Tuesday , November 12 2019
Home / Insight / Daftar Situs untuk Menjual Foto

Daftar Situs untuk Menjual Foto

Bagi para fotografer, bisa menjual fotonya melalui sejumlah website stock photography. Sistemnya hampir sama dengan crowdsourching lainnya. Berikut beberapa informasinya yang diambil dari berbagai sumber :

123RF (www.123rf.com)

Ini merupakan salah satu yang paling populer, sistem pemabayarannya komisi, dimana kita harus terdaftar terlebih dahulu menjadi anggota. Persentasenya bisa mencapai 60% dari harga jual.

Bigstockphoto (www.bigstockphoto.com)

Bagi mereka yang fotonya di unduh, akan mendapatkan sekitar $0.50 hingga $1.00, namun jika foto tersebut di unduh untuk kepentingan komersial, katakan saja seperti untuk suatu produk, maka anggota bisa mendapatkan $60 per foto.

Fotolia (www.fotolia.com)

Situs ini menyediakan beberapa aplikasi untuk lisensi pembelian. Jadi nantinya, untuk setiap foto yang terjual, anggota akan menerima pembayaran royalti, yang berdasarkan tipe berlangganan yang dipilih konsumen.

Istockphoto (www.istockphoto.com)

Situs ini bisa dibilang pioner, karena merupakan generasi pertama dari situs-situs sejenis. Setipa foto yang diunduh, maka anggota mendapat komisi sampai 15%. Bahkan jika menjadi kontributor ekslusif, komisi yang didapat lebih besar lagi, mencapai 45%. Selain itu, situs ini tidak membatasi hanya menjual foto, tapi juga ilustrasi, audio dan video.

Shutterstock (www.shutterstock.com)

Selain Istockphoto, maka situs ini juga termasuk yang paling populer, bahkan di Indonesia. Anggota bisa mendapatkan pendapatan 20-30% untuk setiap foto yang diunduh.

About admin

Check Also

Cara-Cara Baru berkarir di Era Baru

Bagaimanapun juga, kemajuan teknologi telah menstimulasi sejumlah perubahan cara kerja, yang ujung-ujungnya, menjadikan para Gen C, generasi digital yang selalu terkoneksi (connected), bekerja tanpa ampun, seolah energinya tak pernah habis.

Yang sayangnya, mereka salah, energi itu sumber daya tak terbatas, terkadang berbagai upaya lebih itu tidak cukup, tidak sanggup membawa kita pada perubahan yang kita inginkan, terhadap tujuan yang kita tetapkan. Lalu apa yang salah?

Seperti yang para ahli bilang, sukses itu ada caranya, dan kita tidak bisa mendapatkan hal yang sama dengan cara yang berbeda. Namun persoalannya, cara baru ini belum banyak diketahui, kebanyakan orang masih terperangkap dengan cara kerja lama, cara kerja yang membawa era industri sukses dimasanya. Namun hari ini, banyak hal telah membuktikan, cara itu tak lagi mujarab.

Hal ini juga dipertegas oleh career coach Rene Suhardono ketika dirinya diundang sebagai pembicara di BPR Lestari. Ia mengatakan, dulu label-label recording besar menentukan selera pasar, musik seperti apa yang harus mereka dengarkan, aliran dan bakat-bakat tertentu, tak bisa dengan mudah mendapat kesempatan untuk membuat album dan memamerkan talentanya, “ujarnya. Sekarang, Youtube dan berbagai daring (online) sejenis memutus aliran tersebut, memunculkan sejumlah artis-artis baru dan profesi bernama Youtubers. Dan hebatnya, hal ini juga mengubur eksistensi industri rekaman secara drastis.

Dulu, kita harus membuat proposal yang tebal, mencantumkan berbagai hal agar mendapat persetujuan dari investor atas ide-ide dan gagasan kita, sekarang crowfunding memungkinkan kita mendapatkan pendanaan dari patungan masal secara online. Dulu, kita gerilya untuk mencari klien, sekarang crowsourching memberi kesempatan untuk kita berkompetisi mendapatkan proyek dengan cara yang sangat fair.

Akses menjadi tak terbatas, kemungkinan dan peluang ada dimana-mana, pun demikian dengan resiko dan tanggung jawabnya. Semuanya tergantung pada kita, sejauh mana kita bisa mengelola diri dan karir agar terus berkembang. Dulu jabatan itu layaknya anak tangga, seiring waktu dan prestasi kita akan menapakinya setahap demi setahap.. sekarang, perjalanan karir itu bak tebing karang yang luas, penuh onak dan duri, tidak ada rute khusus, kita bisa melompat dengan bebas dari satu pijakan ke pijakan lain.

Dulu, ada panduan karir dari perusahaan agar kompetensi kita berkembang, sekarang kita bertanggung jawab terhadap diri kita sendiri, tak ada mentor sempurna yang akan datang memberi uluran tangan jika kita tak mencarinya.

Persoalannya, belum banyak orang yang membahas secar detil dan rinci, bagaimana kita berkembang di dunia saat ini. Bahkan Scott Belski (pendiri Behance) menyebutnya sebagai kurikulum yang hilang. Atau lebih tepatnya, adalah kurikulum yang belum dirancang.

Kabar baiknya, kita bisa belajar dari mereka yang telah lebih dulu meraih kesuksesannya di era saat ini. Mereka dengan kreatif mampu menciptakan peluang dan membangun karirnya hingga pada posisi terbaik. Jerry Aurum misalkan, fotografer beken dengan segudang prestasi. Lulusan Desain Komunikasi Visual , Institut Teknologi Bandung (ITB) ini tertarik terjun ke bisnis jasa tersebut karena melihat potensi besar. Cara awal untuk berkiprah-pun cukup unik, ia mempromosikan karyanya kepada klien menggunakan medium kalender, sambil memamerkan foto-fotonya. Kalender kecil sebanyak 300 buah ia sebarkan ke perusahaan-perusahaan dengan tujuan mendapatkan job memotret.

“Saya bekerjasama dengan teman-teman yang masuh kuliah pada saat itu untuk memproduksi kalender ini.

Dicetak sebagian untuk dijual, yang hasil penjualannya menutup seluruh ongkos produksi. Sisanya sebanyak 300 eksemplar saya bawa ke Jakarta untuk disebarkan kepada advertising dan sejumlah perusahaan. Kalender itu juga merupakan portofolio saya. Jadi portofolio saya bertengger di meja orang,” urainya kepada reporter Money&I.

Usahanya itu pun tak sia-sia. Jerry mendapatkan beberapa project dari promosi sederhananya itu, dan secara bertahap, akhirnya membawa Jeery pada posisinya saat ini.

Kunci dari pekerja kreatif adalah keberanian mereka untuk berkarya, dan ketika apa-apa yang mereka hasilkan itu bermanfaat, maka hanya soal waktu saja sebelum kesuksesan lainnya datang. Bagaimana dengan Anda?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *