Thursday , July 18 2019
Home / Insight / Menguji Sistem Crowd

Menguji Sistem Crowd

Salah satu tren yang saat ini banyak dipakai oleh para pebisnis untuk memperoleh jasa-katakan saja soal desain adalah crowdsourcing desain. Dimana perusahaan menyerahkan pekerjaan desain yang biasanya dikerjakan oleh desainer pada sebuah komunitas desain terpercaya.

Hal ini pilihan yang paling menguntungkan. Jika perusahaan hanya menyerahkan pekerjaan kepada dua atau tiga desainer, maka dengan crowdsourcing, pekerjaan desain diserahkan kepada ratusan, ribuan bahkan puluhan ribu desainer. Bayangkan, betapa banyak pilihan desain yang bisa diperoleh, dan bahkan hal yang paling menyenangkan, semua itu bisa didapatkan dalam waktu cepat dan harga terjangkau. Inilah keuntungan dari sistem ini.

Namun bukan berarti tanpa kelemahan, crowdsourcing juga memiliki kekurangan, diantaranya dalam sisi keamanan. Besarna partisipasi masyarakat membuat kontrol terhadap segala informasi menjadi tidak terkendali. Sehingga semakin terbuka dan cepatnya akses menyebabkan penyebaran konten yang tidak bertanggung jawab. Dalam bidang desain misalkan, kita tidak tahu apakah betul desain yang dikerjakan oleh desainer-desainer outsource tersebut otentik hasil karya mereka, jangan-jangan mereka pun main comot dari desain orang lain, hal ini tentu saja mengundang konflik jika dipermasalahkan dikemudian hari. Belum lagi jika desain yang ditiru ternyata milik kompetitor yang sebelumnya tidak pernah disadari, maka reputasi perusahaan pun jatuh karenanya.

Itu sebabnya, saat ini perusahaan-perusahaan besar, belum banyak yang  menyerahkan sepenuhnya proyek mereka kepada situs crowdsourcing, mereka lebih suka melemparkan proyeknya ke perusahaan-perusahaan agency terutama yang sudah mereka kenal dan memiliki reputasi terpercaya. Kalaupun ada perusahaan besar yang menggunakan cara kerja ini, mereka sangat berhati-hati dalam proses pengadaannya.

About admin

Check Also

Cara-Cara Baru berkarir di Era Baru

Bagaimanapun juga, kemajuan teknologi telah menstimulasi sejumlah perubahan cara kerja, yang ujung-ujungnya, menjadikan para Gen C, generasi digital yang selalu terkoneksi (connected), bekerja tanpa ampun, seolah energinya tak pernah habis.

Yang sayangnya, mereka salah, energi itu sumber daya tak terbatas, terkadang berbagai upaya lebih itu tidak cukup, tidak sanggup membawa kita pada perubahan yang kita inginkan, terhadap tujuan yang kita tetapkan. Lalu apa yang salah?

Seperti yang para ahli bilang, sukses itu ada caranya, dan kita tidak bisa mendapatkan hal yang sama dengan cara yang berbeda. Namun persoalannya, cara baru ini belum banyak diketahui, kebanyakan orang masih terperangkap dengan cara kerja lama, cara kerja yang membawa era industri sukses dimasanya. Namun hari ini, banyak hal telah membuktikan, cara itu tak lagi mujarab.

Hal ini juga dipertegas oleh career coach Rene Suhardono ketika dirinya diundang sebagai pembicara di BPR Lestari. Ia mengatakan, dulu label-label recording besar menentukan selera pasar, musik seperti apa yang harus mereka dengarkan, aliran dan bakat-bakat tertentu, tak bisa dengan mudah mendapat kesempatan untuk membuat album dan memamerkan talentanya, “ujarnya. Sekarang, Youtube dan berbagai daring (online) sejenis memutus aliran tersebut, memunculkan sejumlah artis-artis baru dan profesi bernama Youtubers. Dan hebatnya, hal ini juga mengubur eksistensi industri rekaman secara drastis.

Dulu, kita harus membuat proposal yang tebal, mencantumkan berbagai hal agar mendapat persetujuan dari investor atas ide-ide dan gagasan kita, sekarang crowfunding memungkinkan kita mendapatkan pendanaan dari patungan masal secara online. Dulu, kita gerilya untuk mencari klien, sekarang crowsourching memberi kesempatan untuk kita berkompetisi mendapatkan proyek dengan cara yang sangat fair.

Akses menjadi tak terbatas, kemungkinan dan peluang ada dimana-mana, pun demikian dengan resiko dan tanggung jawabnya. Semuanya tergantung pada kita, sejauh mana kita bisa mengelola diri dan karir agar terus berkembang. Dulu jabatan itu layaknya anak tangga, seiring waktu dan prestasi kita akan menapakinya setahap demi setahap.. sekarang, perjalanan karir itu bak tebing karang yang luas, penuh onak dan duri, tidak ada rute khusus, kita bisa melompat dengan bebas dari satu pijakan ke pijakan lain.

Dulu, ada panduan karir dari perusahaan agar kompetensi kita berkembang, sekarang kita bertanggung jawab terhadap diri kita sendiri, tak ada mentor sempurna yang akan datang memberi uluran tangan jika kita tak mencarinya.

Persoalannya, belum banyak orang yang membahas secar detil dan rinci, bagaimana kita berkembang di dunia saat ini. Bahkan Scott Belski (pendiri Behance) menyebutnya sebagai kurikulum yang hilang. Atau lebih tepatnya, adalah kurikulum yang belum dirancang.

Kabar baiknya, kita bisa belajar dari mereka yang telah lebih dulu meraih kesuksesannya di era saat ini. Mereka dengan kreatif mampu menciptakan peluang dan membangun karirnya hingga pada posisi terbaik. Jerry Aurum misalkan, fotografer beken dengan segudang prestasi. Lulusan Desain Komunikasi Visual , Institut Teknologi Bandung (ITB) ini tertarik terjun ke bisnis jasa tersebut karena melihat potensi besar. Cara awal untuk berkiprah-pun cukup unik, ia mempromosikan karyanya kepada klien menggunakan medium kalender, sambil memamerkan foto-fotonya. Kalender kecil sebanyak 300 buah ia sebarkan ke perusahaan-perusahaan dengan tujuan mendapatkan job memotret.

“Saya bekerjasama dengan teman-teman yang masuh kuliah pada saat itu untuk memproduksi kalender ini.

Dicetak sebagian untuk dijual, yang hasil penjualannya menutup seluruh ongkos produksi. Sisanya sebanyak 300 eksemplar saya bawa ke Jakarta untuk disebarkan kepada advertising dan sejumlah perusahaan. Kalender itu juga merupakan portofolio saya. Jadi portofolio saya bertengger di meja orang,” urainya kepada reporter Money&I.

Usahanya itu pun tak sia-sia. Jerry mendapatkan beberapa project dari promosi sederhananya itu, dan secara bertahap, akhirnya membawa Jeery pada posisinya saat ini.

Kunci dari pekerja kreatif adalah keberanian mereka untuk berkarya, dan ketika apa-apa yang mereka hasilkan itu bermanfaat, maka hanya soal waktu saja sebelum kesuksesan lainnya datang. Bagaimana dengan Anda?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *