Sunday , September 15 2019
Home / Creator Inc / Gung Tya – Pesona Cup Cake Sang Master

Gung Tya – Pesona Cup Cake Sang Master

“Pekerjaan yang paling menyenangkan adalah Hobi yang dibayar.” 

Kata-kata yang diungkapkan walikota Bandung tersebut agaknya selaras dengan gadis cantik asal Bali, Putu Seyawati, SE. Passion menjadi seorang koki di bidang cake and dessert membawa dia meraih kesuksesan dalam usaha kue online-nya.

Ditemui di dapurnya, gadis yang sering disapa dengan nama Gung Tya ini bercerita panjang mengenai hobi yang kini ia tekuni sebagai bisnisnya. Ia juga bercerita tentang pengalaman tak terlupakan ketika menjadi salah satu kontestan di ajang bergengsi MasterChef Indonesia Season 3.

Dalam kompetisi tersebut, Tya adalah satu-satunya peserta yang berasal dari Bali dan mewakili Pulau Dewata di ajang tersebut. Selama di dapur MasterChef, ia ditempa untuk menjadi koki hebat. Dari 750 peserta audisi di tingkat Propinsi, hanya terpilih empat orang untuk melanjutkan seleksi di Jakarta.

“Setibanya di Jakarta, saya dikumpulkan bersama 60 kontestan dari seluruh Indonesia. Dan di sana kami kembali diseleksi untuk dipilih menjadi 25 besar,” ungkapnya.

Setelah berhasil bertahan hingga delapan besar, Tya dihadapkan oleh bahan hidangan yang paling tidak ia sukai, otak kambing. Ketakutannya akan otak kambing membuat ia harus gugur di kompetisi tersebut. Dari kekalahan ini, ia bertutur pada kami, “Saya bisa mengambil hikmah dari kekalahan tersebut. Hikmahnya, kita harus belajar menguasai ketakutan kita sendiri demi mencapai tujuan yang kita inginkan.”

Ia juga bercerita tentang kesibukannya selepas kompetisi tersebut. Sekarang, Tya mengelola bisnis kue online dan toko kue yang akan launching bulan Agustus di tahun ini.
Kepada reporter Singgih Wiryono, chef cantik berusia 24 tahun ini bertutur tentang bagaimana ia membangun bisnisnya yang sudah dirintis sejak menjadi mahasiswi, dan berkembang hingga seperti sekarang.

Setelah kompetisi Master Chef berakhir, apa kesibukannya sekarang?

Saya lagi merintis toko kue, namanya Tya’s Cake and Bakery. Sekarang pengerjaannya masih sekitar 70%, mungkin akan launching bulan Agustus mendatang. Tapi sekalipun toko belum buka, saya juga melayani pesanan yang datang via online, ini yang sedang jalan sekarang.

Via Online, berarti bisa melayani penjualan hingga keluar daerah?

Dulu kami sempat mengirim sampai ke luar Bali, kemasan sudah diberi tanda fragile dan lainnya, tapi proses pengiriman itu sangat penting dan berpengaruh. Karena hasilnya jadi tidak maksimal, bentuk kuenya jadi amburadul. Pernah juga saya ngirim ke daerah Yogyakarta, sesampainya barang di sana, ternyata kemakan sama tikus. Ini adalah masalah-masalah kalau kami kirimnya ke luar Bali.

Berarti masih seputar Bali ya?

Dulu sih pernah ada tawaran kerja sama di Jakarta. Tapi saya berpikir tidak untuk saat ini. Keinginan ada untuk membuka cabang di luar Bali, tapi untuk sekarang mungkin mau fokus memajukan kuliner di daerah saya sendiri, khususnya di bidang cake.

Berapa omzet yang Anda dapatkan di penjualan online?

Bisa sampai sepuluh juta per bulan, itu pun kalau lagi sepi. Hari ramai biasanya di pas weekend bisa sampai 20 – 25 juta.

Siapa saja customernya, datang dari kalangan mana?

Untuk customer, kami biasanya datang dari café, kemudian hotel, birthday party, ada wedding juga.

Jadi bekerjasama dengan wedding organizer, cafe dan lainnya ya?

Betul, kami mulai menjalin kerjasama dengan hotel juga, kemudian dengan restoran dan café. Kami juga menerima pemesanan kok. Jadi cake yang saya buat bisa untuk acara-acara keluarga. Kami juga melayani pemesanan custom cake, cupcakes, cookies, tiramisu, black forest. Jadi untuk kue dan dessert table bisa disesuaikan dengan tema party.

Dari  begitu banyak kue yang Anda buat, rata-rata pengerjaannya butuh waktu berapa lama?

Sekitar 4 sampai 5 jam. Kadang ada yang butuh waktu satu hari full. Saya pernah buat kue model bertingkat, dengan diameter 70 cm dan tinggi setengah meter. Itu pengerjaannya sampai begadang-begadang deh. Kuenya berat banget lagi, tapi hasilnya memuaskan.

Anda kerjakan sendiri?

Saya ditemani dua asisten.

Anda dikenal luas ketika menjadi kontestan Master Chef Indonesia, bagaimana hingga tertarik ikut kompetisi tersebut?

Awal mula saya masuk MasterChef itu tidak terduga. Saya sendiri kan hobinya masak. Waktu saya nonton MasterChef, saya sering ngerundel gitu, mengkritisi apa yang ada dalam tayangan itu. Waktu itu kakak saya negur, ”daripada kamu ngomel di rumah, mending ikut aja lombanya.” Eh, akhirnya saya mikir, bener juga, kenapa nggak ikut seleksi aja.

Dan akhirnya saya daftar, dan dari 750 peserta di Bali, hanya ada 4 peserta yang diambil untuk seleksi berikutnya. Dan saya adalah salah satu dari 4 orang yang lolos tadi. Kami kemudian dikirim ke Jakarta untuk kompetisi selanjutnya. Setibanya di Jakarta, saya dikumpulkan bersama 60 kontestan dari seluruh Indonesia. Dan di sana kami kembali diseleksi untuk dipilih menjadi 25 besar.

Apa pengalaman berharga dari kompetisi Master Chef?

Sangat banyak pengalaman yang saya dapatkan waktu berada di MasterChef. Tapi dari sekian banyak yang ada, pengalaman yang tak terlupakan adalah bisa mengenal ketiga chef juri dan teman-teman yang berasal dari daerah yang berbeda. Bagi saya, itu yang membuat banyak belajar mengenai karakter dan makanan tiap daerah.

Bagaimana hingga bisa tersingkir dari kompetisi itu?

Tantangan memasak otak kambing. Uh, bener-bener deh waktu itu saya langsung blank. Karena memang saya selain tidak pernah masak otak kambing, saya juga tidak pernah makan. Saya memang tak suka dengan otak kambing. Ketika saya mencium bau amis, saya semakin bingung mau diapain nih otak kambingnya. Waktu itu saya benar-benar belum bisa menguasai ketakutan saya dari otak kambing, dan akhirnya, yaaah.. saya tersingkir dan kalah dari kontestan lain.

Ada hikmah dari kekalahan itu?

Kita harus belajar menguasai ketakutan sendiri demi mencapai tujuan yang kita inginkan.

 

MasterChef adalah tayangan franchise yang sangat sukses di sejumlah negara, tak terkecuali Indonesia. Kompetisi memasak untuk para amatir ini, mendorong pesertanya untuk menjadi ahli memasak, alias master. Di musim ke 3, Gung Tya terpilih sebagai salah satu peserta di putaran final, dan mendapat julukan ratu Pressure Test oleh kontestan lainnya karena kerap kali masuk screening eleminasi.

Setelah tersingkir dari kompetisi di level 8 besar, Tya mendirikan usaha kuliner, membuat cake yang dijual secara online untuk party atau pesanan-pesanan khusus. Bulan Agustus, Tya berencana membuka toko kuenya yang berlabel Tya’s Cake & Bakery.

 

Keren..! Kapan sebenarnya menyadari akan hobi memasak ini?

Sedari kecil. Hobi saya memang dari kecil sudah senang sekali memasak. Berawal dari membantu ibu di dapur untuk menyiapkan makanan keluarga. Dan ketika mulai beranjak SMA, saya mulai menemukan ritme memasak. Saya mulai bereksperimen dengan buku-buku masakan yang saya beli.

Ikut skeolah  memasak juga?

Sebenarnya saya ingin ikut sekolah memasak, atau kuliah di jurusan Hubungan Internasional, karena hobi saya selain masak, yakni jalan-jalan ke luar negeri, hahaha. Tapi orang tua memiliki pandangan lain tentang masa depan saya. Orang tua menganggap wanita lebih cocok untuk bekerja di kantor, menjalani karir normal. Akhirnya saya masuk Fakultas Ekonomi.

Pernah kerja kantoran?

Pernah, dulu sempat kerja kantoran. Tapi nggak betah, ya.. ujungnya balik lagi ke bisnis. Jualan kue online yang saya sudah tekuni dari jaman kuliah dulu.

Jadi Anda belajar memasak itu otodidak?

Benar banget, saya otodidak, membeli buku-buku masakan dan bereksperimen sendiri. Mungkin jika ditanya siapa guru memasak saya, maka jawabannya adalah ibu saya ha..ha..ha..

Siapa Chef Idola Anda?

Adriano Zumbo, chef spesialis cake dari Australia. Orangnya ramah dan berkarisma, membuat saya menjadikan dia sebagai salah satu referensi dalam memasak. Ada juga Gordon Ramsay, saya juga suka, dia adalah seorang chef yang benar-benar mengawali karir dari nol, dan itu sangat memotivasi saya yang punya jalur karir juga merintis dari nol.

Katanya wanita yang cantik itu adalah wanita yang pintar memasak. Anda setuju?

Ha ha ha… kasihan dong yang tidak pintar masak? Menurut saya definisi wanita cantik itu, bukan hanya pandai memasak, tapi juga wanita yang pandai membawa diri, tangguh, mandiri dan cerdas.

Apa harapan kedepan?

Semoga saya bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Bisa mengembangkan bisnis yang sekarang ini hingga menjadi lebih besar. Saya juga memiliki cita-cita mendirikan sekolah memasak. Saya percaya, if you can dream it, you can do it.

About admin

Check Also

Damayanthi “Ogek” Putri Suardana – Move On dengan MOV

Keisengan anak muda adalah kreativitas yang dicari dunia. Bukankah sudah banyak bukti, pencipta media sosial yang sekarang seakan mengendalikan dunia maya facebook.

Awalnya adalah keisengan Mark Zuckerberg untuk membuat komunitas digital di kampusnya. Tapi yang kita lihat sekarang adalah perusahaan dengan harga saham yang selangit, mengakuisisi beberapa perusahaan teknologi dan menjadi korporat raksasa di dunia.

Tak hanya satu contoh saja, ada Evan Spiegel pencipta aplikasi Snapchat dengan keisengannya untuk mengejutkan seorang temannya. Ilkaa Pananen, si seniman yang menuangkan seni dalam game sejuta umat, COC. Tony Hsieh dengan keinginannya menjual sepatu via online yang tak terpikirkan waktu itu. Dan satu lagi penemu Virtual Reality, Palmer Luckey, bocah berusia 19 tahun yang ingin masuk dunia game. Bukankah semua adalah sebuah keisengan dan imajinasi yang tak terpikirkan sebelumnya?

Namun di tangan anak-anak muda itulah dunia berubah. Era Globalisasi adalah sebuah era yang memberikan kesempatan manusia sama rata. William Tanuwijaya, founder Tokopedia.com mengatakan, “era Internet membuat seorang underdog pun memiliki kesempatan yang sama seperti kesempatan para juara.”

Ini yang menjadi bagian dari sebuah kisah hidup dara manis kelahiran Denpasar, 29 maret 1994 silam. Berawal dari ketidakpuasan akan model sepatu yang kerap kali ia jumpai di toko sepatu biasa, dan keisengannya untuk mendesain sepatunya sendiri, kini ia merintis toko online sepatu buatan tangan dan desain dari dirinya sendiri.

Ia bertutur, “awalnya saya susah mendapatkan sepatu yang pas dengan kaki saya yang berukuran lumayan besar 26 cm. Lalu iseng-iseng buat sepatu untuk digunakan sendiri, ternyata teman-teman banyak yang suka. Akhirnya memutuskan untuk berjualan handmade shoes.

Gadis yang bernama lengkap Damayanti Putri Suardana ini sebelumnya bukanlah seorang yang dibilang biasa-biasa saja. Ia adalah anak dari Prof.Dr. IB. Raka Suardana, guru besar di Universitas Udayana dan Gusti Ayu Sri Ardhini yang berprofesi sebagai wartawan.

Dengan bibit, bebet dan bobot yang begitu meyakinkan, Ogek, begitu sapaannya, dikenal memiliki segudang bakat dan prestasi. Siapa sangka gadis manis ini memiliki bakat bernyanyi ketika SD. soal bakat tarik suara ini, ia memiliki kenangan yang begitu spesial. Di usia 10 tahun, atau duduk di Kelas IV SDK Harapan, Ogek mendapat kesempatan menyanyi di Istana merdeka. Tidak tanggung-tanggung, Ogek menyanyi di depan Presiden RI, waktu itu Ibu Megawati Soekarnoputri. ”Pengalaman yang tidak mudah dilupakan, bisa nyanyi di depan Presiden, bisa langsung tatap muka dengan pemimpin negara tercinta ini,” kenangnya. Ogek juga pernah menyandang predikat Delegasi Anak Badung 2010, Duta Endek 2012, Puteri Bali Berbakat 2015 dan segudang prestasi lainnya.

Kini Jebolan Ilmu Komunikasi Universitas Udayana tersebut disibukkan dengan keisengannya yang malah menjadikan ia semakin sukses. Yups, mendirikan toko sepatu di tahun 2012 lalu, sekarang Ogek mulai kebanjiran order dari seluruh penjuru, bahkan sampai datang dari Negeri Jiran Malaysia.

Toko sepatu online yang ia beri nama MOV shoes tersebut kini sedang terfokus pada penjualan via online dengan memanfaatkan akun Instagram @MOV_id yang memiliki 20.000 followers lebih. Di sela-sela kesibukannya berbisnis, Ogek juga sibuk mengerjakan tesis untuk gelar masternya di Universitas Airlangga Surabaya. Bagaimana gadis cantik ini memulai bisnisnya, berikut adalah paparan wawancara kami bersama Ida Ayu Damayanthi Putri Suardana.

Sekarang sedang sibuk apa?

Kalau sekarang sih, masih kuliah master di Airlangga Surabaya. Ya, sambil mengembangkan usaha juga. Itu aja sih, sesekali juga jalankan hobi, travelling, jalan-jalan.

Bisa ceritakan sedikit tentang diri Anda?

Lulus dari SMA Negeri 5 Denpasar, terus lanjut kuliah di s1 Ilmu Komunikasi Undiknas Denpasar, dan sekarang sedang mengambil s2 di Universitas Airlangga Surabaya. Saya anak ke 2 dari 4 bersaudara, Ayah saya Prof IB Raka Suardana, beliau Guru besar di Universitas Udayana. Kalau ibu, Gusti Ayu Sri Ardhini, profesinya wartawati.

Awal mula mengembangkan toko sepatu online seperti apa, karena keluarga Anda dari kalangan akademisi?

Ceritanya sih iseng aja. Awalnya saya susah mendapatkan sepatu yang pas dengan ukuran kaki saya yang lumayan besar, sizenya 26 cm. Lalu iseng-iseng buat sepatu untuk digunakan sendiri, ternyata teman-teman saya banyak yang suka. Akhirnya memutuskan untuk berjualan handmade shoes. Mula-mula buka pre-order wah ternyata laku keras. Dan akhirnya sekarang sudah buka yang ready stock.

Memang sedari kecil ingin berwirausaha?

Yups, emang dari SMP. Saya itu suka jualan, mulai dari MLM sampai Palaguda, ‘Apa Lu Mau Gue Ada’. hahaha, jadi macem-macem saya pernah jual.

Kenapa memilih nama MOV Shoes?

Awalnya brand ini belum terbentuk. Saya memulai usaha handmade shoes ini di tahun 2012. Nah waktu itu belum ada brand nih, di pertengahan tahun 2013 baru kepikiran untuk buat brand, karena udah mulai banyak yang pesan. Cari-cari, eh akhirnya ketemu kata ‘move’. Akhirnya saya singkat menjadi MOV berasal dari kata move, artinya pindah. Pindah dengan melangkah. melangkah bersama MOV, he.. he.. he..

Berapa keuntungan per bulan?

Tergantung ya, kadang bisa sepi kadang bisa ramai, kalau ada bazar biasanya jauh lebih banyak.

Bagaimana dengan desainnya?

Semua sepatu yang ada di MOV shoes adaah desain dari saya. Namanya juga handmade shoes ya, jadi memang benar-benar buatan tangan. Tapi untuk produksi, saya punya karyawan untuk itu.

Sekarang sudah berapa karyawan?

Untuk karyawan di bagian administrasi ada 2 orang, sementara di bagian produksi ada 3 orang. Apa pernah sampai ekspor ke luar negeri? Bukan ekspor sih, tapi kita sih pernah shipping sampai Malaysia.

Kenapa enggak pakai marketplace seperti tokopedia, bukalapak dan lainnya?

Ya untuk sementara saya manfaatkan akun Instagram dan beberapa sosial media. Dan baru-baru ini kami lagi mau masuk Berrybenka, doakan yah.

Bagaimana tanggapan Anda tentang kompetitor di bisnis ini?

Wah, kalau saya sih memandang kompetitor seperti ini, kompetitor itu bikin saya makin kreatif dalam mengembangkan model sepatu kami. Karena apapun usahanya, pasti selalu ada kompetitor, yang penting bersaing secara sehat saja. Begitu sih menurut saya

Siapa mentor Anda?

Ibu, beliau selalu mendukung saya, kadang malah ibu yang suka excited buat model baru dan beli display untuk sepatu, ha..ha.. ha..

Apa kutipan favorit Anda?

Motivation is what gets you started. Habit is what keeps you going, ini quote dari Jim Rohn.

Harapan-harapan Anda ke depan?

Semoga bisa makin dikenal masyarakat luas, dan pastinya bisa export beneran keluar negeri juga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *