Sunday , May 26 2019
Home / Interview / Jerry Aurum – Hampir Fotografer

Jerry Aurum – Hampir Fotografer

Menggeluti bisnis di bidang kreatif ternyata sangat menjanjikan. Salah satu yang saat ini sudah sangat matang model bisnisnya adalah fotografi. Meski persaingan bisnis di bidang ini cukup ketat, para pelaku usaha fotografi bisa mendatangkan profit besar bagi pelakunya.

Seperti yang dilakukan Jerry Aurum, seorang fotografer kece dengan segudang prestasi. Berawal dari hobi, Jerry mulai serius melakoni bisnis di bidang fotografi sejak ia lulus dari bangku kuliah. Lulusan Desain Komunikasi Visual, Institut Teknologi Bandung (ITB) ini tertarik terjun ke bisnis jasa tersebut karena melihat potensi besar. “Job pertama saya, dihitung-hitung pada saat itu, nilainya setara dengan gaji saya selama dua tahun,” kata Jerry.

Cara awal Jerry mempromosikan karyanya mempromosikan karyanya kepada klien pun terbilang unik. Ia menggunakan medium kalender untuk memamerkan foto-fotonya. Kalender kecil sebanyak 300 buah ia sebarkan ke perusahaan-perusahaan dengan tujuan mendapatkan job memotret. Usahanya itu pun tak sia-sia. Jerry mendapat beberapa projet dengan keuntungan yang melebihi targetnya.

Selain itu, Jerry juga telah menerbitkan empat buah buku foto, yakni Femalography (2006), In My Room (2009), Hampir Fotografi (2013), dan On White (2014). Tiga buku terbitnya merupakan buah dari idealisme Jerry, sedangkan buku Hampir Fotografi dibuat memang untuk tujuan mendapatkan profit. Untuk mengetahui lebih jauh tentang perjalanan bisnisnya, berikut adalah petikan wawancara eksklusif Money&I dengan Jerry Aurum.

Bisa diceritakan bagaimana Anda memulai karir sebagai fotografer?

Berawal dari hobi, saya mulai serius mengetahui fotografi mulai tahun 1992 waktu duduk di bangku SMA, yang kemudian berlanjut pada saat kuliah. Saya tamat kuliah pada tahun 1999, dari Jurusan Desain Komunikasi Visual di Institut Teknologi Bandung (ITB).

Kemudian, saya sempat bekerja selama hampir empat bulan, di dua perusahaan berbeda. Perusahaan pertama hanya tiga minggu, perusahaan yang kedua tiga bulan, kemudian saya langsung memutuskan untuk menjadi seorang fotografer profesional, ketika saya mulai mendapatkan job. Itu proyek saya yang pertama.

Baru proyek pertama, Anda sudah berani resign?

Karena job tersebut jika dihitung-hitung pada saat itu, nilainya setara dengan gaji saya selama dua tahun. Sedangkan job itu saya kerjakan kira-kria selama tiga hari. Menimbang hal itu, saya putuskan ‘oke saya berhenti dari pekerjaan yang lama’.

Job itu sendiri bisa saya dapatkan karena selama masih duduk di bangku SMA hingga kuliah, saya sudah rajin ikut lomba di tingkat Nasional maupun Internasional. Kemudian saya rajin mengirimkan foto untuk dimuat di majalah foto dan sebagainya.

Ketika saya masuk dari Bandung ke Jakarta, sembari bekerja, saya rajin mengirimlan portofolio ke advertising, ke berbagai perusahaan. Portofolio tersebut saya buat pada masa amatir, tapi mereka (klien) cukup senang. Kemudian memanggil say untuk job yang pertama, yaiut memotret sebuah perusahaan pertambangan di pedalaman Sumatera Selatan.

Saya mikirnya sederhana saja waktu itu, “job pertama ini setara gaji dua tahun” setelah ini saya tinggal lihat bagaimana selanjutnya. Kalau dapat job memotret lagi, saya akan terus jadi fotografer, kalau ternyata mandek, saya bisa kembali bekerja. Ternyata setelah dapat job pertama, saya dapat job kedua dan seterusnya hingga hari ini.

Belajar fotografi di mana?

Awalnya otodidak. Kemudian saya banyak belajar di klub fotografi yang bernama Perhimpunan Amatir Foto (PAF). PAF itu merupakan klub foto yang paling tua di Indonesia, pusatnya di Bandung. Dari situ terjaga hobi saya terhadap fotografi karena sering kumpul. Di PAF banyak kegiatan, ada lomba foto bulanan, ada pertemuan bulanan juga, dimana kita sering sekali mengundang pakar fotografi. Ada sekretariat juga tempat kami berkumpul. Jadi sehari-hari saya main di situ selama saya di Bandung.

Kabarnya Anda menggunakan kalender sebagai promosi awal. Bisa diceritakan soal itu?

Pada saat saya tamat kuliaj dulu, saya pergi ke Jakarta akhir tahun 1999. Saya sembari mencari uang tambahan, saya bekerjasama dengan toko souvenir ITB yang bernama TOOG atau Toko Oleh-oleh Ganesha. Kami menjual cendera mata segala yang berhubungan dengan Ganesha.

Saya bekerjasama dengan teman-teman yang masih kuliah pada saat itu untuk memproduksi kalender ini. Dicetak untuk sebagiannya dijual di sana, yang hasil penjualannya menutup seluruh ongkos produksi kami. Sisanya sebanyak 300 kalender saya bawa ke Jakarta untuk disebarkan kepada advertising dan perusahaan. Kalender itu juga merupakan portofolio saya.

Kenapa bentuknya kalender?

Saya pikir kalau portofolio dalam bentuk brosur, setelah dilihat akan masuk tempat sampah. Kalau kalender setelah dilihat masih dipajang di meja selama satu tahun penuh. Job yang saya peroleh selama tahun 2000 itu hampir seluruhnya dari portofolio yang bertengger di meja orang.

Jadi bisa dikatakan kalender ini sebagai awal usaha Anda?

Iya betul, bisa dikatakan memang memulainya dari si kalender kecil itu. Jadi kalendernya itu dimasukkan ke kotak disket, jadi sangat kecil sekali. Pada waktu itu saya berharap angka keberhasilan satu persen. Jadi dari 300 kalender yang dikirim, saya berharap hanya tiga project. Karena pada waktu itu perhitungan saya simple banget, dari tiga project ini bisa untuk modal memulai usaha. Jadi bisa untuk menyewa kantor, untuk beli alatnya seadanya. Ternyata yang dihasilkan dari kalender itu lebih banyak daripada tiga project keuntungannya.

Pada saat memulai karir, apakah alat-alat foto sudah lengkap?

Ini lebih gila lagi ceritanya. Jadi pada saat saya mendapatkan job yang pertama itu, membutuhkan kamera yang setidaknya kalau diperbesar tidak pecah. Saat itu saya menggunakan fol film, dengan kamera 35 mm yang keterbatasannya tinggi. Jadi kalau diperbesar, paling hanya mampu sebesar majalah, kalau lebih besar dari itu gambarnya kelihatan pecah.

Jadi kamera yang dibutuhkan adalah medium format. Nah kamera medium format ini harganya nggak murah, dan saya nggak punya modal. Jadi yang saya lakukan pada saat mendapatkan uang muka project yang pertama itu, saya berambisi membeli kamera dalam bentuk medium format.

Singkat cerita, saya dapat kamera bekas pakai dengan medium format merek Mamiya 645Pro beserta dengan tiga lensa senilai 8 juta rupiah saat itu. Setelah saya lihat barangnya bagus, saya bilang sama yang jual, “oke saya beli ini, kameranya dengan satu syarat, ajarin dulu gua cara pakai kameranya”. Itulah kamera yang saya pakai selama hampir empat tahun, sebelum akhirnya pindah ke kamera digital.

Masi ada kameranya ?

Masih.. masih. Kamera pertama tahun 1992, juga masih saya simpan tuh. Dan masih berfungsi dengan baik.

Apakah anda punya genre foto sendiri?

Saya paling suka itu portrait. Tapi dalam perjalanan karir, saya termasuk yang tidak punya genre, karena memang Indonesia itu adalah negara yang sifatnya masih generalis. Jadi kita kalau terburu-buru klaim genre, secara bisnis kita akan kekuranfan pekerjaan. Jadi dari awal karir hingga hari ini, saya selalu menyanggupi untuk memotret apa aja, selama klien meyakini hasil fotonya bagus.

Jadi pada akhirnya genre yang saya geluti saat ini adalah rentangnya luas sekali, mulai dari portrait , landscape, human interest, produk motret under water juga banyak, motret beauty juga kita banyak.

Apa strategi Anda sebagai seorang fotografer untuk menghadapi persaingan?

Persaingan fotografi sekarang jauh lebih ketat dibanding jaman saya mulai dulu ya, awal tahun 2000. Karena pada saat itu jumlah fotografer komersil bisa dihitung jari, apalagi yang masuk kategori serius, itu sedikit sekali. Saat itu fotografi adalah sesuatu yang menyeramkan, modalnya besar, skill juga harus bagus. Akhirnya yang berani memutuskan untuk terjun secara profesional full timetidak banyak. Tapi secara kompetisi cukup menguntungkan, karena pemainnya tidak banyak.

Nah sekarang siapa saja sudah bisa jadi fotografer, ya kan? Karena fotografi adalah ilmu yang sifatnya partikal, jadi siapa saja bisa belajar. Saya katakan, 10 tahun belakangan persaingan semakin ketat.

Apa cara Anda menyiasati kondisi itu?

Sejak tahun 2006, saya memilih project dari perusahaan yang punya “budget serius”, untuk keperluan fotografinya. Apakah itu untuk keperluan iklan brosur, untuk keperluan company profile, atau membuat annual report. Jadi mereka itu sudah punya budget khusus untuk fotografi.

Pertimbangannya?

Karena klien yang seperti ini tidak terlalu terganggu dengan budget. Jadi kalau kemudian ada fotografer yang menawarkan harga lebih kecil dari fee saya, tidak membuat mereka tergoda untuk pindah cari yang lebih murah.

Karena buat klien, yang penting itu mutunya bagus, soal budget tidak masalah, jadinya mereka ini lebih loyal. Dan sudah banyak klien selama belasan tahun tetap motret di kita walaupun pendatang baru sudah banyak.

Jadi untuk mengembangkan usaha dalam dunia fotografi hari ini memang dibutuhkan strategi bisnis yang tepat. Kita tidak bisa seperti masa lalu, dimana kita nggak perlu marketing, nggak perlu mencari pasar, kerjaan selalu datang sendiri dan masa itu sudah lewat. Masa keemasan seperti itu ada di era 90-an sampai akhir tahun 2000-an.

Pada masa itu kita nggak perlu cari pekerjaan, yang ada kita itu harus nyortir kejaan. Kalau sekarang kita harus giat cari kerjaan. Kalau nggak bisa tumbang. Sudah banyak fotografer bagus yang akhirnya gulung tikar karena tidak mampu beradaptasi dengan evolusi marketingnya, yang paling sederhana contohnya peranan sosial media. Banyak fotografer jaman dulu yang konservatif, sama sekali tidak mau tahu soal itu, akhirnya hilang ditelabn bumi karena nggak mampu bersaing di sosial media. Karena untuk sekarang, sosial media pegang peranan penting dalam dunia marketing.

Perusahaan mana saja yang jadi klien Anda?

Ada beberapa klien yang sudah lama saya tangani, contohnya Unilever, Bank BCA, Bank Mandiri dan Sampoerna. Itulah contoh perusahaan yang sudah bertahun-tahun pakai jasa saya.

Apa pendapat Anda tentang sertifikasi fotografer?

Sertifikasi fotografer jadi isu pada saat pembentuksn Masyarakat Fotografi Indonesia (MFI). Saat itu saya sendiri termasuk yang mendukung untuk adanya sertifikasi tersebut.

Tetapi pada pelaksanaanya, sertifikasi ini kelihatannya nol besar. Karena orang yang memang sudah diakui dalam dunia fotografi di Indonesia mengatakan, “saya tidak perlu sertifikat dengan eksistensi saya, toh saya gak pernah kekurangan kerjaan, dan kerjaan saya sudah diakui secara internasional”. Kemudian yang mensertifikasi dirinya, secara defacto terlihat hasilnya tidak lebih bagus dari yang tidak bersertifikat ini, tapi sudah diakui.

Jadi pada akhirnya, wacana sertifikat itu gugur dengan sendirinya, ya kembali pada hukum alam. Akhirnya sampai sekarang nggak jalan tuh sertifikat. Termasuk saya akhirnya tidak bersertifikat sampai saat ini.

Kita gagal membangun sebuah badan yang kredibel untuk memberi sertifikat itu. Jadi sertifikasi ini untuk memberi sertifikat itu. Jadi sertifikasi ini untuk kredibilitas. Nah karena itu yang memberikan sertifikat harus sangat kredibel dong, harus sangat dipandang siapapun. Kalau badan pemberi sertifikatnya sendiri dipandang sebelah mata, baik sama fotografernya atau sama calon kliennya, akhirnya tidak ada gunannya, jadi semuanya tidak merasa bahwa sertifikat itu perlu.

Anda juga menulis buku, sudah berapa yang dihasilkan? Dan mengapa membuat buku, apakah untuk dipasarkan atau hanya sebagai strategi promosi?

Itu tergantung jenis bukunya. Buku pertama saya berjudul Femalografi (2006) merupakan sarana saya untuk membuat sebuah karya yang idealis. Karena karya dalam dunia komersil tentu saja berbenturan dengan banyak kepentingan, sehingga yang namanya idealisme tidak pernah bisa 100 persen, jadi saya nggak mau paksakan di situ. Saya pikir untuk bikin karya yang idealis itu memerlukan channel yang lain. Nah pada saat itu saya mulai membuat buku.

Buku saya yang kedua, masih tetap idealisme, yakni “in my room” berisi 100 tokoh Indonesia di kamar tidurnya masing-masing. Kemudian buku saya yang ketiga, Hampir Fotografi (2013), di siu saya betul-betul membuat buku dengan tujuan agar bukunyalaku saat dijual. Jadi bukunya itu berisi banyak tulisan, banyak foto, yang menjelaskan seluk-beluk fotografi yang sifatnya sangat komedi, dan buku itu laku keras. Dalam tiga bulan sejak penerbitannya sudah habis terjual. Buku itu memang tujuannya bukan idealisme, tetapi membuat yang bisa mengajarkan banyak, dan juga sangat menghibur.

Nah baru buku saya yang keempay, On White (2014), kembali lagi sifatnya, memang untuk menyalurkan idealisme saya. Jadi tiap buku itu memang punya kepentingan yang berbeda-beda. Hanya saat ini. Saya sudah tidak berpikir lagi untuk membuat buku, paling tidak selama beberapa tahun ke depan. Karena saya juga melihat yang namanya buku itu sendiri sedang dalam massa uji coba. Apakah eksistensinya akan bertahan, ataukah harus berubah wujudnya. Karena yang namanya benda cetak itu makin lama mulai ditinggalkan dan membuat buku seperti yang saya buat itu memang harus dinikmati dalam bentuk buku.

Begitu dia muncul dalam bentuk digital book atau e-book, feeling-nya tuh beda, jauh banget jika dihadirkan dalam wujud buku yang bisa dipegang. Begitu dia pindah ke layar komputer atau gadget, feelingnya bisa berubah. Jadi saya pikir buku masih tanda tanya nih, mesti bagaimana ke depannya. Maka hingga sekarang belum ada project buku lagi.

Berapa penghasilan Anda dari profesi ini?

Kisarannya sebulan ya, hmm, saya ambil contoh mungkin wedding fotografer. Seorang wedding fotografer itu kisaran rata-rata perbulannya dia bisa dapat penghasilan kotor, untuk ukuran Jawa-Bali ya, tiap bulan dia bisa mendapatkan sekitar 6-200 juta.

Saya sendiri dalam sebulan berkali lipat dari itu. Saya pernah dalam waktu 4 jam kerja mendapatkan 100 juta, motret sebuah band untuk dipakai promosi sebuah perusahaan selular.

Tidak jarang juga saya memotret itu untuk project yang kecil, tetapi sangat menyenangkan untuk dikerjakan. Atau misalnya yang sifatnya betul-betul 100% charity, itu juga cukup sering kita kerjakan. Kalau kita lihat bisa membuat impact yang bagus dan kita punya waktu, pasti kita lakukan.

Apa proyek sosial yang Anda ikut berpartisipasi didalamnya?

Tahun ini dan untuk pertama kalinya, memotret untuk World Wild Life Fund (WWF). Kita memotretnya di pedalaman Riau untuk progra, Double The Tiger. Jadi WWF punya program untuk membuat jumlah populasi Harimau Sumatera tahun 2020 meningkat jumlahnya. Nah kita ikut bantu promosi mereka. Kita tidak mendapatkan profit sama sekali, tapi kita yakin itu campaign yang bagus.

Program-progra, seperti ini banyak kita lakukan untuk membantu yang membutuhkan. Karena kalau saya lebih melihat “value” dari sebuah project ketimbang profitnya.

Apa proyek Anda saat ini?

Saat ini kita baru saja menyelesaikan beberapa iklan, tapi belum boleh saya kasih tahu karena belum tayang.

Sekarang banyak fotografer pemula. Ada tips atau strategi agar mereka bisa mausk dan bertahan di industri fotografi?

Pertama bangun portofolio yang bagus dulu. Dalam arti memang dia harus bisa membuktikan dirinya, bahwa dia adalah fotografer yang handal, yang punya hasil lebih baik dibandingkan rata-rata.

Kemudian setelah portofolio cukup, yang dibutuhkan selanjutnya adalah pemikiran yang matang atau strategi. Mereka harus pelajari pasarnya, mereka harus tahu demografi dari calon kliennya, harus tahu business plan, harus tahu modalnya berapa, startegi pemasarannya seperti apa. Itu semua harus dijalankan, dan ini bagian yang paling tidak disukai kebanyakan orang.

Terakhir, adalah urusan eksekusi. Sering kali saya menemukan banyak teman yang punya ide, foto bagus atau strategi bisnis dan pemasaran yang tepat, tapi pada akhirnya tidak berjalan. Karena yang namanya eksekusi itu memang beda.

Bagaimana Anda melihat banyaknya fotografer asing?

Tidak masalah. Memang kita harus belajar untuk bersaing dengan fotografer asing, karena ada perdagangan bebas di Asia Tenggara. Dan pada saat itu terjadi, siapa saja bisa bekerja dimana pun, dan bersaing dengan fotografer lokal setempat.

Jadi menurut saya dengan adanya fotografer asing itu bagus. Mereka bisa jadi sarana belajar untuk bersaing secara Internasional. Kita harus membuka pikiran kita, sudah saatnya kita bukan bertahan di kandang sendiri, tetapi saatnya menyerang kandang lawan dan menantang para fotografer lokal di sana. Nah kita pelajari apa kiat fotografer asing untuk bertahan di Indonesia.

Siapa fotografer idola Anda?

Sampai saat ini saya masih paling mengidolakan Annie Leivbovitz. Dia seorang fotografer wanita yang paling banyak mengerjakan portrait, dan seorang fotografer yang berkontribusi untuk beberapa majalah di Amerika. Saya anggap dia benar-benar punya ide, pengetahuan, network, pokoknya complete package. Dia memang fotografer yang tidak hanya menghasilkan karya bagus, tapi juga bisa menjadi seorang legenda hidup.

About admin

Check Also

Fasial Basri

Perkembangan Ekonomi-Politik paska Pilpres 2014 silam masih terasa hingga sekarang. mulai dari ‘drama’, hingga perlahan mulai tersketsa. Pelan tapi pasti perubahan menunjukkan hasil. Namun ketika bicara soal ekonomi, kita tidak bisa asal bicara.

Terawang ala nujum tak ampuh ditengah perubahan yang terjadi setiap saat. Perlu angka, fakta dan segenap data yang harus menjadi tumpuan. Dan beruntung, tim redaksi money&I, untuk kedua kalinya mendapat kesempatan melakukan wawancara kepada pakar Ekonomi Politik faisal Basri.

Pria kelahiran Bandung, 6 November 1959 ini, turut menjadi salah satu pendiri mARA (majelis Amanah Rakyat) yang kemudian menjadi Partai Amanat Nasional. Berdarah Batak dan juga pendiri beberapa organisasi nirlaba lainnya seperti Yayasan harkat Bangsa, Global Rescue Network, dan Yayasan Pencerahan Indonesia.

Sejak berstatus mahasiswa, faisal sudah aktif di berbagai organisasi. masuk di fakultas Ekonomi, universitas Indonesia pada tahun 1978 ketika kampus tengah bergejolak. setelah menyelesaikan studi, faisal kemudian diangkat menjadi dosen mata kuliah baru, yakni Ekonomi Politik yang baru diperkenalkan pada akhir 1980an. Pada tahun 2000, faisal ditunjuk untuk menjadi anggota Tim Asistensi Ekonomi Presiden RI.

setelah mundur dari PAN pada awal 2001, dia tetap aktif dalam kehidupan politik. faisal mendirikan organisasi Pergerakan Indonesia (PI) dan menjadi Ketua umum Dewan Pimpinan Nasional sejak Kongres I tahun 2004 sampai 2010. Kini ia dipercaya sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Nasional. Pada Oktober 2011, faisal Basri menggandeng Biem Benyamin, putra tokoh legendaris Betawi Benyamin sueb dan sepakat untuk tetap berjuang di jalur independen dalam pencalonan Gubernur DKI dalam pemilukada 2012. Di tahun 2014, faisal dipilih untuk menjadi Ketua Tim Reformasi Tata Kelola migas (RTKm).

Bertempat di Trans hotel seminyak, kami berbincang soal persepektif Indonesia saat ini, yang kami sampaikan dalam paparan panjang, hasil olah baik dari interview, maupun dari presentasi beliau ketika menjadi pembicara dalam forum Bali Business Round Table yang digelar di tempat yang sama. Berikut adalah petikannya.

Bagaimana Anda melihat Ekonomi Indonesia, khususnya paska Pilpres 2014 lalu?

Perpolitikan kita begitu berpengaruh dengan pergerakan ekonomi. Kebijakankebijakan yang diambil oleh pemerintah memiliki pengaruh besar dari parlemen juga. sekarang Indonesia memiliki presiden yang dimenangkan oleh kurang dari 50 persen parlemen. Itu alasannya kenapa kebijakan yang dibuat oleh Jokowi susah diaplikasikan.

Belum lagi data dari Bank Dunia tentang konsentrasi kekayaan, ada ketimpangan parah. Indonesia menduduki peringkat ketiga terparah setelah Rusia dan Thailand. satu persen rumah tangga di Indonesia menguasai 50,3 persen kekayaan nasional. semakin parah jika melihat penguasaan 10 persen terkaya yang menguasai 77 persen kekayaan nasional. Jadi 90 persen penduduk sisanya hanya menikmati tidak sampai seperempat kekayaan nasional.

Lebih ironis lagi, sekitar dua pertiga kekayaan yang dikuasai orang kaya Indonesia diperoleh karena kedekatannya dengan penguasa. Crony-capitalism index Indonesia menduduki peringkat ketujuh. Itulah yang menyebabkan kian banyak yang menyemut ke dalam kekuasaan, bahkan jadi pimpinan partai politik. Namun sekarang, pergerakan politik di Indonesia membuat kita semakin optimis. Berangsurangsur mulai mendukung balik kebijakan pemerintahan Jokowi-JK. Kita melihat ini sebagai sesuatu yang baik untuk kedepannya.

Bagaimana dengan kebijakan pemerintah saat ini khususnya dalah hal fiskal?

Saya bilangnya, mengelola keuangan negara tidak bisa dengan cara berakrobat. Ada komplikasi permasalahan yang berawal dari target penerimaan pajak tahun 2015 yang “selangit”, dengan kenaikan 30 persen dibandingkan dengan realisasi tahun 2014. Pemerintah mematok target pertumbuhan ekonomi terlalu tinggi, yaitu 5,7 persen untuk tahun 2015. Realisasinya jauh meleset, hanya 4,8 persen. APBN-P 2015 sepenuhnya disusun oleh pemerintahan Jokowi-JK. Target pertumbuhan ekonomi memang diturunkan dari 5,8 persen pada APBN 2015. Tapi target pajak dinaikkan dari Rp 1.380 triliun (APBN 2015) menjadi Rp 1.489 triliun (APBN-P 2015) atau meningkat sebesar 7,9 persen. Target APBN 2015 saja sudah naik 20,3 persen dibandingkan dengan realisasi APBN 2014.

Pada APBN 2016 kembali target penerimaan pajak naik tinggi, 25,2 persen. Padahal, peningkatan pajak alamiah plus usaha ekstra hanya 13. Peningkatan alamiah berasal dari asumsi APBN 2016 untuk pertumbuhan ekonomi 5,3 persen dan inflasi 4,7 persen serta usaha ekstra 3 persen. Dan penerimaan pajak tahun ini menghadapi tantangan berat, sebagian potensinya sudah dieksploitasi untuk memenuhi target tahun lalu.

Apa yang harus dilakukan agar APBN cukup sehat?

Ada tiga alternatif. Pertama menaikkan defisit APBN dari 2,15 persen PDB menjadi 2,5 persen PDB. Pemerintah harus menerbitkan lebih banyak surat utang. Dengan lingkungan global yang kurang kondusif dan pasar keuangan dunia yang sangat bergejolak, pemerintah harus menawarkan obligasi dengan bunga yang relatif tinggi.

Kedua mendorong BumN (badan usaha milik negara) mencari dana dari pasar ketimpang bergantung pada penyertaan modal negara (PmN). Pelindo II misalnya yang berhasil meraup dana relatif murah, bahkan jauh lebih murah dari obligasi global pemerintah. sebelumnya Pelindo III sudah pula menerbitkan obligasi senilai us$ 500 Juta. Angkasa Pura juga memiliki potensi besar mendapat dana dari pasar global. untuk BumN yang tidak memiliki pendapatan valuta asing perlu didorong untuk go public. Ketiga memotong belanja. Kalau diibaratkan kondisi fiskal kita terjangkit kanker akibat kekeliruan masa lalu, ada baiknya diamputasi agar kanker tidak menjalar. Yang paling mungkin adalah meninjau kembali proyek Jalan Tol sumatera. Pilih saja ruas-ruas yang padat dan ditenderkan terbuka agar swasta maupun BumN membiayai sepenuhnya proyek itu. skema private-public partnership bisa dipakai.

Apa yang semestinya menjadi prioritas pemerintah saat ini?

Ada baiknya pemerintah menitikberatkan untuk menjaga kestabilan ekonomi. Lebih baik melunakkan target. Karena pasar dunia sedang tertekan, ada baiknya tidak memasang target peningkatan ekspor terlalu tinggi. sekedar tumbuh saja sudah lumayan, mengingat selama empat tahun terakhir selalu merosot dan kian parah dalam dua bulan pertama tahun 2016. Yang cukup mengkhawatirkan adalah penerimaan negara dua bulan pertama tahun ini turun dibandingkan tahun 2014 dan 2015. mungkin karena potensi penerimaan tahun ini sudah disedot tahun lalu, belum lagi silang sengketa dan kegaduhan di antara sesama menteri sebelum reshuffle. Yang terpenting adalah menjaga daya beli masyarakat. Kedua, mendorong agar investasi swasta terus naik, termasuk penanaman modal asing langsung.

Bagaimana dengan sektor moneter?

Menurut Wapres, pasar modal baru menarik jika bunga deposito sekitar 5 persen. Kenyataannya, pasar modal kita sudah lumayan bergairah. IhsG (indeks harga saham gabungan) naik tajam sejak awal Juli 2016. Jika dibandingkan dengan setahun yang lalu, indeks sudah melaju sangat baik. Pasar saham Indonesia sangat bergairah, arus modal cukup besar selama semester I kemarin, us$ 13 miliar, dua kali lipat lebih dari penanaman modal asing langsung.

Suku bunga deposito dan suku bunga kredit sulit turun karena pemerintah gencar berutang akibat tekanan fiskal. Agar surat utang pemerintah laku, imbal hasilnya harus menarik. maret lalu pemerintah mengeluarkan ‘sukuk Ritel’ dengan return 8,3 persen, di atas rata-rata bunga deposito. Jadi saya ingin mengatakan, bahwa salah satu penyebab bunga deposito susah turun adalah pemerintah sendiri yang gencar berutang, menjadi pesaing utama perbankan. Jadi ini yang saya sebut sesat berpikir.

Laju inflasi menurun, menurut Anda?

Kemerosotan harga minyak dunia membantu penurunan inflasi. Walaupun pertengahan Agustus lalu naik tajam, namun masih jauh lebih rendah ketimbang harga tertinggi yang sempat di atas us$ 100. Kenaikan harga BBm di dalam negeri yang membuat pola inflasi di Indonesia sangat berfluktuasi tajam.

Walaupun begitu, inflasi di Indonesia tergolong tinggi jika dibandingkan dengan negara AsEAN. Yang masih menjadi momok inflasi di Indonesia itu harga pangan yang kerap jadi penyumbang inflasi terbesar. seperti daging ayam ras, telur ayam ras, daging sapi, beras dan bawang merah. Kebanyakan komoditas pangan itu tata niaganya tidak sehat.

Kembali bicara soal fiskal, bagaimana Anda melihat kebijakan soal Tax Amnesty?

Rasanya belum pernah ada negara yang menawarkan pengampunan pajak yang sangat menggiurkan seperti yang ditawarkan pemerintah Indonesia, pemutihan harta 30 tahun ke belakang dengan tarif tebusan hanya dua persen. Tidak ada denda sama sekali. Pembayar pajak yang rasional akan berhitung dengan mudah betapa dahsyat kenikmatan yang bakal diperoleh. Aparat pajak tidak mengutik-utik asal harta itu di kemudian hari.

Tapi realisasinya masih seret, sekalipun belakangan menunjukkan peningkatan. Dengan keterbatasan data, sulit memperkirakan apakah target penerimaan tambahan pajak sebesar Rp.165 Triliun bakal tercapai. Jika nilai uang tebusan dari pemohon pengampunan pajak mengikuti pola seperti sekarang yang didominasi oleh deklarasi dalam negeri (81,3 persen), tampaknya kita cenderung pesimis. secara implisit pemerintah lebih mengharapkan wajib pajak kelas kakap dari deklarasi luar negeri dan repatriasi luar negeri yang masing-masing hanya 12,0 persen dan 6,7 persen.

Realisasi penerimaan pajak sendiri sampai akhir Juli lalu sebesar Rp. 607 triliun, turun 2,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Dan ini ganjil, karena lazimnya penerimaan pajak tidak turun sepanjang pertumbuhan ekonomi masih positif dan terjadi inflasi. Dengan pertumbuhan ekonomi 5 persen dan inflasi 3 persen saja, secara alamiah penerimaan pajak setidaknya naik 8 persen. Penurunan penerimaan pajak tahun ini sangat boleh jadi karena pembayaran pajak tahun ini sudah ditarik akhir tahun lalu dan meningkatkan permohonan restitusi pajak. Nanti baru bisa dilihat setelah gelombang pertama selesai, kalau tahap ini berhasil, bukan tidak mungkin digelombang kedua akan lebih baik.

Sektor mana yang harus diberikan perhatian?

Ekonomi kita ini kan ditopang oleh sektor jasa keuangan. Namun jangan sampai terpaku dan mengandalkan sektor jasa saja, sektor lain juga perlu digenjot agar terus meningkat. Sayangnya, sektor jasanya naik kencang sekali, dan sektor barangnya menurun. sehingga dikhawatirkan seluruh rakyat Indonesia hidup tergantung dari sektor jasa.

Kita bisa melihat pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami perlambatan dalam lima tahun terakhir. Terus menurun, lesu. Karena itu harusnya semua pihak bergerak agar ekonomi kita bangkit dan kembali bergairah. Pertumbuhan ekonomi kita juga tidak terlepas dari kondisi ekonomi dunia. Caranya melakukan terobosan di semua sektor, sehingga ekonomi Indonesia bangkit. Termasuk juga para pengusaha besar memanfaatkan peluang bisnisnya agar bisa bangkit. Tanpa ada usaha dan perjuangan yang kuat dari pemerintah maupun swasta. maka selamanya ekonomi kita ini akan stagnan, bahkan tidak menutup kemungkinan anjlok.

Dan jika kita hendak bergerak cepat, maka kesiapan harus kita lihat. misalnya saja orang mau berlari sprint, yang harus dicek itukan power-nya, kesiapannya, tekanan darahnya. Nah ini yang harus dilihat sebelum memulai untuk bertumbuh lebih cepat. sedangkan setelah kita cross check, kesiapan itu tidak memungkinkan untuk kita berlari cepat. Tapi saya optimis dengan pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla, dan bantuan para menteri, ekonomi Indonesia akan bangkit ke depannya.

Bagaimana dengan Bali?

Setelah melihat Bali, saya sangat optimis. Bali itu berbeda dengan daerah lain. Bali memiliki pertumbuhan ekonomi yang baik dibandingkan daerah lain di Indonesia. Tentu karena memang pendapatan masyarakat di sini adalah sektor jasa. Kalau melihat data, angka dari pertumbuhan ekonomi di tiap daerah cenderung menurun, tetapi tidak untuk Bali Nusra. Di Bali, pertumbuhannya sekitar 8,1 % setiap tahunnya. Berbeda jika di daerah luar Jawa lainnya. Bahkan Jawa Tengah sendiri hanya mampu memiliki pertumbuhan ekonomi hingga 5,1%, itu paling banter. Industri pariwisata tidak sama dengan industri komoditas di daerah lain yang menyebabkan banyak daerah pertumbuhannya melambat. Jadi bisa kita simpulkan, untuk Bali sendiri tidak ada goncangan yang terlalu hebat di sektor ekonomi. Jadi jangan khawatir untuk para pengusaha di Bali, didaerah ini semua baik-baik saja kok, masih terus tumbuh.

Dari berbagai kondisi yang ada, kira-kira dimana posisi Indonesia saat ini?

Tengah dalam perbaikkan, akan terus bertumbuh namun memang mengalami perlambatan. Tapi tetap bertumbuh kok, dan berjalan tidak cepat, bertumbuh dengan lamban.., tapi pasti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *