Thursday , October 17 2019
Home / Role Model / Ivanka Trump – Pesona Di Tengah Citra Buram Klan Trump

Ivanka Trump – Pesona Di Tengah Citra Buram Klan Trump

Hitam, inilah foto profil sejumlah warga Amerika ketika pengusaha Donald Trump terpilih sebagai Presiden Amerika ke 45. Respon ini adalah kekecewaan yang dirasakan karena Trump dinilai bukanlah sosok yang tepat sebagai fitur seorang pemimpin, terlebih presiden.

Trump selama ini dikenal kontroveisonal, terutama sosoknya sebagai seorang pebisnis. Bahkan kehidupan Trump dan keluarganya tak pernah jauh dari uang, politik dan lampu sorot. Dan ketika pidato dalam Konvensi Republik, Donald dan istrinya Melania Trump, bahkan putranya Donald Trump Jr, mendapat sorotan negatif oleh publik. Klan Trump pun terstempel bura, kecuali satu..Ivanka!

Bak air ditengah gurun, Ivanka Trump seolah menjadi penyeimbang. Anak kedua dan istri pertama Donald Trump, Ivana. Seorang profesional yang menjabat sebagai Executive Vice President of Develompent & Acquisitions di Trump Organization.

Ivanka memiliki gaya hidup yang tak se-glamour keluarga Trump lainnya, bahkan sedikit berbeda. Ivanka menjajaki profesi sebagai seorang penulis dan menjadi pengusaha dengan brand atas namanya sendiri. New York Post menyebut, pakaian yang dikenakan Ivanka saat pidato di konvensi Partai Republik berupa sleeveless sheath dress berwarna blush yang lembut dengan padauan nude heels sebagai alas kaki merupakan mereknya sendiri, yang harganya hanya US$ 158 atau tak lebih dari 2 juta rupiah. Ivanka juga bukan tipe shoppaholic, dan hanya membeli barang yang menjadi kebutuhan keluarga saja. Mungkin ini yang menjadi alasan mengapa publik memberikan sorotan yang jauh lebih positif ketimbang keluarga Trump lainnya.

Ivanka lahir dari ibunya yang berprofesi sebagai model dan atlet dari Republik Ceko. Tepat pada tanggal 30 Oktober 1981 di Manhattan, New York. Sepuluh tahun kemudian orang tuanya bercerai. Ivanka bersekolah di Chaplin School di New York, lali SMA Choate Rosemary Hall di Wallingford Connecticut. Dan tercatat menjadi mahasiswi di Georgetown University sebelum ditransfer ke Wharton School di University of Pennsylvania dan lulus pada tahun 2004 dengan predikat cumlaude di bidang ekonomi.

Sekalipun ayahnya konglomerat dengan banyak bisnis, Ivanka tidak langsung terjun di usaha keluarga, namun bekerja di Forest City Enterprise. Setelah itu bergabung dengan perusahaan penjualan berlian Dynamic Diamond Corp. Parasnya yang cantik membawa wanita ini pada pengalaman sebagai model, tampil di majalah Seventeen, berlenggak lenggok di catwalk untuk Versace Marc Bouwer dan Thierru Mugler. Dan menjadi bintang iklan sejumlah merek terkenal. Dan seiring waktu, dengan sepak terjangnya dibidang bisnis, wajah Ivanka lebih sering hadir di majalah seperti Forbes, Golf Magazine dan Avenue.

Sebelum mendukung ayahnya untuk menjadi Presiden, Ivanka adalah donatur untuk Hillary Clinton yang notabene kompetitor ayahnya dari Partai Demokrat, juga Mitt Romney yang mantan capres Partai Republik.

Wanita yang masuk dalam 100 kategori paling hot tahun 2007 oleh majalah Maxim ini, memukau delegasi Partai Republik ketika berpidato di acara konvensi Partai Demokrat di Cleveland, Ohio. Sebagai Presiden, ayah saya akan mengubah undang-undang buruh yang menempatkan wanita bukan sebagai bagian penting dalam satuan kerja. Dia akan membuat layanan anak yang terjangkau dan mudah diakses bagi semua. Dia akan memperjuangkan kesetaraan upah bagi kesetaraan kerja dan saya akan memperjuangkan ini juga bersama dengannya, “ucap Ivanka, sebagaimana dirilis detik.com.

Selain itu, dengan segala kesibukan yang dimilikinya, keluarga merupakan prioritasnya yang utama. Setelah menikah dengan Jared Kusher, pebisnis yang memiliki perusahaan real estate “Kusher Properties”, dan perusahaan media cetak The New York Observer, Ivanka Trump memilih untuk tinggal dekat dengan tempat kerjanya di kompleks apartemen Manhattan, New York. Hal ini dilakukannya demi semata-mata mempermudah ia bertemu dengan anaknya di sela-sela istirahat kantor.

“Tidak ada yang bisa mengalahkan lokasi rumah yang hanya berjarak dua blok dari kantor,” ucap Ivanka. “Saat malam tiba, aku bisa berlari ke rumah sebentar untuk memberi Arabella Rose (anak Ivanka) sebuah kecupan, sebotol susu atau sekedar menemaninya tidur, untuk kemudian kembali lagi ke kantor atau pergi ke acara makan malam. Walau hanya lima menit waktu yang aku punya, aku akan selalu menyempatkan diri berlari ke rumah hanya uuntuk melihatnya, “ucap Ivanka sebagaimana di kutip dari rumahku.com.

Itulah alasannya mengapa banyak yang menilai, salah satu faktor keberhasilan Donald menjadi Presiden adalah Ivanka. Bahkan menjadi jembatan antara Ayahnya dengan pemilih wanita. Menariknya, ketika konvensi Partai Republik berlangusng, terlihat seorang delegasi membawa poster bertuliskan ‘Ivanka, 2024. Presiden Wanita Pertama’ bentuk dukungan agar Ivanka menjadi Presiden AS tahun 2024. Hhhhmmm..

About admin

Check Also

Chris Gardner – The American Dream, Pelonjat Kuadran Paling Ekstrem!

Tidak sedikit penonton yang menitikan air mata saat  menyaksikan film berjudul The Pursuit of Happiness, yang dibintangi oleh Will Smith dan putra kandungnya, sebuah film yang menceritakan kehidupan seorang bernama Chris Gardner, sosok impian Amerika yang bertransformasi dari gelandangan menjadi multi jutawan.

Lahir di Milwaukee Winconsin pada 9 Februari 1954, dengan nama lengkap Christopher Gardner. Kehidupannya dimulai dengan kondisi memperihatinkan, sebagai satu-satunya anak laki-laki dalam keluarga dan diasuh oleh ibunya sebagai orang tua tunggal. Ibunya sendiri berprofesi sebagai guru, dan bekerja paruh waktu untuk mendapatkan tambahan pendapatan. Praktis Gardner tumbuh tanpa kasih sayang Ayah. Namun bagi Gardner, tempat terburuk di dunia adalah rumah dimana ia tinggal bersama ibu dan ayah tirinya, sosok ringan tangan dan dengan lebih kejam daripada disiplin militer Amerika Serikat.

Dalam perjalanannya, Gardner berpindah dari rumah saudara ke rumah panti asuhan. Setelah putus sekolah tinggi, Gardner berbohong tentang usia dan bergabung dengan US Navy. Ia berharap untuk menjadi seorang tenaga medis dan bisa keliling dunia, tetapi itu tidak pernah dicapainya. Ia hanya sampai di North Carolina. Namun, pengalaman itu mempertemukan Gardner ke seorang ahli bedah jantung, yang kemudian mempekerjakan Gardner sebagai asisten penelitian klinis di University of California Medical Centre di San Fransisco. Sekalipun pekerjaan ini dinikmatinya, namun penghasilan $7,400 per tahun mendorongnya untuk melakukan hal yan lebih. Hal ini kemudian menjadikan dirinya sebagai penjual alat medis dengan penghasilannya mencapai $ 16.000 per-tahun.

Namun periode titik balik dijumpainya ketika Gardner hendak memuat peralatan ke mobilnya, sebuah Ferrari merah melintasinya dan membuat Gardner langsung jatuh cinta. “Saya bertanya kepada pria pemilik Ferrari itu dua pertanyaan, “kenang Gardner. “Pertama apa yang Anda lakukan? Yang kedua adalah bagaimana Anda melakukan itu?

Jika Anda sudah menonton filmnya, maka Anda tentu sudah mengetahui kelanjutan ceritanya, karena seolah sudah ditakdirkan pengemudi Ferrari adalah seorang pialang saham. Ketika Gardner mendengar bahwa orang itu berpenghasilan lebih dari & 80.000 sebulan, ia memutuskan bahwa menjadi pialang saham adalah masa depannya. Tanpa pendidikan, tidak ada pengalaman, dan tidak ada koneksi, namun semua itu tidak menghentikan Gardner untuk mencapai mimpi barunya.

Gardner kemudian melamar diperusahaan sekuritas dan melewati berbagai seleksi ketat. Dengan kemampuan komunikasinya, Gardner mampu meyakinkan para petinggi perusahaan untuk menerimanya. Namun dengan status magang tanpa gaji selama beberapa bulan, menjadikan hal ini sebagai salah satu periode terkelam dalam hidupnya. Bekerja tanpa gaji dan secara bersamaan istrinya meninggalkan Gardner dengan seorang anak. Sebagai gelandangan karena tidak mampu membayar tempat tinggal. Tidur di kamar mandi stasiun kereta api bersama putranya, semabri menyempatkan waktu untuk menjual peralatan medisnya. Baru belakangan dirinya mulai mendapatkan tempat disebuah wisma khusus bagi gelandangan, namun wisma dengan jumlah kamar terbatas itu menjadikan Gardner dan putranya harus berlarian sepulang kerja untuk antri dan mendapatkan jatah kamar setiap harinya. Bajunya pun hanya dua pasang, dan harus dipakai bergantian ketika yang satu dicucinya.

Namun semangat dan kerja kerasnya perlahan mulai terbayarkan, salah satu bentuk kedisplinannya terlihat dengan bagaimana Gardner mengenakan dua buah jam tangan saat ini. Satu di tangan kiri menunjukkan waktu di Chicago, dan di kanan menunjukkan waktu di Afrika Selatan. Dia melakukan ini agar tidak pernah terlambat bekerja. Dia berkata, “Jika saya terlambat satu kali saja, maka saya akan rugi sebesar 50.000 dolar. Jadi saya pikir akan lebih murah jika saya mengenakan dua jam tangan.” Itu sebabnya Gardner tidak segan membeli jam tangan yang masing-masing seharga 10.000 dolar itu.

Selepas masa magang yang fenomenal karena Gardner mampu mendapatkan beberapa klien besar, dirinya kemudian diterima dengan bayaran sebagai pialang saham. Kejelian serta keluwesannya berinteraksi menjadikan karirnya meroket cepat dan mampu mendapatkan banyak klien yang bersedia keuangannya di kelola oleh Gardner.

Pada tahun 1987, Chris Gardner mendirikan perusahaan pialang, Gardner Rich & Co di Chicago, Illinois sebuah perusahaan pialang yang mengkhusukan diri dalam pelaksanaan utang, ekuitas dan transaksi produk-produk derivatif untuk beberapa lembaga terbesar negara, pensiun publik dan serikat pekerja. Perusahaan baru itu dimulainya dari apartemen kecil Presidential Towers, dengan modal awal sebesar $10.000 dan perabot meja kayu yang berfungsi sebagai meja makan keluarga. Gardner dilaporkan memiliki 75 persen dari perusahaan pialang saham dengan sisanya dimiliki oleh perusahaan Hedge Fund. Dia memilih nama “Gardner Rich” untuk perusahaannya karena ia menganggap Marc Rich, sebagai salah satu perusahaan berjangka yang paling sukses di dunia. Setelah Gardner menjual sahamnya dalam kesepakatan jutaan dolar pada 2006, ia menjadi CEO dan pendiri dari Christopher Gardner International Holdings dengan kantor di New York, Chicago dan San Francisco.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *