Sunday , May 26 2019
Home / Start Up / Imajilogi – Startup lokal yang menembus pasar Internasional

Imajilogi – Startup lokal yang menembus pasar Internasional

Imajilogi, nama yang di usung oleh startup lokal asal Bali, sekalipun baru seumur jagung, tapi para pekarya yang bergerak di bidang creative design sudah melangkah begitu jauh hingga ke Negeri Kincir Angin Belanda.

Didirikan pada bulan Februari tahun lalu oleh tiga anak muda. Imajilogi sudah memiliki berbagai produk yang menembus pasar Internasional. Dari segi desain grafis dan animasi, Imajilogi menjadi pilihan dari sejumlah perusahaan game dan trading card di luar sana, salah satunya adalah perusahaan game asal Negeri Paman Sam, Amerika Serikat.

Adalah tiga pemuda yang akrab di sapa Dwi, Septian dan Marta. Mengawali semuanya dari imajinasi, serta diskusi untuk membuat sebuah startup yang bergerak di jasa desain grafis dan animasi. Setelah menuangkan beberapa karya, mereka ditawari project animasi dari Belanda untuk sosialisasi pulau transmigrasi di Negeri Van Orange tersebut.

Kini tiga anak muda tersebut mulai mengembangkan produk mereka ke ranah yang lebih besar lagi. Diungkapkan Septian sebagai manajer pemasaran produk, Imajilogi kelak akan menjadi sebuah Perusahaan Terbatas. Sementara dalam jangka pendek, Imajilogi akan mengembangkan kepercayaan konsumen baik dari dalam maupun dari luar negeri, dengan cara meningkatkan kualitas produk yang mereka buat.

Tak hanya Belanda dan Amerika Serikat. Tawaran yang datang untuk menjadikan Imajilogi sebagai partner desain grafis juga datang dari Negeri Tirai Bambu, Tiongkok. Mereka tertarik untuk menggunakan jasa anak muda Indonesia ini. Seperti apa kisah mereka bergumul untuk naik kelas, berikut adalah kutipan wawancara kami bersama ketiga pentolan Imajilogi.

Apa proyek kalian sekarang?

Saat ini mainnya lebih ke service, karena basic kami itu creative design agency. Tapi selain itu, kami juga menghasilkan beberapa produk seperti di-marketplace dan lainnya. Untuk ke depannya sih, kami sedang membuat maskot bernama GONG, ini sebuah proyek yang masih prototype. Tengah kami kembangkan, sebagai icon dari perusahaan kami. Sudah ada di Youtube sebagai video promosi kami.

Kami masih mengembangkan itu, tapi saat ini kami lagi membutuhkan SDM. Karena kami bertiga saja rasanya susah menangani beberapa proyek, dan akhirnya banyak yang tertunda. Sudah ada tawaran terkait proyek baru, tapi untuk produk yang sedang dikembangkan, jadi butuh SDM untuk prototype lainnya. Prospek kami sudah sampai ke Cina, kami menjual branding berupa maskot. Nah, branding maskot ini ternyata banyak yang tertarik untuk dijadikan berbagai macam hal. Ada yang dijadikan stiker, ada yang dijadikan animasi, dan yang terakhir ini ada tawaran dari WIFI-MU.

Apa produk pertama yang membuat Imajilogi menembus pasar Internasional?

Itu adalah project animasi kami yang digunakan oleh pemerintah Belanda. Jadi klien kami ada rencana membuat branding kota. Jadi di Belanda itu ada satu kota kecil namanya Schinnen. Kota ini belum banyak penduduknya. Jadi marketing untuk transmigrasi ke Schinnen ini membutuhkan animasi untuk disebarkan sebagai sarana kampanye untuk menarik penduduk agar transmigrasi ke daerah sana. Dalam animasi yang kami buat itu, ada berbagai informasi yang menunjukkan kelebihan dari kota Schinnen, seperti fasilitas umum yang lengkap, sistem yang sudah memadai, pajaknya kecil dan lain sebagainya. Jadi project itu kami gambarkan menggunakan motion graphic yang ada di Imajilogi.

Apa lagi jasa layanan yang kalian berikan?

Karena kami menamai diri sebagai motion graphic studio agency. Kami memproduksi berbagai macam komunikasi visual, seperti video animasi, video profile company dan illustrasi. Kemarin juga ada project dari luar lagi, dari shadow fish untuk trading card game, kami yang membuat ilustrasinya. Shadow fish ini dari United States, produk dari Inner Kingdom Game, semacam trading card game. Kalau di Indonesia mungkin yang populer itu seperti Yu-Gi.

Jadi sebenarnya kami bertiga ini sudah memiliki basis pasar, potensi-potensi dari personal itu kami rangkum. Jadi ruang lingkup perusahaan Imajilogi ini berkaitan dengan ruang lingkup personal kami juga.

Keuntungan Imajilogi itu murni dari penjualan produk?

Iya, kami memiliki pendapatan dari sana. Misalnya, pembuatan maskot ‘Gong’, kami dapat dari penjualan stiker bekerja sama dengan Line. Jadi keuntungan kami murni dari penjualan produk.

Strategi marketingnya?

Untuk strategi marketing, kami fokus ke branding positioning. Jika umumnya di bidang jasa ada tiga kriteria untuk menunjukan branding, yang pertama price, yang kedua time, dan yang ketiga adalah quality.

Kebanyakan perusahaan yang bergerak di bidang jasa akan menekankan produknya pada nomor satu dan dua, yakni harga dan waktu. Kami menekan hanya pada nomor tiga yakni kualitas. Kami bisa menjanjikan kualitas produk kami, tapi kami belum bisa menjanjikan harga yang bersaing dalam waktu yang singkat. Karena price dan time itu tergantung pada driving customer. Kami berani jamin kualitas produk kami.

Bagaimana dengan pasar lokal?

Kalau di Indonesia, terutama di Bali sendiri kami sudah ada beberapa proyek dari swasta dan pemerintah, ada yang dari Badan Perencanaan Daerah Bali. Kemarin juga ada untuk Sensus Ekonomi, termasuk Rumah Sakit Sanglah, kami juga yang buat animasinya. Kalau untuk order dari Jakarta, kami baru buat belum lama ini.

Kenapa memilih nama ‘Imajilogi’?

Kami dulu membuatnya secara spontan. Nama ini berkaitan dengan sejarah pembentukan Imajilogi itu sendiri. Dulu karena kami masing-masing punya pasar sendiri. Nah waktu itu Marta kesulitan untuk menangani proyeknya sendiri. Kebetulan waktu itu kami berdua, saya (Septian) dan Dwi sedang lowong waktunya, jadilah kami membantu Marta. Waktu itu kami juga berdiskusi, berbicara ngelantur sana-sini tentang imajinasi pembentukan sebuah perusahaan ini.

Imajilogi itu akhirnya kami pilih dari kata imajinasi dan logi. Jadi Imajilogi itu Ilmu Imajinasi. Secara Ideologi, mengenai Imajilogi itu, Einstein pernah bilang “Logic will get you from A to B. Imagination will take you everywhere.” Nah, imajinasi dan ‘logic’ itu jadi Imajilogi. Jadi kami mengambil proyek menggunakan batas rasio, tapi kami juga harus berimajinasi tanpa batas. Sebenarnya itu yang menjadi modal utama dari industri kreatif, yakni imajinasi.

Kapan Imajilogi terbentuk?

Sehari setelah Valentine, yaitu 15 Februari tahun lalu (2015). Rencananya kami akan membuat badan usaha dalam bentuk PT, rencana ini sedang dalam proses.

Apa spirit Imajilogi?

Semangat kerja, semangat untuk berkarya dan agar kualitas produk kami terus meningkat. Ada quote dari seorang ternama, saya lupa namanya, dia bilang, “yang ditunggu dari jawaban klien itu sebenarnya ada tiga, Yes, No dan Wow,” dan yang kami sasar adalah WOW.

Tantangan terberat selama Imajilogi berdiri?

Ada tiga tantangan yang berat, untungnya sekarang masih teratasi. Yakni customer, system dan team. Customer itu tantangannya, ya kalau mereka datang ke kami, belum mengerti apa yang mereka inginkan. Misalnya nih si A datang ke kami ingin membuat animasi, kadang si A ini tidak ngerti mau buat animasi untuk apa. Ya, akhirnya kami harus jelaskan dari awal agar customer mengerti. Kalau untuk sistem kami sedang build sama-sama, seperti SOP (Standard Operating Pocedure) segala macamnya. Nah untuk tim sendiri, kami masih mencari tambahan SDM. Jadi saya (Septian) bisa fokus di marketing, Dwi bisa fokus di dalam proyek dan Marta bisa fokus untuk klien luar kami.

Kebanyakan startup, oleh pemodal asing, seperti Gojek, Tokopedia dan lainnya. Apa Imajilogi tertarik untuk apply pada pemodal asing?

Sangat tertarik. Tapi kalau kami mencari investor, kami harus ada prototype fix. Sementara untuk ini belum, prototype Gong sudah ada yang invest untuk itu. Tapi untuk yang baru, akan kami rilis, ini belum selesai prototype-nya. Jadi kalau sudah selesai, mulai dari jalan cerita, background, karakter segala macamnya. Baru kami cari investornya.

Harapan yang ingin kalian capai melalui Imajilogi?

Pastinya berharap Imajilogi berkembang menjadi lebih besar. Kami berharap besok Imajilogi memiliki laboratorium sendiri. Akan ada Imajilogi labs untuk riset produk kami. Kemudian ada cabang tersendiri untuk mengurus advertising, kemudian ada desain grafis tersendiri. Dan semua cabang ini dalam naungan Imajilogi. Kami memiliki mimpi di lima tahun ke depan itu, Imajilogi akan menjadi perusahaan visual desain terbesar di Bali. Kemudian dalam sepuluh tahun, kami akan menjadi yang terbesar di Indonesia.

About admin

Check Also

GRIIA – Ruang Digital Berkumpulnya Profesional di Bidang Bangunan

Sebuah startup berkonsep marketplace yang memungkinkan Anda menemukan para profesional di bidang jasa arsitektur dan pembangunan properti.

Seperti apa rumah idaman Anda? Apakah rumah berkonsep villa dengan arsitektur minimalis? Apa mungkin rumah mewah berlantai tiga dengan desain bak istana? Atau mungkin rumah unik yang sarat dengan arsitektur ramah lingkungan? Well, setiap orang berhasrat mewujudkan rumah impiannya masing-masing. Namun, seringkali mandek atau pun eksekusinya jauh dari harapan, lantaran kurangnya sentuhan tenaga profesional. Terlebih ketika ingin renovasi rumah, Anda pun kebingungan untuk mencari tenaga profesional yang diharapkan. Untuk itulah, Griia hadir dengan menawarkan kemudahan dalam pencarian tenaga profesional di bidang bangunan secara online.

Dalam situs yang dirilis ke publik netizen sejak 23 Februari 2015 lalu itu, kita akan menemukan berbagai profesional yang tepat untuk menangani bangunan, semisal kontraktor, arsitek, interior, landscape, bahkan untuk rancang taman, spesialis listrik, pipa, cat, perbaikan atap, hingga pembasmian hama juga tersedia. Lewat Griia, kita tidak hanya bisa menentukan jasa profesional apa yang kita butuhkan, tetapi juga mampu menyesuaikannya dengan budget yang kita punya.

Situs yang didirikan oleh  Ida Bagus Widnya (Founde r& Chief Operating Officer), Yodie Aryantika (Co-founder & Chief Marketing Office), dan Elly Zulianto (Co-founder & Chief Technical Officer) ini sejatinya tidak hanya dirancang untuk masyarakat dan pasar properti, tetapi juga bagi profesional itu sendiri. Griia menjadi ruang promosi bagi para profesional untuk menampilkan profil usaha dan memperkenalkan hasil karya mereka, sehingga mampu mendongkrak perkembangan bisnis mereka. Hingga saat ini, terdapat 30 tenaga profesional yang telah menayangkan profil dan portfolio mereka di Griia, di mana terdiri dari 10 kontraktor dan 20 arsitek.

“Para profesional, terutama arsitek yang belum terkenal dan kurang berpengalaman, seringkali menghadapi kesulitan dalam mendapatkan klien baru. Hal ini disebabkan, karena adanya kode etik yang melarang mereka untuk mempromosikan diri atau melakukan kegiatan pemasaran, sehingga mereka pun lebih banyak mengandalkan referensi dari orang-orang terdekat, seperti keluarga, teman, sahabat, dll untuk mendapatkan klien. Selain itu, belum banyak profesional yang memanfaatkan website dan internet secara maksimal sebagai media promosi mereka, “ ungkap tim Griia, ketika ditanya motivasi dari pendirian situs tersebut.

Layanan Griia sejatinya baru bisa dinikmati oleh mereka yang tinggal di Bali dan juga tengah dalam pengembangan untuk merambah pasar Jakarta. Di Bali sendiri, masih banyak arsitek dan layanan profesional di bidang pembangunan diperlukan. Ini merunut dari data Badan Pertanahan Nasional (BPN) Bali yang mencatat adanya permintaan IMB (Izin Mendirikan Bangunan) yang sebagian besar untuk rumah pribadi dan villa telah mencapai 1000 permintaan per bulan.

Fitur Unggulan

Griia menawarkan beragam fitur layanan. Seperti, sebuah fitur Listing Professional yang memungkinkan para pengguna untuk menelusuri dan menyaring profil para profesional yang mereka butuhkan. Pengguna benar-benar bisa melacak secara detail riwayat profil perusahaan dan portfolio para profesional. Jika tertarik, pengguna bisa langsung membuat penawaran dengan mengirimkan pesan untuk profesional melalui formulir kontak.

Ada pula fitur Job Request yang ditujukan bagi pengguna yang belum sepenuhnya yakin atau bingung untuk menentukan profesional yang ingin mereka hubungi. Setelah pengguna mengisi formulir Job Request, Griia akan segera memberikan rekomendasi 2 sampai 5 profesional yang paling sesuai dengan kriteria dan permintaan pengguna. Fitur job request ini menjadi fitur unggulan Griia setelah fitur listing professional.

Dalam pengembangan berikutnya, Griia berencana mengembangkan beberapa fitur baru, seperti Inspirasi Desain Rumah, Ulasan Karya Arsitek, dan juga sebuah aplikasi mobile. Dalam fitur Inspirasi Desain Rumah, pengunjung dan arsitek muda bisa menggali banyak inspirasi di sana, lewat foto proyek dan desain 3D dari profesional berpengalaman untuk proyek-proyek rumah berikutnya. Sementara itu untuk fitur Ulasan Karya Arsitek nantinya akan berisikan testimoni dan review dari arsitek berpengalaman terhadap karya-karya portfolio arsitek di situs Griia. Ini akan membantu pengunjung untuk mengetahui tentang gaya dan ciri khas masing-masing arsitek.

Griia mengadopis model bisnis berdasarkan komisi dan fee listing dari profesional. “Untuk sistem komisi, setelah Setelah klien menghubung iprofesional melalu iformulir kontak atau job request, Griia akan mengajukan pertanyaan yang lebih rinci tentang proyek dan kebutuhan klien, kemudian memberikan pilihan profesional yang paling cocok dengan anggaran dan kebutuhan klien. Klien harus setuju dengan biaya sebelum Griia merujuk klien bertemu langsung dengan profesional. Jika benar-benar deal, barulah biaya komisi dibayar ke Griia,” ungkap tim Griia. Semenatr aitu untuk fee listing professional, biaya yang dikenakan per bulannya sejumlah Rp 500 ribu dengan masa kontrak 3 bulan. Menariknya Griia juga memberikan masa free trial 2 bulan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *