Sunday , September 15 2019
Home / Insight / Raih Target Market dengan Pendekatan Multi Generasi pada Bisnis Travel

Raih Target Market dengan Pendekatan Multi Generasi pada Bisnis Travel

Raih target market dengan pendekatan multi generasi pada bisis travel.

Mengetahui siapa target market Anda sangat penting dalam sebuah keberhasilan proses marketing dan sales. Setiap generasi memiliki cara pendekatan yang berbeda agar mereka yang awalnya adalah strangers kemudian bisa Anda konversi menjadi customer atau bahkan promoters bisnis Anda.

Anda mungkin pernah mendengar istilag generasi boomers, generas X dan generasi millenial. Generasi boomers adalah generasi yang lahir antara tahun 1946 sampai dengan 1964, sedangkan generasi X adalah generasi yang lahir antara tahun 1965 sampai dengan 1980. Generasi yang lahir setelah tahun 1980 disebut generasi millennial.

Generasi yang lebih tua biasanya lebih suka datang langsung untuk berbelanja di toko atau perusahaan Anda, sedangkan generasi pertengahan (Gen-X) lebih tech savy dan kalau berbelanja lebih memilih untuk berbelanja lewat website. Generasi millenial sudah lebih familiar berbelanja secara online. Malah sebelum berbelanja, mereka akan membandingkan dan bertanya terlebih dahulu terhadap produk yang ingin dia beli di media sosial atau situs review.

Bagaimana pendekatan pada masing-masing generasi untuk Anda yang memiliki bisnis travel? Berikut ulasannya:

Generasi Boomers

Generasi Boomers adalah orang yang memiliki ciri-ciri berikit ketika memutuskan untuk berbelanja:

  • Loyal terhadap sebuah brand
  • Ingin dilayani secara personal dan memerlukan interaksi dengan manusia
  • Lebih menghargai nilai

Untuk meraih daya beli pasar generasi boomers, Anda harus membuat mereka merasa nyaman dan percaya diri dalam membuat keputusan dalam membeli. Pendekatan dan komunikasi secara personal perlu Anda lakukan. Sebagian besar generasi boomers sudah mengetahui apa yang mereka inginkan dan biasanya jika mereka sudah merasa nyaman dengan Anda, mereka akan sangat mudah untuk loyal kepada brand Anda.

Jika Anda memiliki hotel dengan target market generasi boomers, beberapa dari mereka biasanya masih bepergian dalam rangka bisnis, walaupun ada juga yang travelling untuk rekreasi karena mungkin mendapatkan laba dari bisnisnya.

Generasi X

Ciri-ciri dari generasi X adalah sebagai berikut:

  • Lebih terbiasa menggunakan teknologi
  • Bekerja untuk hidup, bukan hidup untuk bekerja
  • Lebih sosial

Generasi X lebih suka berbelanja melalui website dari brand yang mereka sudah kenal. Jika Anda adalah salah satu orang yang termasuk dari generasi X dan ingin membeli tiket pesawat, apakah Anda akan memilih untuk datang ke kantor travel agent langganan Anda atau cukup memesannya melalui website atau email?

Saya yakin Anda memilih memesan melalui website, meskipun Anda masih memerlukan pendekatan secara personal dengan bertanya beberapa hal detail, tetapi Anda sudah menggunakan teknologi untuk melakukan hal itu.

Generasi X lebih banyak mengalokasikan uangnya untuk traveling daripada generasi boomers. Apalagi mereka yang sedang mendapatkan bonus tahunan atau laba besar dalam bisnisnya. Dalam bekerja, generasi X lebih menyukai ruang-ruang sosial daripada bekerja sendiri dalam ruang kerja. Mereka lebih memilih untuk bekerja di cafe, restaurant, lounge dan tempat-tempat lain yang memungkinkan adanya ruang untuk bersosialisasi.

Untuk mendapatkan target market dari generasi X, Anda harus melengkapi website Anda dengan sistem booking yang memudahkan kelompok generasi X cepat dalam membuat keputusan karena mereka lebih menghargai efisiensi. Selanjutnya pastikan bahwa bisnis Anda memiliki ruang untuk bersosialisasi untuk mereka. Cafe, bar, lounge dan restoran adalah tempat yang sangat tepat untuk leisure travellers. Ingat, efisiensi adalah top priority mereka.

Generasi Millenial

  • Sangat familiar dengan teknologi
  • Lebih sabar dan independent
  • Melakukan research sebelum memutuskan
  • Free Wi-Fi Access

Mereka yang termasuk generasi ini biasanya akan lebih sabar dan sebelum memutuskan untuk membeli sesuatu mereka akan melakukan research di internet terlebih dahulu. Mereka akan melakukan perbandingan dari berbagai macam pilihan opsi yang ada internet. Mereka adalah kelompok yang tidak terlalu royal dengan brand, tetapi sangat mudah merekomendasikan sebuah brand melalui media sosial jika mereka sudah sangat menyukainya. Jika ingin booking hotel atau tiket pesawat, mereka lebih suka melakukannya sendiri tanpa bantuan orang lain. Mereka tidak suka bertanya-tanya dulu sebelum membeli. Tetapi mereka lebih suka melakukan research dan melihat review terhadap sesuatu yang mereka inginkan.

Dalam beberapa tahun ke depan, generasi millenial inilah yang akan banyak. Untuk itu Anda harus sudah mulai memikirkan langkah-langkah apa yang seharusnya Anda tentukan agar bisnis Anda tidak kehilangan oppurtunity. Reputasi dan media sosial adalah kunsi Anda jika Anda ingin menargetkan generasi millenial.

Termasuk generasi yang manakah Anda? Saya adalah salah satu generasi millenial.

About admin

Check Also

Cara-Cara Baru berkarir di Era Baru

Bagaimanapun juga, kemajuan teknologi telah menstimulasi sejumlah perubahan cara kerja, yang ujung-ujungnya, menjadikan para Gen C, generasi digital yang selalu terkoneksi (connected), bekerja tanpa ampun, seolah energinya tak pernah habis.

Yang sayangnya, mereka salah, energi itu sumber daya tak terbatas, terkadang berbagai upaya lebih itu tidak cukup, tidak sanggup membawa kita pada perubahan yang kita inginkan, terhadap tujuan yang kita tetapkan. Lalu apa yang salah?

Seperti yang para ahli bilang, sukses itu ada caranya, dan kita tidak bisa mendapatkan hal yang sama dengan cara yang berbeda. Namun persoalannya, cara baru ini belum banyak diketahui, kebanyakan orang masih terperangkap dengan cara kerja lama, cara kerja yang membawa era industri sukses dimasanya. Namun hari ini, banyak hal telah membuktikan, cara itu tak lagi mujarab.

Hal ini juga dipertegas oleh career coach Rene Suhardono ketika dirinya diundang sebagai pembicara di BPR Lestari. Ia mengatakan, dulu label-label recording besar menentukan selera pasar, musik seperti apa yang harus mereka dengarkan, aliran dan bakat-bakat tertentu, tak bisa dengan mudah mendapat kesempatan untuk membuat album dan memamerkan talentanya, “ujarnya. Sekarang, Youtube dan berbagai daring (online) sejenis memutus aliran tersebut, memunculkan sejumlah artis-artis baru dan profesi bernama Youtubers. Dan hebatnya, hal ini juga mengubur eksistensi industri rekaman secara drastis.

Dulu, kita harus membuat proposal yang tebal, mencantumkan berbagai hal agar mendapat persetujuan dari investor atas ide-ide dan gagasan kita, sekarang crowfunding memungkinkan kita mendapatkan pendanaan dari patungan masal secara online. Dulu, kita gerilya untuk mencari klien, sekarang crowsourching memberi kesempatan untuk kita berkompetisi mendapatkan proyek dengan cara yang sangat fair.

Akses menjadi tak terbatas, kemungkinan dan peluang ada dimana-mana, pun demikian dengan resiko dan tanggung jawabnya. Semuanya tergantung pada kita, sejauh mana kita bisa mengelola diri dan karir agar terus berkembang. Dulu jabatan itu layaknya anak tangga, seiring waktu dan prestasi kita akan menapakinya setahap demi setahap.. sekarang, perjalanan karir itu bak tebing karang yang luas, penuh onak dan duri, tidak ada rute khusus, kita bisa melompat dengan bebas dari satu pijakan ke pijakan lain.

Dulu, ada panduan karir dari perusahaan agar kompetensi kita berkembang, sekarang kita bertanggung jawab terhadap diri kita sendiri, tak ada mentor sempurna yang akan datang memberi uluran tangan jika kita tak mencarinya.

Persoalannya, belum banyak orang yang membahas secar detil dan rinci, bagaimana kita berkembang di dunia saat ini. Bahkan Scott Belski (pendiri Behance) menyebutnya sebagai kurikulum yang hilang. Atau lebih tepatnya, adalah kurikulum yang belum dirancang.

Kabar baiknya, kita bisa belajar dari mereka yang telah lebih dulu meraih kesuksesannya di era saat ini. Mereka dengan kreatif mampu menciptakan peluang dan membangun karirnya hingga pada posisi terbaik. Jerry Aurum misalkan, fotografer beken dengan segudang prestasi. Lulusan Desain Komunikasi Visual , Institut Teknologi Bandung (ITB) ini tertarik terjun ke bisnis jasa tersebut karena melihat potensi besar. Cara awal untuk berkiprah-pun cukup unik, ia mempromosikan karyanya kepada klien menggunakan medium kalender, sambil memamerkan foto-fotonya. Kalender kecil sebanyak 300 buah ia sebarkan ke perusahaan-perusahaan dengan tujuan mendapatkan job memotret.

“Saya bekerjasama dengan teman-teman yang masuh kuliah pada saat itu untuk memproduksi kalender ini.

Dicetak sebagian untuk dijual, yang hasil penjualannya menutup seluruh ongkos produksi. Sisanya sebanyak 300 eksemplar saya bawa ke Jakarta untuk disebarkan kepada advertising dan sejumlah perusahaan. Kalender itu juga merupakan portofolio saya. Jadi portofolio saya bertengger di meja orang,” urainya kepada reporter Money&I.

Usahanya itu pun tak sia-sia. Jerry mendapatkan beberapa project dari promosi sederhananya itu, dan secara bertahap, akhirnya membawa Jeery pada posisinya saat ini.

Kunci dari pekerja kreatif adalah keberanian mereka untuk berkarya, dan ketika apa-apa yang mereka hasilkan itu bermanfaat, maka hanya soal waktu saja sebelum kesuksesan lainnya datang. Bagaimana dengan Anda?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *