastis.

Selain itu, yang kita lihat sekarang ini adalah masalah gap generasi. Generasi sekarang ini (Gen Y), sering di cap tidak tahan banting, banyak yang baru ditegur sekali saja langsung kehilangan semangat kerja. Ini beragam keluhan yang seringkali saya dengar dari para pemangku kepentingan dalam organisasi. Jika diperhatikan komentar ini sama sekali bukan didasari kebencian, namun ketidaktahuan. Komentar-komentar ini umumnya disuarakan oleh para manajer yang berusia 40an ke atas, ya kurang lebih seumuran saya. Bagaimana mau nyambung? Lha..wong masing-masing hidup, berbicara, berpikir dan bertindak dalam dunianya sendiri.

Gen Y, terutama yang lahir setelah 1990an hampir-hampir tidak pernah merasakan hidup tanpa Google, Facebook dan Twitter. Sebagian besar tidak lagi baca koran sehingga hampir pasti tidak mengikuti berita utama harian yang lazim jadi pembahasan generasi sebelumnya. Asupan informasi mereka berasal dari teman-teman atau idola mereka yang muncul di sosial media.

Pada satu sisi pergaulan mereka bisa jadi sangat luas, namun pada sisi lain juga sangat sempit. Bagi Gen Y, kebiasaan nonton TV bergeser jadi nonton Youtube yang jelas lebih instan dan menawarkan kemerdekaan memilih tontonan. Agenda, buku catatan dan pensil sudah usang, digantikan oleh piranti yang tidak mungkin bisa dipisahkan dari kehidupan, yakni smartphone.

Kehadiran Gen Y saat ini mendominasi sekitar 40% dari total angkatan kerja di Indonesia. Jumlah ini akan terus berkembang sejalan dengan model demografis penduduk Indonesia. Setelah Gen Y akan hadir pula Gen Z! Rancang bangun sebagian besar organisasi yang masih didasari pemikiran tahun 80-an dan 90-an tidak akan mungkin bisa mengakomodasi kebutuhan saat ini. Tidak heran masih banyak perusahaan yang melarang penggunaan sosial media, mematok jam kerja kaku dan menetapkan kantor sebagai bilik kerja tanpa makna. Sehingga jangan bingung jika model perusahaan macam ini akan semakin ditinggalkan oleh tenaga kerja masa depan. Saya pernah melihat anak-anak muda generasi sekarang yang begitu inovatif, mereka menciptakan banyak hal hebat, kita harus percaya kepada mereka.

Wonderful, cara anda menyampaikan pemikiran seperti Anis Baswedan, beberapa tahun yang lalu saya berkesempatan mewawancarai beliau..

Anis is my mentor. Dulu itu, saya sudah sanggup membeli mobil Eropa, dan bangga dengan itu. Satu kali, saya harus menjemput mas Anis dan menuju satu venue menggunakan mobil yang saya banggakan, dan saya ingat persis setiap kata yang mas Anis sampaikan waktu itu. Ketika kami melewati kawasan yang kumuh, mas Anis mengatakan “hanya terjarak tidak lebih 5 inchi lewat kaca mobil ini yang memisahkan kita dengan nasib mereka.” Nah, kata-kata itu langsung masuk di hati, bikin yang tadi perasaan punya mobil Eropa dengan bangganya, jadi tidak bangga sama sekali.

Pesannya kira-kira begini, bahwa orang-orang di sekitar kita, yang dekat dengan kehidupan kita, punya kehidupan yang jauh dari kita, dan jika kita tidak melakukan apa-apa, itu kebangetan. Akhirnya, tidak lama kemudian saya jual mobil Eropa itu dan beli mobil Jepang ^_^.

Anda aktif di Indonesia Mengajar saat ini?

Betul, itu program yang di cetuskan mas Anis, dan sekarang ketika beliau sudah menjadi Menteri, Saya dan rekan-rekan yang meneruskan. Bisa dibilang, saya menjalankan apa program-program yang mas Anis cetuskan dulu.

Anda menunjukkan sikap berpolitik yang cukup jelas, bahkan menjadi pioner sejumlah gerakan seperti #kamitidaktakut dan lainnya. Mengapa?

Membangun minat terhadap politik bukan berarti harus menjadi politisi, namun paling tidak bisa mengikuti dinamika politik yang terjadi untuk menentukan sikap sebagai warga negara keren. Dan ini harusnya menjadi sikap semua warga negara. Kita harus berani menyuarakan aspirasi, ini cara terbaik untuk berkontribusi terhadap perubahan yang kita inginkan.

Apa pesan-pesan yang ingin anda sampaikan pada generasi saat ini?

Generasi boleh beragam namun esensi karir tetap sama dan akan terus sama. Bahagia hakiki dan kontribusi bermakna. Stop hiring workers! Instead, hire believers.

About admin

Check Also

Trisna Rahanian, Owner Bali Zoo “Kalau kangen, saya akan video call dengan satwa..”

Jika merujuk pada data di Wikipedia, maka di Indonesia hanya tercatat memiliki tidak lebih dari 25 kebun binatang.

Sebagai sebuah negara yang begini besarnya, jumlah ini terang saja tidak proporsional, malah bisa dibilang terlampau sedikit. Itupun banyak diantaranya yang memang sudah ada sejak jaman Belanda, lainnya didirikan ketika era orde baru. Dan jika dihitung dalam waktu 15 tahun terakhir, jumlahnya tidak lebih dari 15 kebun binatang baru yang berdiri di Indonesia. Jumlah ini jelas berbanding terbalik dengan taman rekreasi hiburan lainnya, seperti watre park misalkan yang tumbuh subur dihampir setiap propinsi. Alasannya jelas, Kebun Binatang merupakan wahana yang paling ribet dalam hal pendiriannya mulai dari ijin keberadaan satwa, hingga kebutuhan lahan yang sangat luas, belum lagi biaya perawatan satwa yang tidak mudah dan murah. Apalagi kemudian dengan menghitung masa pengembalian investasinya yang lama, wajar jika kemudian kebun binatang bukanlah primadona bagi kebanyakan investor. Butuh alasan yang lebih dari sekedar bisnis, untuk mendorong seseorang mau menjadikan satwa sebagai ajang edukasi masyarakat. Dan ini, terjadi pada Anak Agung Gede Putra!

Berlatar belakang pendidikan jurusan peternakan, Gede Putra mengabdikan dirinya sebagai PNS dilingkungan Dinas Peternakan Provinsi Bali selama 7 tahun. Dari pilihan jurusan pendidikannya, sudah menunjukkan ketertarikan beliau pada hewan, dan burung adalah hobinya yang tak bisa di tawar. Hampir setiap hari, Gede Putra pergi ke pasar burung. Dan semakin lama, koleksi hewan peliharaannya terus bertambah, bahkan belakangan bukan hanya burung, namun juga Orang Utan dan Walabi. Sayangnya, beberapa satwa yang dimilikinya ini tergolong langka, Gede Putra pun merasakan bagaimana dirinya kemudian di razia petugas, dan hewanhewan peliharaannya pun berpindah tangan. Namun dari sinilah kemudian idenya muncul, bagaimana caranya memelihara satwa dengan legal, dan bahkan bisa menjadi ajang bisnis? Yup, kebun binatanglah jawabannya! Maka pada tahun 2002, berdirilah Bali Zoo yang berlokasi di Singapadu Gianyar Bali.

Kini, Bali Zoo sudah dikelola oleh generasi kedua, salah satunya adalah Anak Agung Trisna Dewi Rahanian. Sejak kecil, anak kedua dari 5 bersaudara ini sudah hidup ditengah satwa-satwa peliharaan orang tuanya, dan ini yang membuat ikatan emosi antara dirinya dengan satwa demikian lekat. Ia pun turut menangis ketika orang utan yang tumbuh besar bersamanya kemudian di razia petugas. Bahkan, ia akan video call dengan satwanya jika tengah berada di luar kota demi melepas rindu. Rasa cinta seperti inilah yang kemudian menjadi modal bagi lulusan Fashion Business Retail di Esmod Jakarta ini untuk membawa Bali Zoo terus berkembang. Kepada Money&I, Trisna pun bercerita lebih banyak prihal bisnis yang kini dikelola bersama saudaranya, berikut kutipannya.

Benarkah Anda melakukan video call jika kangen dengan hewan peliharaan?

Ha..ha.. hobi saya itu memang memelihara binatang, ini adalah warisan dari kecintaan Ayah saya terhadap satwa. Jika sehari saja tidak bertemu dengan hewan peliharaan, rasanya ada yang kurang, dan kalau lagi keluar kota, saya sempatkan diri untuk video call dengan mereka he..he.. Menggelikan memang bagi sebagian orang. Dan bukan cuma itu, saya juga sangat menjaga asupan makanan mereka, melakukan treatment akupuntur dan massage yang terapisnya saya langsung panggil ke rumah untuk mereka.

He..he.. so sweet. Ayah Anda memiliki kecintaan pada satwa, inikah yang menjadi fundamen berdirinya Bali Zoo?

Betul, Ayah saya (Anak Agung Gede Putra. red) memiliki kecintaan terhadap berbagai macam satwa. Beliau merupakan lulusan Fakultas Peternakan UNUD, dan selama 7 tahun mengabdikan diri sebagai PNS dilingkungan Dinas Peternakan Provinsi Bali. Tapi kemudian beliau melihat pesatnya perkembangan industri pariwisata, dan bermunculannya art shop kerajinan gold dan silver, ini kemudian menumbuhkan jiwa bisnis beliau, dan memutuskan untuk mendirikan usaha Gallery (Singapadu Gallery.red). Tapi sayangnya, belum lama usaha ini beroperasi, ujian pertama datang, perang teluk meletus sehingga kunjungan turis asing ke Bali menurun drastis, karena penerbangan dari wilayah Eropa terganggu. Beliau pun kemudian memutuskan untuk undur diri PNS, dan berkonsentrasi menyelamatkan usaha.

Berhasilkah upaya tersebut?

Tipe Ayah saya adalah pekerja keras, beliau tak kenal lelah untuk melakukan eksperimen untuk meningkatkan produk yang inovatif, dan ini yang kemudian justru menjadikan Singapadu Gallery berkembang pesat, dan ketika kondisi wisata Bali mulai kondusif, ini semakin memuluskan usahanya. Dan ketika usaha ini mulai stabil, saat itulah ayah saya memiliki waktu lebih untuk memanjakan hobinya memelihara burung, kecintaan beliau terhadap satwa inilah yang menurun kepada saya. Coba bayangkan, hampir setiap sore orang tua saya mengajak kami (Trisna dan saudara), ke pasar burung. Lama kelaman koleksi yang kami pelihara dirumah pun berkembang pesat, ini yang membangun ikatan emosional saya dengan satwa sangat kuat. Bahkan termasuk koleksi satwa langka yang dilindungi, seperti Orang Utan, Kaswari dan Walabi. Kami sangat terpukul ketika beberapa satwa langka ini kemudian di razia oleh BKSDA (Badan Konservasi Sumber Daya Alam) Bali. Saya
tidak henti-hentinya menangis, masih teringat jelas wajah-wajah orang utan yang setiap hari menemani masa kecil saya.

Hingga kemudian ayah mengajak kami untuk refreshing ke beberapa Kebun Binatang. Beliau tertegun dan tercetus dalam benaknya untuk membangun Taman Satwa. Dan kemudian pada tanggal 4 September 2002, berdirilah Bali Zoo, yang merupakan perpaduan bisnis, hobi, dan kecintaan pada satwa dan lingkungan. Sekarang, saya dan saudara merupakan generasi kedua penerus usaha ini.

Berapakah modal yang dikeluarkan untuk mendirikan usaha ini?

Usaha ini dibangun secara bertahap, sekalipun secara resmi dibuka pada tahun 2002, namun prosesnya sudah dimulai dari tahun 1999. Dari modal sendiri dan juga pinjaman bank, proporsinya kira-kira, 40% modal sendiri dan 60% pinjaman bank. Total sekitar belasan miliar untuk pendirian Bali Zoo ini.

Kebun binatang merupakan bisnis dengan model dan risiko yang tinggi, bagaimana Anda melihat ini?

Menurut saya, tidak ada bisnis yang tidak beresiko. Seperti hukum keseimbangan alam, dibalik resiko dan tantangan yang besar, juga terdapat peluang yang besar. Tapi memang, sejak awal didirikan, kami mendapatkan tantangan yang luar biasa besar. Seperti usaha Galeri orang tua, yang ketika awal berdiri mendapat tantangan dari efek perang teluk, di Bali Zoo juga sama.

Pada awal berdiri, sambutan masyarakat sangat antusias, wisatawan asing terus berdatangan. Tapi belum lama menghela nafas lega, tragedi Bom Bali I terjadi, selama 6 bulan Bali Zoo mengandalkan pengunjung domestik. Kemudian setelah pariwisata mulai pulih sekitar 2 tahunan, terjadi lagi Bom Bali II, dan ini efeknya jauh lebih dahsyat. Belum hilang rasa terkejut, hanya selang beberapa jam, pemerintah menaikkan harga BBM hingga 100% lebih waktu itu. Yang membuat daya beli masyarakat runtuh. Inilah rentetan ujian paling berat yang kami hadapi. Kegigihan Ayah yang mampu mambawa Bali Zoo bangkit, membuktikan ketangguhannya sebagai pengusaha.

Bagaimana situasinya ketika mulai dikelola oleh generasi kedua?

Pertumbuhan sudah semakin stabil, dari sisi internal, mulai ada variasi produk baru, tim manajemen juga semakin solid, apalagi dengan diperkuat oleh para konsultan yang berpengalaman. In house training yang semakin banyak, perluasan dan penambahan fasilitas Bali Zoo juga terus dilakukan. Sedangkan dari faktor eksternal, tingkat kunjungan wisatawan asing dan domestik semakin meningkat, pasar baru mulai bermuculan seperti dari Cina, India, Timur Tengah dimana daya beli mereka meningkat karena kurs dolar naik. Saat ini proporsi antara kunjungan wisatawan asing dan domestik itu 55 : 45.

Di model seperti ini, sumber daya manusia (SDM) berperan sangat vital, bagaimana dengan di Bali Zoo?

Itulah sebabnya tantangan internal kami saat ini yaitu meningkatkan mutu SDM, sebagai negara yang sedang berkembang, mutu SDM kita masih kalah jauh dengan negara lain. Saat ini Bali Zoo memiliki 252 karyawan, dan kami tengah mendorong kreatifitas sebagai budaya kerja kita. Terlebih lagi dengan pengunjung Bali Zoo yang banyak diantaranya tamu mancanegara, mereka sangat mengharapkan mutu service dan animal welfare yang tinggi. Itu sebabnya, perusahaan kami terus melakukan pelatihan dan pembinaan dalam rangka meningkatkan profesionalisme karyawan, baik untuk peningkatan SDM dan juga pelatihan untuk animal welfare yang khusus kita datangkan dari Singapura. Karena isu-isu seputar animal welfare juga mempengaruhi bisnis ini. Kalau dari faktor eksternal sendiri, perlambatan ekonomi global kami rasakan sangat berpengaruh, demikian juga pertumbuhan ekonomi dalam negeri dan situasi politiknya.

Adakah kebun binatang yang menjadi referensi acuan saat mendirikan usaha ini?

Singapore Zoo, karena kebun binatang tersebut bisa memberikan pengalaman luar biasa yang menyenangkan, dan juga memberikan edukasi kepada para pengunjungnya

Bagaimana prospek kedepan dari bisnis ini?

Sangat menjanjikan, saya sangat optimis bisa menjadikan Bali Zoo sebagai kebun binatang terbaik di Asia Pasifik, sesuai dengan misi Bali Zoo sendiri, yakni ‘Love. Conserve. Share’. Bali Zoo akan terus mengembangkan program-program baru agar pengunjung selalu merasakan pengalaman berbeda setiap kali datang kemari.

Saat ini kami sedang melakukan banyak pengerjaan proyek baru, seperti Kampung Sumatra, Bali Deer Park dan berbagai program Animal Release untuk mendukung pelestarian satwa endemic Indonesia. Juga mengembangkan program edukasi untuk anak, seperti yang sudah berjalan yakni Bali Zoo Goes To School, dengan membawa satwa ke sekolah-sekolah untuk diperkenalkan lebih dekat kepada murid-murid. Kami juga memperkenalkan program baru yaitu Breakfast with Orangutan. Semua ini kami harapkan bisa mewujudkan target kami, dimana pada tahun 2020, kita mendapatkan 3000 tamu setiap harinya.

Beralih ke soal satwa, hewan apa yang paling sulit perawatannya?

Satwa yang berjenis Primata, karena perlu ketelatenan khusus untuk merawatnya. Mereka ini sangat mirip dengan manusia. Tapi yang biaya perawatannya paling banyak adalah satwa karnivora, yang pakan utamanya daging.

Adakah kesulitan saat mendatangkan satwa-satwa tersebut?

Kesulitan ketika Bali dinyatakan siaga rabies. Pada tahun 2008 juga ada isu seperti flu babi dan flu burung, ini sangat mempengaruhi proses kami untuk mendatangkan satwa, karena otomatis keluar masuk binatang dari dan keluar Bali saat itu dibatasi. Dan ada satu harapan saya yang juga belum tercapai, yakni mendatangkan hewan-hewan Afrika ke Bali Zoo.

Apa satwa yang menjadi favorit Anda?

Kuda, karena terlihat anggun dan terhormat. Kuda adalah hewan yang sangat cerdas, dia tidak akan meninggalkan majikannya jika tidak dalam keadaan terpaksa.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *