Thursday , July 18 2019
Home / Role Model / Michael Moritz – Sentuhan Sang Midas

Michael Moritz – Sentuhan Sang Midas

Tiap kali membaca biografi start up yang sukses, kita kerap bertemu dengan nama sosok yang stau ini. Bahkan ketika sejumlah startup digital di Indonesia berkembang, nama sosok ini pum kembali disebut-sebut.

Kalau Anda masih awam dengan nama Michael Moritz, mungkin Anda mengenal nama Sequoia Capital. Yup, inilah perusahaan penyandang dana yang habis-habisan berinvestasi di sejumlah perusahaan digital, sejak era bubble dot com di Amerika, hingga saat ini ketika jejaring mayaini menginvasi negara-negara Asia. Dan Moritz, adalah driver dari perusahaan Ventura ini. Di tangannya perusahaan ini sukses berinvestasi disejumlah bisnis yang kini bernilai miliaran dollar.

Dilahirkan pada tahun 1954, Sir Michael Jonathan Moritz lahir dari keluarga Yahudi di Cardiff, Wales. Ia tumbuh dengan keperihatinan, ketika itu Inggris mengalami fase yang berat, ada pemogokan gas dan pemogokan batubara yang suram dan menyedihkan. Namun itu tidak menghalanginya dalam menjalankan pendidikannya. Moritz belajar di Sekolah Tinggi Howardian di Cardif sebelum pindah ke Gereja Christ, Oxford, dimana ia menerima gelar Bachelor of Arts dalam sejarah. Di tahun 1978, Moritz menerima gelar Master of Business Administartion dari Wharton School of University of Pennsylvania sebagai Thouron Scholar. Namun sekalipun ia menyandang gelar dalam bidang bisnis, Moritz justru berkecimpung dalam bidang jurnalis sebagai pekerjaan pertamanya.

“Saya datang ke Amerika pada tahun 1976 tanpa benar-benar mengenal siapa pum di sini. Tidak ada rencana besar apapun. Aku menjadi koresponden untuk Time Magazine dan dipindahkan ke San Fransisco,” ujarnya dalam www.sequoiacap.com.

Amerika memang dibangun di atas imigran, dan Moritz menjadi bagian di dalamnya selama bertahun-tahun. Dari sinilah ia kemudian mulai bersinggungan dengan dunia digital. Perjalanannya berkariri membawanya berjumpa dengan Steve Jobs, yang memintanya untuk mendokumentasikan perkembangan Mac dalam sebuah buku yang sedang ditulisnya tentang Apple pada tahun 1980-an. Menurut Andy Hertzfeld, Jobs mengatakan bahwa “Mike akan menjadi sejarawan.” Pada akhir tahun 1982, Moritz sudah menjabat sebagai Kepala Biro San Fransisco Time Magazine, ia pernah melakukan wawancara panjang dengan pacar Jobs dimasa ‘SMA, Chrisann Brennan, yang kemudian melahirkan seorang anak bernama Lisa. Belakangan, nama Lisa menjadi salah satu nama dari produk yang dikeluarkan oleh Jobs.

Namun sayang, hubungan mesra Moritz dan Jobs tak lama. Ketika ia melanjutkan reportasenya tentang Steve Jobs bersama perusahaannya, Moritz melihat ada sisi lain dari sosok Steve yang cerdas. Steve mendapat pandangan negatif dari karyawan Apple, dan juga menunjukkan sikap penolakan kepada anaknya. Time kemudian menerbitkan laporan Moritz ini dalam bentuk edisi khusus, yang dalam hasil liputannya membeberkan soal sikap Steve di ilustrasikan lebih seperti mesin daripada manusia. TIME’s Man of the Year for 1982, the greatest influence for good or evil, is not a man at all. It is a machine: the computer. Judul dalam edisi tersebut. Kontan, hal ini berujung kemarahan steve Jobs yang berujung dengan pemutusan hubungannya dengan Moritz.

Ketertarikan pada bidang teknologi akhirnya membawa Moritz bergabung dengan sequoia Capital di tahun 1986. Dan masih dalam bidang media dan jurnalistik untuk perusahaan tersebut. Kemudian ia mendirikan Technologic Partners, sebuah media buletin yang mengupas soal teknologi. Dari sinilah kemudian segalanya berkembang. Karirnya menanjak dan ia mulai mendapat kepercayaan untuk memegang kendali perusahaan. langkah besarnya adalah ketika membawa sequoia berinvestasi di Google, Yahoo!, skyscanner, PayPal, Webvan, YouTube, eToys, dan Zappos. Dan sebagaimana kita ketahui, ini adalah daftar dari perusahaan-perusahaan paling sukses dijagat bumi saat ini. Iapun kemudian dinobatkan sebagai no 1 kapitalis Ventura yang memiliki sentuhan midas. Dan investasi ke Google pula yang membawanya menjadi salah satu orang terkaya versi majalah Forbes.

Pada tahun 2009, 25 tahun setelah liputannya soal steve Jobs. Moritz menerbitkan “The little Kingdom edisi revisi. Yang kali ini ia menceritakan bagaimana Apple dan steve Jobs mengubah dunia. ia juga mengatakan dalam prolog buku tersebut, bagaimana marahnya steve atas apa yang dilaporkan oleh Time ketika itu. Namun prestasi Moritz sudah tertancap. hubungannya dengan Apple dan steve mungkin tak berdampak, tapi sejumlah kalangan akademis memberikannya apresiasi. Pada bulan Juli 2010, Moritz dianugerahkan gelar kehormatan dari Cardiff university. Pada Mei 2012, ia mundur dari sequoia Capital karena alasan kesehatan.

Namun hal ini tidak menghentikannya mendapatkan perhormatan lainnya. Pada Juli 2014 ia menjadi anggota kehormatan dari Aberystwyth university. Pada bulan November 2014, Moritz diberi doktor Kehormatan (Doctor of letters honoris causa) dari hKusT atas prestasinya yang luar biasa. saat ini, sequoia juga menjadi salah satu perusahaan yang berinvestasi di sejumlah startup di Asia, termasuk salah satunya Tokopedia dan Go-Jek.

About admin

Check Also

Chris Gardner – The American Dream, Pelonjat Kuadran Paling Ekstrem!

Tidak sedikit penonton yang menitikan air mata saat  menyaksikan film berjudul The Pursuit of Happiness, yang dibintangi oleh Will Smith dan putra kandungnya, sebuah film yang menceritakan kehidupan seorang bernama Chris Gardner, sosok impian Amerika yang bertransformasi dari gelandangan menjadi multi jutawan.

Lahir di Milwaukee Winconsin pada 9 Februari 1954, dengan nama lengkap Christopher Gardner. Kehidupannya dimulai dengan kondisi memperihatinkan, sebagai satu-satunya anak laki-laki dalam keluarga dan diasuh oleh ibunya sebagai orang tua tunggal. Ibunya sendiri berprofesi sebagai guru, dan bekerja paruh waktu untuk mendapatkan tambahan pendapatan. Praktis Gardner tumbuh tanpa kasih sayang Ayah. Namun bagi Gardner, tempat terburuk di dunia adalah rumah dimana ia tinggal bersama ibu dan ayah tirinya, sosok ringan tangan dan dengan lebih kejam daripada disiplin militer Amerika Serikat.

Dalam perjalanannya, Gardner berpindah dari rumah saudara ke rumah panti asuhan. Setelah putus sekolah tinggi, Gardner berbohong tentang usia dan bergabung dengan US Navy. Ia berharap untuk menjadi seorang tenaga medis dan bisa keliling dunia, tetapi itu tidak pernah dicapainya. Ia hanya sampai di North Carolina. Namun, pengalaman itu mempertemukan Gardner ke seorang ahli bedah jantung, yang kemudian mempekerjakan Gardner sebagai asisten penelitian klinis di University of California Medical Centre di San Fransisco. Sekalipun pekerjaan ini dinikmatinya, namun penghasilan $7,400 per tahun mendorongnya untuk melakukan hal yan lebih. Hal ini kemudian menjadikan dirinya sebagai penjual alat medis dengan penghasilannya mencapai $ 16.000 per-tahun.

Namun periode titik balik dijumpainya ketika Gardner hendak memuat peralatan ke mobilnya, sebuah Ferrari merah melintasinya dan membuat Gardner langsung jatuh cinta. “Saya bertanya kepada pria pemilik Ferrari itu dua pertanyaan, “kenang Gardner. “Pertama apa yang Anda lakukan? Yang kedua adalah bagaimana Anda melakukan itu?

Jika Anda sudah menonton filmnya, maka Anda tentu sudah mengetahui kelanjutan ceritanya, karena seolah sudah ditakdirkan pengemudi Ferrari adalah seorang pialang saham. Ketika Gardner mendengar bahwa orang itu berpenghasilan lebih dari & 80.000 sebulan, ia memutuskan bahwa menjadi pialang saham adalah masa depannya. Tanpa pendidikan, tidak ada pengalaman, dan tidak ada koneksi, namun semua itu tidak menghentikan Gardner untuk mencapai mimpi barunya.

Gardner kemudian melamar diperusahaan sekuritas dan melewati berbagai seleksi ketat. Dengan kemampuan komunikasinya, Gardner mampu meyakinkan para petinggi perusahaan untuk menerimanya. Namun dengan status magang tanpa gaji selama beberapa bulan, menjadikan hal ini sebagai salah satu periode terkelam dalam hidupnya. Bekerja tanpa gaji dan secara bersamaan istrinya meninggalkan Gardner dengan seorang anak. Sebagai gelandangan karena tidak mampu membayar tempat tinggal. Tidur di kamar mandi stasiun kereta api bersama putranya, semabri menyempatkan waktu untuk menjual peralatan medisnya. Baru belakangan dirinya mulai mendapatkan tempat disebuah wisma khusus bagi gelandangan, namun wisma dengan jumlah kamar terbatas itu menjadikan Gardner dan putranya harus berlarian sepulang kerja untuk antri dan mendapatkan jatah kamar setiap harinya. Bajunya pun hanya dua pasang, dan harus dipakai bergantian ketika yang satu dicucinya.

Namun semangat dan kerja kerasnya perlahan mulai terbayarkan, salah satu bentuk kedisplinannya terlihat dengan bagaimana Gardner mengenakan dua buah jam tangan saat ini. Satu di tangan kiri menunjukkan waktu di Chicago, dan di kanan menunjukkan waktu di Afrika Selatan. Dia melakukan ini agar tidak pernah terlambat bekerja. Dia berkata, “Jika saya terlambat satu kali saja, maka saya akan rugi sebesar 50.000 dolar. Jadi saya pikir akan lebih murah jika saya mengenakan dua jam tangan.” Itu sebabnya Gardner tidak segan membeli jam tangan yang masing-masing seharga 10.000 dolar itu.

Selepas masa magang yang fenomenal karena Gardner mampu mendapatkan beberapa klien besar, dirinya kemudian diterima dengan bayaran sebagai pialang saham. Kejelian serta keluwesannya berinteraksi menjadikan karirnya meroket cepat dan mampu mendapatkan banyak klien yang bersedia keuangannya di kelola oleh Gardner.

Pada tahun 1987, Chris Gardner mendirikan perusahaan pialang, Gardner Rich & Co di Chicago, Illinois sebuah perusahaan pialang yang mengkhusukan diri dalam pelaksanaan utang, ekuitas dan transaksi produk-produk derivatif untuk beberapa lembaga terbesar negara, pensiun publik dan serikat pekerja. Perusahaan baru itu dimulainya dari apartemen kecil Presidential Towers, dengan modal awal sebesar $10.000 dan perabot meja kayu yang berfungsi sebagai meja makan keluarga. Gardner dilaporkan memiliki 75 persen dari perusahaan pialang saham dengan sisanya dimiliki oleh perusahaan Hedge Fund. Dia memilih nama “Gardner Rich” untuk perusahaannya karena ia menganggap Marc Rich, sebagai salah satu perusahaan berjangka yang paling sukses di dunia. Setelah Gardner menjual sahamnya dalam kesepakatan jutaan dolar pada 2006, ia menjadi CEO dan pendiri dari Christopher Gardner International Holdings dengan kantor di New York, Chicago dan San Francisco.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *