Tuesday , January 22 2019
Home / Creator Inc / Putu Gede Suarsana – Bukan Sekadar Hobi, Tapi Dedikasi Untuk Seni

Putu Gede Suarsana – Bukan Sekadar Hobi, Tapi Dedikasi Untuk Seni

Di dalam sebuah galeri tidak hanya tersimpan karya seni, tetapi juga sebentuk dedikasi yang melestarikan seni itu sendiri.

Seorang dalang tengah memainkan lakon-lakon wayangnya. Diringi orkestrasi gamelan dan kemerduan suling, penonton tampak hanyut menyimak kisah Ramayana yang dibawakannya. Begitulah deskripsi yang tercermin dari lukisan karya Made Mudana. Lukisan ini merefleksikan secara utuh kehidupan berkesenian orang Bali sejati. Pendalalangan menjadi seni yang turut tumbuh mewarnai budaya masyarakat Bali itu sendiri.

Lukisan Made Mudana Ini terpajang cantik di salah satu sudut ruangan Nyoman Sumertha Fine Arts Gallery. Tidak sendiri, lukisan tersebut terbingkai indah bersama dengan ratusan karya pelukis hebat Peliatan, seperti karya-karya Wiranata, Asta, I.B Made Nadera, Rasna, Midra, Kasta, Kayun, dan masih banyak lagi. Yang lebih menariknya lagi, koleksi lukisan di Nyoman Sumertha Fine Arts Gallery sebagian besar mengusung gaya seni lukis tradisional Bali. Tidak semata dari tema-tema Bali yang diangkat, melainkan teknik lukis tradisional Bali yang diterapkan oleh seniman bersangkutan. Meski Sumerta Gallery juga menyimpan koleksi lukisan bergaya modern kontemporer, namun tak bisa dipungkiri galeri yang berlokasi di Desa Peliatan, Ubud – persis di dalam areal restoran Bebek Tepi Sawah ini punya magnet tersendiri lewat lukisan bercorak tradisional Bali.

Putu Gede Suarsana sebagai generasi kedua yang meneruskan pengelolaan galeri milik Ayahandanya, Nyoman Sumerta tersebut mengamini bahwa Nyoman Sumertha Fine Arts Gallery punya misi khusus dalam pelestarian seni lukis tradisional Bali. Pria yang akrab disapa Tunik ini pun mendedikasikan hidupnya selama 17 tahun di dunia galeri seni demi mempertahankan regenerasi para pelukis tradisional Bali. Tunik bersama Ayahnya, terus mengumpulkan bakat-bakat baru Peliatan yang mampu melestarikan gaya lukisan tradisional Bali.

Sejak umur 10 tahun, suami dari A.A Raka Jeniari ini sudah akrab dengan dunia pelukis. Ia pun sempat menikmati rutinitas asik sebagai seorang pelukis dalam waktu yang cukup lama, namun akhirnya secara penuh memfokuskan diri untuk bertindak sebagai kurator dan pengelola Sumerta Gallery.

Sepanjang pengabdiannya di dunia galeri, tidak mudah bagi pria yang berdomisili di Banjar Teges Peliatan ini untuk menarik minat masyarakat lokal dalam mengapresiasi lukisan tradisional Bali. Kepada reporter Money & I Magazine, Tunik pun menuturkan bagaimana kondisi seni lukisan tradisional Bali dewasa ini sekaligus geliatnya dalam pelestarian seni adiluhung Pulau Dewata ini. Berikut petikan wawancara lengkapnya!

Bisa ceritakan sedikit latarbekalang didirikannya Sumerta Gallery?

Sebenarnya Sumerta Gallery sudah ada sebelum Bebek Tepi Sawah. Malah ide untuk membuat restoran itu muncul sebenarnya untuk mendukung keberadaan galeri kami ini. Jadi orang-orang yang berkunjung ke galeri bisa beristirahat sejenak di restoran kami, Bebek Tepi Sawah. Awalnya sebelum lokasinya di sini, galeri sebenarnya kami buka di rumah. Kami pindah ke sini sekitar tahun 90-an. Dulu memang lukisan-lukisan seniman Peliatan banyak diminati seiring dengan booming-nya pariwisata Bali. Bapak pun melihat lukisan-lukisan Bali punya peluang yang bagus. Kalau seniman-seniman dulu kan melukis sebagai bentuk ngayah di Pura, tetapi karena perkembangan pariwisata mampu membukakan peluang baru. Ini yang membuat Bapak berani membuka galeri. Selain itu, teman-teman Bapak yang pelukis juga banyak. Dulu komunitas pelukis sangat kuat. Bapak pun berinisiatif membantu menjualkan lukisan mereka dengan sistem konsimen. Lukisan mereka pun akhirnya dipajang di galeri. Terlebih networking Bapak yang sangat luas, baik dengan guide, pelaku pariwisata, pengusaha, hingga pejabat kenegaraan. Ini yang juga membuat Bapak sering mendapat tawaran untuk membuat eksibisi di luar Bali. Di era Soeharto, beliau sering membawa lukisan Sumerta Gallery untuk dipamerkan di TMII Jakarta.

Apa yang membuat Anda tertarik meneruskan Gallery milik Ayahanda ini?

Saya memang dilahirkan di lingkungan pelukis. Mulai dari buyut, kakek, dan bapak saya adalah pelukis di Peliatan. Bahkan tidak hanya melukis, berbagai seni tradisi Bali juga saya pelajari, seperti tari dan gamelan. Tapi, toh saya justru lebih tertarik pada melukis. Sejak umur 10 tahun, saya sudah mulai belajar melukis secara otodidak. Ya, itu mungkin karena pengaruh lingkungan sekitar. Saya sering dilibatkan di kegiatan adat bersama pelukis-pelukis di Peliatan. Hampir 15 tahun saya berproses dalam melukis itu sendiri. Tidak hanya pada proses kreatif dari melukis itu saja saya lakukan, justru akhirnya kini saya lebih banyak terlibat dalam pengelolaan galeri lukisan keluarga ini. Sejak kecil saya memang sudah terbiasa melihat bapak menawarkan lukisannya maupun lukisan teman-teman senimannya kepada para turis asing. Saya masih ingat waktu kecil saya juga sering diajak Ibu untuk ikut berjualan lukisan, ketika Bapak sedang sibuk-sibuknya mencari lukisan bagus untuk dijual. Karena masih kecil, jadi saya hanya bisa lihat-lihat saja, tapi waktu menginjak SMA, saya sudah mulai benar-benar ikut langsung membantu Bapak menjual lukisan. Bahkan ketika itu, insting bisnis saya sudah muncul. Tiap pulang sekolah, saya selalu menyempatkan diri untuk turun di pasar celuk dan membeli patung-patung kecil untuk bisa dijual lagi nantinya di galeri Bapak. Bapak jual lukisan, saya jualan patung. Ya, hitung-hitung buat nambah uang jajan saya.

Ketika Anda melukis maupun menikmati karya, lukisan dengan gaya seperti apa yang menjadi favorit Anda?

Saya suka dengan tema-tema yang bernuansakan kehidupan masyarakat Bali dan alam. Saya sendiri sering berdiskusi dan mendorong pelukis untuk menciptakan obyek yang berbeda dan lebih berani. Bisa kita angkat unsur tradisi dan obyek yang kita tampilkan dalam model kekinian, Yang ada di Sumerta Gallery adalah perpaduan lukisan tradisional Bali tempo dulu dan lukisan Bali tradisi modern yang berkembang. Saya pribadi lebih suka gaya lukisan yang mengusung teknik lukisan Bali tradisi. Teknik melukis itu kan beda-beda ya, seperti ada teknik lukis modern, teknik kontemporer, tradisi, bahkan teknik klasik Kamasan. Kalau bicara lukisan Bali tradisi, banyak orang yang salah persepsi. Dikira lukisan yang dibuat dengan bahan oil painting dengan obyek tema lukisan yakni penari Bali, dikatakan sebagai lukisan Bali tradisi. Padahal kan bukan itu maksudnya lukisan Bali tradisi.

Memangnya dimana letak perbedaannya?

Perbedaan yang paling mencolok terlihat dari prosesnya, tahapan-tahapannya. Seorang pelukis Bali harus melalui tahapan, seperti ngabur, sketch, nasarin, dsb. Dari teknik memang sudah beda dan bahan yang digunakan masih akrilik. Kalau dulu art media enggak seperti sekarang. Dulu kita masih kalah, enggak semaju sekarang. Sekarang baiknya lagi, banyak seniman muda kita yang akademis. Mereka mampu mengembangkan seni lukis Bali, tanpa mengurangi perubahan zaman yang ada.  Kalau dulu banyak pelukis kita yang otodidak, kalau generasi sekarang banyak yang berhasil mengolaborasikan teknik akademis yang didapat dari sekolahnya dengan bakat yang sudah dia punya. Jadi banyak pelukis muda sekarang yang bagus banget. Mereka berhasil menciptakan kreasi baru atau yang dapat kita katakan sebagai gaya modern tradisi.

Bagaimana dengan minat orang Bali terhadap lukisan bergaya klasik tradisional bali?

Pengetahuan orang Bali sekarang dengan lukisan-lukisan gaya Bali tradisi malah masih minim.  Kita tahu Bali tengah mengikuti arus perubahan zaman, tapi seharusnya kita tidak boleh meninggalkan seni tradisi kita. Pariwisata kan semestinya menjunjung seni dan budaya. Dulu belum ada resort dan mall, Bali sudah punya daya pikat, yakni seni dan budayanya. Hampir 17 tahun saya membantu pengelolaan Sumerta Gallery, saya pribadi punya tantangan tersendiri di sini dalam misi pelestarian seni lukisan Bali tradisi. Ini merupakan bagian dari seni budaya dan karya pelukis Bali sendiri. Saya ingin bukan hanya karya seninya saja yang lestari, tetapi juga senimannya pun harus kita lestarikan.

Apakah sudah separah itu?

Sekarang sih sudah agak membaik, kalau dulu sedikit sekali yang memperhatikan. Orang masih berpikir dua kali kalau mau membeli lukisan Bali tradisi, karena terlalu mahal. Kalau orang yang mau mengenal lukisan Bali lebih dalam pasti akan tahu kalau lukisan Bali tradisi sangat bernilai. Bukan semata nilai komersilnya saja, tapi juga dari nilai pengabdian terhadap pelestariannya. Saya bersama Bapak berkewajiban untuk mengelola galeri ini dan membantu seniman-seniman, karena kami punya tanggung jawab sendiri dalam melestarikan seni lukis Peliatan.

Sejauh ini apakah pemerintah telah ikut berpatisipasi terhadap langkah galeri Anda dalam pelestarian lukisan tradisional Bali?

Sebenarnya, kita butuh wacana dan dukungan dari pemerintah untuk membuat pameran. Pemerintah memang sudah memberi support, tapi kontekstualnya lebih untuk museum-museum. Kalau museum buat event, barulah pemerintah yang support. Tetapi, kalau untuk galeri seni masih minim. Kalau kita bicara Ubud, di Peliatan sendiri, pernah beberapa kali kita adakan pameran seni Desa Peliatan bersama tokoh-tokoh di sini, di mana seniman tua berkolaborasi dengan seniman muda. Tahun 2009 lalu sempat kami gelar pameran eksklusif di Sumerta Gallery ini. Saya juga kerap mengikuti lelang-lelang lukisan dan di sana lah saya perkenalkan keindahan lukisan Bali tradisi.

Bagaimana dengan generasi muda? Apakah tidak ada yang peduli dan mau melestarikan lukisan tradisional Bali?

Generasi muda yang melukis? Itulah yang masih sangat saya sayangkan. Memang kini masih ada beberapa yang bertahan dan cukup banyak sebetulnya. Tapi yang mau mempertahankan kelestarian seni lukisan Bali tradisi masih terbilang sedikit. Mempertahankan ini bukan sekadar gembar-gembor dalam perkataan saja, tapi juga harus tercermin dalam tindakannya; turun langsung ke pelukis, apresiasi karya mereka, main ke galeri-galeri, lihat dan belajar di sana. Dari sanalah, baru bisa tumbuh rasa memiliki seni Bali.

Bagaimana dengan apresiasi orang luar Bali (domestik maupun mancanegara) terhadap lukisan tradisional Bali?

Memang masih banyak orang luar yang mengapresiasi lukisan Bali tradisi ketimbang orang Balinya sendiri. Misalkan, banyak karya lukisan bergaya Kamasan yang bisa dibilang masterpiece dikoleksi di Museum Nasional Australia. Lukisan-lukisan tradisi Bali juga banyak dipajang di Leiden, Belanda.  Pernah saya beberapa kali mengalami harus membeli lukisan Bali tradisi yang langka dari orang asing. Karena lukisan yang seperti itu sudah enggak ada lagi di Bali. Aneh ya kedengarannnya, kita harus beli karya orang kita sendiri dari orang luar negeri. Seperti, salah satu koleksi galeri kami yang pernah saya temukan sedang dilelang di eBay. Sepengetahuan saya dulu lukisan itu dijual pada tahun 1987 ke orang asing, harganya sekitar 5 juta tetapi setelah beberapa puluh tahun kemudian saya temukan di eBay malah dijual puluhan juta.

Memangnya apa kelebihan dari lukisan tradisional Bali di mata Anda?

Lukisan tradisional Bali itu bisa dibilang sebagai karya klasik yang langka. Memang tidak seperti  karya kontemporer yang baik secara komersial. Tapi resiko kalau pasar sudah jenuh dengan karya kontemporer, tidak akan ada lagi yang akan mau beli, apalagi dengan harga mahal. Ujung-ujungnya perang harga. Kalau lukisan Bali tradisi seperti ini malahan kalau didiamkan beberapa tahun lagi akan semakin mahal, karena saking langkanya. Yang dulu belinya hanya 2 juta, sepuluh tahun lagi akan melonjak jadi 50 juta. Yang menariknya lagi lukisan Bali tradisi itu sudah kayak signature tersendiri; ada ciri khasnya. Orang Bali disuruh ngelukis gaya modern kontemporer pasti bisa, tapi orang luar disuruh melukis dengan gaya Bali tradisional, belum tentu bisa. Itulah keunikannya. Lukisan Bali menarik dari segi teknik, prosesnya lama dan perlu kesabaran dan sense of art yang enggak bisa instan serta adaptasi terhadap lingkungan sekitar. Lukisan tradisional Bali juga sarat edukasi. Banyak tema yang diangkat dengan muatan cerita, seputar kehidupan masyarakat dan lakon pewayangan. Itu value-nya besar sekali. Andaikan ada lukisan bertema Melasti dipajang di ruangan keluarga dan di sana ada anak-anak Anda yang sudah pasti akan bertanya tentang kisah di balik lukisan tersebut. Lukisan tentu bisa jadi media yang baik untuk anak-anak belajar mengenal tradisi dan budayanya. Kadang orang nggak ngeh tentang itu dan menganggap keberadaan lukisan hanya sebatas dekorasi saja.

Pernahkah ada yang mencoba menjiplak koleksi karya di Sumerta Gallery?

Pernah beberapa kali saya alami karya-karya di galeri saya diplagiat. Mereka ingin menunggu apa yang galeri saya punya, karena mereka juga ingin punya seperti yang kami pajang. Mereka enggak mau berproses, hanya metik hasilnya. Mereka tidak mau mengalami suka duka dengan senimannya. Sampai cara saya membingkai saja di copy-paste. Mereka nggak tahu bagaimana perjuangan saya dan seniman untuk mewujudkan lukisan tersebut. Bagaimana proses saya agar bisa mengorbitkan lukisan itu. Terkadang saya temukan seniman yang barangkali karya pertamanya biasa-biasa saja, tapi toh saya punya keyakinan dia punya bakat lebih dari itu. Lalu coba saya arahkan dan poles lagi, akhirnya ia bisa menghasilkan karya lebih dari sebelumnya.

Beberapa kali saya gambling juga untuk bisa mengetes pasar; mana yang bagus. Pelukis yang awalnya karyanya dihargai 25 juta, sekarang bisa lho karyanya mencapai 200 juta. Tapi jeleknya ada beberapa pelukis yang saat sudah sukses, malah pergi melupakan saya. Saya harapkan pelukis itu enggak cuma bisa melukis, tapi dia juga mestinya punya komitmen yang baik, punya integritas yang baik, punya hati nurani yang baik, dan cita-cita untuk maju bersama.

Bagaimana dengan atmosfer kompetisi antara sesama pelukis atau pun sesama galeri?

Saya sangat mengharapkan, jika sesama pelukis bisa saling berkompetisi secara sehat, karena itu akan meningkatkan daya kreativitas mereka. Tapi di lapangan yang justru bersaing ketat adalah artshop dan galeri. Meski dibedakan ya artshop itu kan toko seni. Kalau kita sebagai fine gallery tentu karya yang ditawarkan memang berkualitas dan tidak asal-asalan diseleksi; pelukis tidak asal pelukis, serta material yang digunakan juga terbaik. Belum lagi kalau di artshop, sering terjadi perang komisi. Tapi kalau saya enggak mau merusak karya dan seniman Bali itu sendiri. Saya sempat dimusuhin dari galeri-galeri di luar. Saya dibilang perusak harga. Justru seniman tidak akan berkembang, kalau harganya tidak mengalami perubahan. Paradigma ini yang ingin saya ubah. Kalau ada karya yang bagus, saya berani bayar dua kali lipat dari tawaran galeri lainnya. Pelukis kalau tidak diapresiasi dengan baik, tidak akan ada tantangan untuk berkarya lebih bagus.

Sejauh pengalaman Anda, apakah galeri seni mampu menawarkan prospek bisnis yang cerah?

Memang kalau dari segi bisnis, bisnis semacam galeri seperti ini di era sekarang tentu tidak ada apanya. Tapi seperti yang telah saya katakan sebelumnya, saya dan Bapak ingin terus mempertahankan karena berlandaskan atas pengabdian dan pelestarian terhadap seni dan budaya Bali.

Apakah keberadaan Bebek Tepi Sawah mampu memberi dampak yang signifikan terhadap perkembangan Sumerta Gallery?

Berkat adanya Bebek Tepi Sawah juga membantu mendongkrak peningkatan tamu yang berkunjung. Peluang dapat tamu yang bagus juga terlihat. Galeri kita juga memang sudah punya kolektor dan pengunjung tetap. Lukisan gaya tradisional Bali sendiri makin tahun, makin bagus apresiasinya, terutama dari sejumlah kolektor dan pencinta seni. Bukan hanya yang tua, tapi banyak pengusaha muda di luaran sana yang juga mulai aware dengan itu. Sejauh ini saya punya kolektor tetap selalu dari luar Bali saja, seperti dari Singapura, Hongkong, Australia, Eropa, dll. Harapan saya pengusaha Bali juga semestinya mulai sedikit peduli dengan lukisan tradisional Bali. Sebenarnya, saya serba dilematis, karena semua lukisan yang bagus malah jadinya keluar terus, tidak lagi beredar di lokal, karena anak negeri sendiri jarang mau mengoleksinya. Miris ya. Memang selera terhadap seni itu bebas, ya enggak bisa dipaksakan. Tapi, tidak bisa memungkiri juga secara komersil, ketika barang tersebut menjadi suatu yang langka dan valuable, kita jadinya harus balik ke luar negeri membelinya; membeli karya buatan negeri sendiri. Saya tidak menyalahkan dengan kondisi sedikitnya orang Bali yang tertarik membeli lukisan tradisional Bali.

Harapan apa lagi yang belum tercapai dan sangat ingin Anda wujudkan saat ini?

Saya sangat berharap akan ada generasi pelukis Bali yang terus mau melestarikan gaya lukisan tradisional bali. Selain itu, juga kepedulian para pengusaha Bali untuk melirik dan mengoleksi lukisan Bali tradisi demi mendukung pelestariannya serta menyelamatkan regenerasi seniman itu sendiri, tidak hanya karyanya saja. Agustus nanti, kami berencana menggelar pameran lukisan yang membawa sinergi anatara pelukis tua dan muda.

About admin

Check Also

Damayanthi “Ogek” Putri Suardana – Move On dengan MOV

Keisengan anak muda adalah kreativitas yang dicari dunia. Bukankah sudah banyak bukti, pencipta media sosial yang sekarang seakan mengendalikan dunia maya facebook.

Awalnya adalah keisengan Mark Zuckerberg untuk membuat komunitas digital di kampusnya. Tapi yang kita lihat sekarang adalah perusahaan dengan harga saham yang selangit, mengakuisisi beberapa perusahaan teknologi dan menjadi korporat raksasa di dunia.

Tak hanya satu contoh saja, ada Evan Spiegel pencipta aplikasi Snapchat dengan keisengannya untuk mengejutkan seorang temannya. Ilkaa Pananen, si seniman yang menuangkan seni dalam game sejuta umat, COC. Tony Hsieh dengan keinginannya menjual sepatu via online yang tak terpikirkan waktu itu. Dan satu lagi penemu Virtual Reality, Palmer Luckey, bocah berusia 19 tahun yang ingin masuk dunia game. Bukankah semua adalah sebuah keisengan dan imajinasi yang tak terpikirkan sebelumnya?

Namun di tangan anak-anak muda itulah dunia berubah. Era Globalisasi adalah sebuah era yang memberikan kesempatan manusia sama rata. William Tanuwijaya, founder Tokopedia.com mengatakan, “era Internet membuat seorang underdog pun memiliki kesempatan yang sama seperti kesempatan para juara.”

Ini yang menjadi bagian dari sebuah kisah hidup dara manis kelahiran Denpasar, 29 maret 1994 silam. Berawal dari ketidakpuasan akan model sepatu yang kerap kali ia jumpai di toko sepatu biasa, dan keisengannya untuk mendesain sepatunya sendiri, kini ia merintis toko online sepatu buatan tangan dan desain dari dirinya sendiri.

Ia bertutur, “awalnya saya susah mendapatkan sepatu yang pas dengan kaki saya yang berukuran lumayan besar 26 cm. Lalu iseng-iseng buat sepatu untuk digunakan sendiri, ternyata teman-teman banyak yang suka. Akhirnya memutuskan untuk berjualan handmade shoes.

Gadis yang bernama lengkap Damayanti Putri Suardana ini sebelumnya bukanlah seorang yang dibilang biasa-biasa saja. Ia adalah anak dari Prof.Dr. IB. Raka Suardana, guru besar di Universitas Udayana dan Gusti Ayu Sri Ardhini yang berprofesi sebagai wartawan.

Dengan bibit, bebet dan bobot yang begitu meyakinkan, Ogek, begitu sapaannya, dikenal memiliki segudang bakat dan prestasi. Siapa sangka gadis manis ini memiliki bakat bernyanyi ketika SD. soal bakat tarik suara ini, ia memiliki kenangan yang begitu spesial. Di usia 10 tahun, atau duduk di Kelas IV SDK Harapan, Ogek mendapat kesempatan menyanyi di Istana merdeka. Tidak tanggung-tanggung, Ogek menyanyi di depan Presiden RI, waktu itu Ibu Megawati Soekarnoputri. ”Pengalaman yang tidak mudah dilupakan, bisa nyanyi di depan Presiden, bisa langsung tatap muka dengan pemimpin negara tercinta ini,” kenangnya. Ogek juga pernah menyandang predikat Delegasi Anak Badung 2010, Duta Endek 2012, Puteri Bali Berbakat 2015 dan segudang prestasi lainnya.

Kini Jebolan Ilmu Komunikasi Universitas Udayana tersebut disibukkan dengan keisengannya yang malah menjadikan ia semakin sukses. Yups, mendirikan toko sepatu di tahun 2012 lalu, sekarang Ogek mulai kebanjiran order dari seluruh penjuru, bahkan sampai datang dari Negeri Jiran Malaysia.

Toko sepatu online yang ia beri nama MOV shoes tersebut kini sedang terfokus pada penjualan via online dengan memanfaatkan akun Instagram @MOV_id yang memiliki 20.000 followers lebih. Di sela-sela kesibukannya berbisnis, Ogek juga sibuk mengerjakan tesis untuk gelar masternya di Universitas Airlangga Surabaya. Bagaimana gadis cantik ini memulai bisnisnya, berikut adalah paparan wawancara kami bersama Ida Ayu Damayanthi Putri Suardana.

Sekarang sedang sibuk apa?

Kalau sekarang sih, masih kuliah master di Airlangga Surabaya. Ya, sambil mengembangkan usaha juga. Itu aja sih, sesekali juga jalankan hobi, travelling, jalan-jalan.

Bisa ceritakan sedikit tentang diri Anda?

Lulus dari SMA Negeri 5 Denpasar, terus lanjut kuliah di s1 Ilmu Komunikasi Undiknas Denpasar, dan sekarang sedang mengambil s2 di Universitas Airlangga Surabaya. Saya anak ke 2 dari 4 bersaudara, Ayah saya Prof IB Raka Suardana, beliau Guru besar di Universitas Udayana. Kalau ibu, Gusti Ayu Sri Ardhini, profesinya wartawati.

Awal mula mengembangkan toko sepatu online seperti apa, karena keluarga Anda dari kalangan akademisi?

Ceritanya sih iseng aja. Awalnya saya susah mendapatkan sepatu yang pas dengan ukuran kaki saya yang lumayan besar, sizenya 26 cm. Lalu iseng-iseng buat sepatu untuk digunakan sendiri, ternyata teman-teman saya banyak yang suka. Akhirnya memutuskan untuk berjualan handmade shoes. Mula-mula buka pre-order wah ternyata laku keras. Dan akhirnya sekarang sudah buka yang ready stock.

Memang sedari kecil ingin berwirausaha?

Yups, emang dari SMP. Saya itu suka jualan, mulai dari MLM sampai Palaguda, ‘Apa Lu Mau Gue Ada’. hahaha, jadi macem-macem saya pernah jual.

Kenapa memilih nama MOV Shoes?

Awalnya brand ini belum terbentuk. Saya memulai usaha handmade shoes ini di tahun 2012. Nah waktu itu belum ada brand nih, di pertengahan tahun 2013 baru kepikiran untuk buat brand, karena udah mulai banyak yang pesan. Cari-cari, eh akhirnya ketemu kata ‘move’. Akhirnya saya singkat menjadi MOV berasal dari kata move, artinya pindah. Pindah dengan melangkah. melangkah bersama MOV, he.. he.. he..

Berapa keuntungan per bulan?

Tergantung ya, kadang bisa sepi kadang bisa ramai, kalau ada bazar biasanya jauh lebih banyak.

Bagaimana dengan desainnya?

Semua sepatu yang ada di MOV shoes adaah desain dari saya. Namanya juga handmade shoes ya, jadi memang benar-benar buatan tangan. Tapi untuk produksi, saya punya karyawan untuk itu.

Sekarang sudah berapa karyawan?

Untuk karyawan di bagian administrasi ada 2 orang, sementara di bagian produksi ada 3 orang. Apa pernah sampai ekspor ke luar negeri? Bukan ekspor sih, tapi kita sih pernah shipping sampai Malaysia.

Kenapa enggak pakai marketplace seperti tokopedia, bukalapak dan lainnya?

Ya untuk sementara saya manfaatkan akun Instagram dan beberapa sosial media. Dan baru-baru ini kami lagi mau masuk Berrybenka, doakan yah.

Bagaimana tanggapan Anda tentang kompetitor di bisnis ini?

Wah, kalau saya sih memandang kompetitor seperti ini, kompetitor itu bikin saya makin kreatif dalam mengembangkan model sepatu kami. Karena apapun usahanya, pasti selalu ada kompetitor, yang penting bersaing secara sehat saja. Begitu sih menurut saya

Siapa mentor Anda?

Ibu, beliau selalu mendukung saya, kadang malah ibu yang suka excited buat model baru dan beli display untuk sepatu, ha..ha.. ha..

Apa kutipan favorit Anda?

Motivation is what gets you started. Habit is what keeps you going, ini quote dari Jim Rohn.

Harapan-harapan Anda ke depan?

Semoga bisa makin dikenal masyarakat luas, dan pastinya bisa export beneran keluar negeri juga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *