Sunday , May 26 2019
Home / Start Up / KULKUL – MARKETING COMMUNICATION STARTUP RACIKAN LOKAL

KULKUL – MARKETING COMMUNICATION STARTUP RACIKAN LOKAL

Empat anak muda Bali berkumpul menciptakan sebuah sistem komunikasi pemasaran digital yang berfilosofi Kulkul.

Di Bali, Kulkul dikenal sebagai alat komunikasi tradisional yang membantu menyebarkan informasi ke tengah-tengah masyarakatnya. Alat yang umumnya terbuat dari bambu ini bekerja dengan cara dipukul beberapa kali, sehingga menghasilkan bunyi-bunyian yang direspon sebagai kode tertentu oleh masyarakat. Berangkat dari peranan Kulkul sebagai alat komunikasi sosial inilah menginspirasi Anggha Sanjaya, Barayuda Gautama, Dhika Putra, dan Tirta Keniten untuk menggunakan nama tersebut sebagai brand usaha mereka.

“Kami memutuskan untuk memakai nama Kulkul demi mengangkat identitas Bali. Di samping, karena spirit yang dibawa oleh Kulkul itu sendiri sama dengan visi dan misi yang kami miliki,” terang Anggha yang bertanggung jawab pada hal-hal teknis seperti interface hingga user experience di Kulkul. Kulkul adalah salah satu startup Bali yang berhasil mendapatkan fasilitas inkubasi bisnis dari Balai Diklat Industri Denpasar (BID). Empat anak muda lulusan diploma Informatika, Wearness Education Centre ini tengah merintis sebuah brand startup company yang fokus pada marketing communication strategy.

Anggha mengungkapkan bahwa startup company-nya ini memang cenderung banyak mengambil project yang bersentuhan langsung dengan para pelaku bisnis, terutama berkaitan dengan strategi digital komunikasi pemasaran. “Banyak permintaan akan proyek programming yang cenderung berhubungan dengan marketing, digital marketing. Kenapa kita enggak bikin satu paket internet marketing saja. Dan tercetus bikin satu aplikasi layanan,” terang Dhika Putra selaku Chef Operation Manager di Kulkul. Adapun jasa yang mereka tawarkan, meliputi internet marketing consultant, web design & development, desktop & mobile apps development, logo & product and company branding.

Meski telah saling mengenal dan berkolaborasi di berbagai project startup sejak 2011, keempat pemuda ini awalnya belum memiliki satu payung usaha yang mengikat mereka. “Dulu kami enggak ada benderanya. Awalnya ada project, kita bikin bareng-bareng. Lalu kita berpikir kenapa enggak bikin satu bendera saja, supaya klien juga lebih yakin dengan kinerja dan profesionalitas kita serta secara hokum pun akan kuat jika punya satu badan usaha bersama. Maka tercetuslah pendirian Kulkul pada 2014 lalu,” papar Anggha.

Meski secara resmi brand Kulkul mengudara baru satu tahun, namun pergerakan bisnis mereka cukup memberi sinya positif. Bahkan, Kulkul menciptakan sebuah aplikasai layanan bernama Gatra. Gatra sendiri merupakan sebuah aplikasi layanan email blast, di mana sistemnya mampu mengirimkan email secara massal dengan cepat dan mudah. Aplikasi layanan ini mengingatkan kita pada aplikasi email blast semacam Mail Chimp.

“Ide Gatra ini berawal dari banyaknya klien kami yang berasal dari villa maupun hotel yang sering punya kendala di marketing, terutama dalam hal sistem email blast. Mereka tahu ada beberapa aplikasi yang bisa membantu kendala mereka tersebut, tetapi ketika dicoba malah sangat membingungkan. Nah, dari sana kami coba menawarkan solusi dengan sistem email blast yang lebih sederhana lewat Gatra,” ujar Barayuda Gautama yang bertugas sebagai Business Relations di Kulkul

Pemilihan nama Gatra untuk produk aplikasi mereka tersebut juga dipikirkan secara matang. Dengan pertimbanga bahwa nama aplikasi harus memiliki korelasi dengan brand startup company mereka. Dipilihlah nama Gatra yang berarti “kabar”. “Sehingga orang dengar nama Gatra dan Kulkul punya kesan identic,” kata Tirta Keniten yang mengurusi hal teknis di Kulku, seperti email dan server.

Cara kerja Gatra pun hampir sama dengan aplikasi email blast pada umumnya, hanya saja fitur-fiturnya lebih disederhanakan. Pengguna baru bisa memulainya dengan registasi akun terlebih dahulu, baru kemudian bisa login dan mendaftar subscriber mereka. Kemudian langsung bisa merancang marketing campaign dan memilih template yang diinginkan. Usai email dikirim secara massal akan ada notifikasi yang melaporkan seberapa banyak email yang telah sampai dan dibaca oleh alamat-alamat email tujuan.

Selain dirancang user-friendly, Gatra juga memungkinkan para pengembang dan pengguna untuk bisa mengakses sistem API nya, sehingga membuat para pengguna dengan lebih mudah mengintegrasikan dengan sistem yang mereka punya dan mengeksplorasi aplikasi Gatra. “Sistem aplikasi ini memang tidak mudah dan kami terus berusaha menyempurnakannya. Sistem API masih kami terus sempurnakan dan mencoba alternative untuk memasukan sistem API pihak ketiga ke dalam Gatra,” kata Anggha. Aplikasi ini pun targetnya dipasarkan untuk perusahaan-perusahaan perhotelan, villa, maupun travel agent di Bali. Aplikasi ini  baru akan launching pada bulan Juni 2015 dan akan ada versi trial di awal rilisnya.

Menariknya Kulkul juga mendesain Gatra, agar mendukung perkembangan bisnis UMKM. Barayuda mengatakan bahwa pada layanan free untuk Gatra sengaja diberikan ruang bagi para pelaku UMKM, agar bisa saling mempromosikan bisnis mereka. “Kita ingin Gatra ini bisa memberikan efek positif bagi para wirausawahan dan bisa sounding merek UMKM mereka di sini,” jelasnya.

Meski tanpa kendala teknis yang siginifikan, tetapi Kulkul sendiri merasa masih butuh resource development dalam hal ini pendanaan untuk menyempurnakan produk Gatra mereka. Beruntung BID tertarik dengan presentasi Gatra dan memberikan fasilitas inkubasi bisnis untuk mereka. “Di sini kami ingin belajar banyak, cari pengalaman dan relasi, agar produk kami bisa kuat secara bisnis,” pungkas Anggha.

About admin

Check Also

Reynazran Royono – Snapcart Aplikasi Pemasaran Dengan Ide Unik

“Sejak masa pra rilis hingga resmi dirilis, Snapcart diunduh hingga 12,000 tanpa ada kampanye marketing apapun, saat ini terdapat lebih dari 85,000 pengguna aktif setiap bulannya “

Ketika detik.com di akuisisi Transcrp dengan nominal yang kabarnya mencapai US$60 Juta atau Rp 500 Milyar pada tahun 2011 lalu, banyak yang kaget dengan berita tersebut. Bagaimana konten lokal yang di motori oleh sejumlah wartawan ini mampu menggebrak industri digital yang saat itu baru mulai bersemi. Apa yang terjadi pada detik.com rupanya awal dari bubble start up potensial di  Indonesia.

Mulai dar Tokopedia, Bukalapak, Sribu dan sejumlah start up lainnya bermunculan dan mendapatkan pendanaan dari berbagai investor. Bahkan gelontoran dana itu bukan hanya berasal dari dalam negeri, tapi justru dari luar negeri yang lebih dominan. Dan tidak sedikit dari sejumlah lembaga keuangan besar yang telah memiliki nama dan reputasi mentereng berperan sebagai angel investor. Dan pada tanggal 5 Januari 2016 lalu, satu lagi start up Indonesia mendapat atensi internasional. Aplikasi mobile asal Indonesia berlabel Snapcart memperoleh pendanaan pre-series A yang mencapai nominal US$1,675,000 dolar. Sejumlah patisipan dalam pendanaan ini adalah Wavemaker Partners, SPH Media Fund, SMDV dan Ardent Capital.

Bukan tanpa alasan sejumalh investor menaruh minat yang besar pada aplikasi ini, sejak diluncurkan pada 2 September 2015 lalu, traksi Snapcart telah bertumbuh cepat hingga lebih dari 150.000 download dan lebih dari 85.000 pengguna aktif bulanan.

Bagi Reynazran Royono, CEO dan pendiri Snapcart, ini adalah keberhasilan awal bagi rencana Snapcart kedepan. “saya percaya kami bisa mendapatkan kepercayaan dari para investor karena keberhasilan awal kami dalam menggandeng dua brand FMCG besar di Indonesia, Nestle dan L’Oreal,” ungkapnya. Bahkan traksi yang tinggi tersebut diperoleh tanpa kampanye marketing apapun. “Traksi yang kami dapatkan sejak masa pra rilis hingga resmi dirilis juga menakjubkan dengan 12.000 pengunduhan aplikasi. Dalam waktu yang relatif singkat kami juga berhasil bekerja sama dengan lebih dari 35 brand, termasuk brand dari Procter & Gamble dan Unilever,”ujar pemuda yang akrab dipanggil Rey ini.

Hal ini juga diakui oleh Paul Santos dari Wavemaker Partners, “ kemampuan untuk melakukan targeted engagements dan juga potensial big data, menjadikan Snapcart sebagai sebuah platform B2B yang unik di Asia Tenggara. Traksi yang didapat dari brand dan pengguna sangat menunjukkan kepada kami betapa besarnya potensi lekatnya layanan ini bagi konsumen di Indonesia, dan karena itu tidak ternilai harganya bagi brand offline dan retailer yang memanfaatkan teknologi mobile.”

Ekspansi Pasar & Layanan Baru
Rencananya, dengan dana sebesar ini, Snapcart akan menggunakannya untuk membangun produk-produk baru; termasuk fitur video engagements dan perangkat dashboard analitik. Fitur-fitur ini akan mengakomodasi brand dengan platform yang mereka butuhkan untuk melihat perilaku konsumen mereka secara real-time, serta membantu brand untuk memformulasikan rencana marketing mereka selanjutnya. Sebagai tambahan, Snapcart juga berencana untuk melakukan ekspansi ke setidaknya dua pasar lain di Asia Tenggara, dimulai dengan Filipina pada awal tahun 2016.

Selain itu, proffesional Mayeth Condicion, mantan direktur riset Procter & Gamble juga turut bergabung dengan Snapcart sebagai Chief Data officer and Co-Founder. Dengan pengalamannya yang ekstensif selama 17 tahun di bidang analitik dan wawasan konsumen di Asia, Mayeth akan memperkuat layanan untuk klien serta memimpin operasi di Filipina. Mayet sendiri telah berpengalaman memimpin berbagai proyek global selama di P&G untuk menjadikan riset pasar di masa depan lebih dari sekedar survei tradisional.

“Memanfaatkan basis pengguna Snapcart yang besar dan bertumbuh cepat, memberikan kami kemampuan untuk mempertemukan teknologi, ilmu data dan pemahaman konsumer, sehingga menghasilkan shopper insights yang lebih baik,” ujar Mayeth yang sangat bersemangat untuk membawa kapabilitas ini ke Asia Tenggara.

App Cashback
Snapcart sendiri adalah aplikasi yang memberikan cashback kepada para pelanggan untuk setiap foto struk yang mereka upload, dan memberikan brand sebuah platform untuk berinteraksi dengan pelanggan offline mereka. Selain memberikan brand wawasan perilaku konsumen mereka secara real time, Snapcart juga memberikan brand kesempatan untuk berinteraksi lebih lanjut dengan pelanggan offline mereka melalui pengisian survei dan selfie review. Jumlah pertanyaan survei yang telah dijawab dalam aplikasi sudah melebihi 150.000 pertanyaan, dengan rata-rata 500 pertanyaan terjawab setiap harinya.

Ketika diluncurkan pada awal September, Snapcart secara organik diunduh sebanyak 12.000 kali tanpa aktivitas marketing. Saat ini, traksinya telah secara cepat tumbuh ke lebih dari 150.000 unduhan, dan lebih dari 85.000 pengguna aktif bulanan. Snapcart saat ini sudah tersedia di Google App Store untuk ponsel Android, sementara versi ioS akan segera diluncurkan.

Dan belum lama ini, Snapcart juga memenangkan kompetisi Campaign Innovate yang diselenggarakan oleh Campaign Asia-Pacific dan disponsori oleh Monicom Media Group, suatu acara yang bertujuan untuk memberikan sebuah sarana untuk perusahaan-perusahaan startup di Asia-Pasifik untuk memberikan presentasi kepada brand-brand terbesar di dunia, dengan juri dari perusahaan-perusahaan FMCG multinasional seperti Unilever dan Mondelez. Kemampuan Snapcart untuk menggabungkan unsur hadiah dan bentuk analisis yang baru untuk brand adalah sebuah kombinasi yang sangat baik, yang mendorong Snapcart menjadi pemenang di antara puluhan perusahaan startup di kawasan regional ini.

Waktunya Bertumbuh
Saat ini, rencana jangka panjangpun telah disusun, dimana nantinya tahap pertama akan digunakan untuk pengumpulan data massal. laith Abu Rakty, CTo dari Snapcart menyampaikan, sekarang ini telah lebih dari struk yang diterima setiap harinya, sehingga sistem operasi yang ada harus di upgrade.

“Tahap pertama pengembangan kami lebih difokuskan kepada pengumpulan data massal dan akuisisi pengguna, aktivasi, dan engagement. Sekarang, dengan lebih dari seribu struk yang diterima setiap harinya, kami ingin menyempurnakan sistem otomatisasi dan meng-upgrade aplikasi yang ada. Di Indonesia, ada banyak format struk yang berbeda, bahkan di dalam waralaba ritel yang sama, sehingga menjadikannya lebih sulit untuk diotomatisasi. Ini adalah tantangan yang ingin kami atasi di tahap berikutnya,” ungkap laith.

Sementara untuk jangka pendek, maka Snapcart menargetkan untuk mencapai 1 juta pengunduh dalam waktu kurang dari setahun. “Akuisisi pengguna selalu ada dalam agenda, namun sekarang kami melakukannya dengan cara bermitra dengan perusahaan FMCG dan vertikal lainnya melalui kombinasi kegiatan offline dan pemasaran online. Snapcart berambisi untuk mencapai 1 juta pengunduh dalam waktu kurang dari setahun,” tambah Rey.

Sebelum mendirikan Snapcart, Reynazran menghabiskan 12 tahun di Procter & Gamble dan The boston Consulting Group sebelum memimpin berniaga.com (sekarang bergabung dengan olX.co.id), C2C situs iklan baris terkemuka di Asia Tenggara. Sementara partner-nya laith adalah seorang ahli teknologi dengan lebih dari tujuh tahun pengalaman meluncurkan e-commerce dan platform teknologi, termasuk bobobobo.com, situs belanja mewah dan wisata terkemuka di Indonesia.

Key Facts and Figures Snapcart – As Of January 2016
• Founded in March, 2015
• launched publicly in September,
2015
• Founders: Reynazran Royono , laith
Abu Rakty and Mayeth Condicion
• Headquartered in Jakarta, Indonesia
• Amount of Pre-series A funding:
USD $1,675,000
• 150,000 app downloads
• 85,000 monthly active users (MAU)
• 19 employees
• 35 brand partners
• expansion Plan: Philippines
• Investors: Ardent Capital,
Wavemaker Partners, SPH Media
Fund , Sinar Mas Digital Ventures

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *