Tuesday , November 12 2019
Home / Insight / CROWD! Model Baru Disrupsi Teknologi

CROWD! Model Baru Disrupsi Teknologi

Perusahaan otomotif ini, sangat tergantung dengan aktifitas marketingnya, namun sehari-hari tim kerja mereka juga disibukkan dengan pekerjaan operasional harian, aktifitas utama yang tidak bisa mereka tinggalkan. Ketika kerjaan harian ini ditanggalkan, bisnis menjadi lumpuh.

Akhirnya, program pemasaran yang mereka ‘paksakan’ tetap jalan, hasilnya tentu tidak maksimal. Desain pamflet yang berantakan, copywrite yang tidak sesuai dengan representasi produk, ‘sales promotion girl (SPG)’ dadakan yang dicomot dari karyawan baru yang kemampuan komunikasinya masih ala kadarnya. Namun ketika itu, persaingan sangat longgar, dan masih memungkinkan terjadinya penjualan. Gambaran ini, kira-kira terjadi di tahun 90an, ketika brand otomotif yang semuanya dari Jepang itu, jumlahnya tak lebih dari 3 pabrikan.

Paska reformasi, kebijakan ekonomi berubah, pemerintah membuka kesempatan semua pabrikan menjajaki pasar, alhasil serbuan motor China berdatangan, pun demikian dari Eropa dan Amerika. Merek-merek kelas dua dari Jepang pun ikut berbeut kue, kondisi ini menjadikan mereka yang tadinya memimpin pasar, ketar ketir dengan persaingan, dan sekarang program pemasaran tak lagi bisa dibuat asal-asalan. Tapi dilemanya, mereka tidak cukup tenaga untuk mengelola semua, kondisi inilah yang memunculkan model bisnis baru bernama outsource, dimana layanan menawarkan tenaga kerja bermunculan karena adanya kebutuhan. Desain pamflet dan video iklan diserahkan kepada agency periklanan, yang memang pekerjaan sehari-harinya mengerjakan advertising konten. SPG di sewa dari perusahaan penyedia jasa SPG, yang memang sudah melatih staf-staf mereka yang dengan keterampilan komunikasi yang mumpuni, plus dandanan profesional untuk menarik minat konsumen.

Ujung-ujungnya, perusahaan bisa fokus pada bisnis utama yang mereka jalankan, karena proses pemasaran sudah diberikan kepada yang ahli di bidangnya. Cara ini lebih baik, lebih efektif dan juga lebuh murah dengan hasil yang lebih optimal. Soal desain saja misalnya, dulu perusahaan-perusahaan besar selalu memiliki desainer untuk membuat material promosi mereka. Namun  umumnya, mereka merekrut desainer pemula, tujuannya untuk menghindari biaya gaji yang besar, karena desainer bukanlah bagian utama dari bisnis mereka (kecuali ini memang perusahaan jasa komunikasi atau konsultan desain.

Alasan lain, karena sulit mencari desainer berpengalaman, kalaupun ada, gajinya jelas tidaklah murah. Karena umumnya desainer yang telah berpengalaman akan memuka sendiri jasa layanan desainnya. Pada akhirnya, karya desainer pemula sulit diterima oleh manajemen perusahaan karena dibawah ekspektasi. Maka pilihan yang paling mudah dan sesuai budget adalah outsource, mereka melimpahkan aktifitas desain kepada perusahaan jasa desain, atau desainer-desainer berpengalaman.

Perusahaan-perusahaan itu tidak harus mengeluarkan gaji setiap bulan, bisa fokus pada bisnis utama mereka, dan hasil desain yang dibuat pun berkualitas sesuai dengan keinginan, tentunya karena dikerjakan oleh profesional. Di satu sisi, kerjaan desain juga tidak selalu mereka perlukan. Sistem outsource ini memberikan ruang yang sama-sama fair bagi semua pihak.

Itulah yang menyebabkan perusahaan penyedia tenaga kerja menjamur, karena tidak jarang, perusahaan jasa outsource sendiri, juga membutuhkan jasa pekerja lepas lainnya untuk berkolaborasi, ini dilakukan demi memperkuat hasil kerja mereka. Perusahaan Event Organizer misalkan yang menyewa fotografer, karena jasa organize yang mereka tawarkan ke klien termasuk jasa foto, namun EO tersebut tidak memiliki resource dibidang ini. Maka pilihan yang tersedia adalah berkolaborasi. Inilah gambaran yang terjadi di tahun-tahun 2000-an.

Namun belakangan, permasalahan terjadi lagi. Hasil kerja dari perusahaan outsource, tidak semuanya sesuai selera  perusahaan. Karena perusahaan outsource sendiri memiliki ciri khas dan gaya kerjanya masing-masing. Pekerja kreatif di dalam perusahaan outsource, adalah orang-orang yang punya prefensi yang tidak semuanya sesuai dengan produk yang dikeluarkan oleh klien. Alhasil, kekecewaan akhirnya terjadi. Salah satu kejadian ini dituturkan pula oleh Ryan Gondokusomo. Ketika ia bekerja sebagai karyawan, atasannya meminta dibuatkan desain kalender, dan ketika ryan menyampaikan ide ini ke para pekerja kreatif, hasilnya tidak sesuai denagn keinginan bosa besar. Ryan pun kemudian punya ide, ia melemparkan proyek ini di Forum Kaskus, dan akan memberikan hadiah handphone bagi mereka yang bisa membuat desain kalender yang sesuai dengan keinginan atasannya. Dalam waktu singkat, Ryan menerima ratusan desain yang keren-keren dari desainer di berbagai daerah. Dan atasannya pun kebingungan, menentukan banyak desain bagus yang harus ia pilih.

Belakangan, dari situasi inilah Ryan mendapatkan ide, ia pun memutuskan menjadi startup digital dengan mendirikan perusahaan bernama Sribu.com, menjadi salah satu cikal bakal dari populernya sistem yang bernama crowdsourching di Indonesia. Sribu adalah wadah bagi para desainer maupun penulis untuk berebut tender proyek. Perusahaan yang membutuhkan jasa desain atau copywrite, bisa menyampaikannya melalui situs ini, dan ribuan penulis serat desainer yang berminat (tentunya yang sudah terdaftar dalam situs tersebut), akan mengerjakan proyek yang diberikan. Hasil yang dipilih perusahaan, tentu saja yang paling sesuai dengan keinginan, karena mereka mendapatkan banyak alternatif pilihan, dan membayar hanya kepada desainer atau penulis yang karyanya terpilih.

Inilah gambaran model bisnis di era teknologi hari ini, yang disebut dengan istilah Crowd!

Urun daya

Dari segi namanya, crowd adalah kumpulan manusia yang menjdi sumber daya dalam menciptakan sebuah produk maupun informasi. Orang-orang tersebut, tidak memiliki hubungan apapun dengan perusahaan, namun menjadi sumber baik pendanaan maupun ide yang erat kaitannya dengan perusahaan. Dalam bahasa indonesianya, disebut urun daya, proses untuk memperoleh layanan, ide maupun konten tertentu dengan cara meminta bantuan dari orang lain secara massal, dalam hal khusus dilakukan melalui komunits online.

Cara kerjanya denagn menggabungkan usaha dari beberapa sukarelawan atau pekerja paruh waktu, yang mana masing-masing dari mereka memiliki inisiatif tersendiri untuk mencapai hasil yang maksimal. Istilah “crowdsourcing” adalah penggabungan dari kata “crowd” dan “outsourcing”.

Selain untuk pekerja paruh waktu dengan istilah crowdsourcing, adapula yang disebut dengan crowdfunding, proses ini digunakan dalam penggalangan dana usaha maupun aksi sosial, baik dalam grup tertentu ataupun publik, yang dilakukan secara online.

Ryan sendiri melalui blog.sribu,com menceritakan bagaimana sejarag dari model bisnis ini. Kata crowdsourcing dipopulerkan oleh Jeff Howe di tahun 2006, yang menjelaskan sebuah cara baru memperkerjakan orang yang ingin membantu sebuah proyek. Kumpulan orang-orang dengan keahlian tertentu dan dalam jangka waktu tertentu mampu bertransformasi menjadi kekuatan yang bisa digunakan oleh pemilik bisnis untuk mengerjakan sebuah pekerjaan.

Namun menurut Ryan, istilah crowdsourcing telah ada di masyarakat sejak lama berbagai bentuk. Misalnya saja Facebook yang telah menggunakan crowdsourcing untuk mentranslate website mereka ke berbagai bahasa sejak tahun 2008. Wikipedia juga bisa dikategorikan sebagai crowdsourcing seperti halnya ensiklopedia yang ditulis oleh banyak orang di seluruh dunia.

Bagi sebuah perusahaan, sistem ini tentu saja sangat menguntungkan mereka, karena bisa mendapatkan banyak alternatif pendukung dari sebuh proyek. Misalnya untuk keperluan riset. Karena yang namanya penelitian untuk pengembangan produk jelas memerlukan biaya cukup besar, namun semua itu bisa diatasi dengan crowdsourcing. Bahkan ada beberapa perusahaan yang menawarkan hadiah besar untuk memecahkan permasalahan website, seperti InnoCentive misalnya. Dengan cara-cara seperti ini, lebih murah daripada harus melakukan penelitian sendiri.

Ryan juga menambahkan, melalui crowdsourcing, perusahaan dan juga individu dapat memperoleh hasil desain beragam, profesional dan dengan harga terjangkau. Hal yang paling menarik perhatian dari crowdsourcing desain selain dari kualitasnya yang bagus, juga harganya yang amat terjangkau, bahkan untuk pemilik usaha kecil sekalipun. Seiring dengan harga yang murah serta berkualitas baik, crowdsourcing memberikan keuntungan dari banyaknya orang yang siap mengerjakan proyek kapan saja darimana saja.

About admin

Check Also

Cara-Cara Baru berkarir di Era Baru

Bagaimanapun juga, kemajuan teknologi telah menstimulasi sejumlah perubahan cara kerja, yang ujung-ujungnya, menjadikan para Gen C, generasi digital yang selalu terkoneksi (connected), bekerja tanpa ampun, seolah energinya tak pernah habis.

Yang sayangnya, mereka salah, energi itu sumber daya tak terbatas, terkadang berbagai upaya lebih itu tidak cukup, tidak sanggup membawa kita pada perubahan yang kita inginkan, terhadap tujuan yang kita tetapkan. Lalu apa yang salah?

Seperti yang para ahli bilang, sukses itu ada caranya, dan kita tidak bisa mendapatkan hal yang sama dengan cara yang berbeda. Namun persoalannya, cara baru ini belum banyak diketahui, kebanyakan orang masih terperangkap dengan cara kerja lama, cara kerja yang membawa era industri sukses dimasanya. Namun hari ini, banyak hal telah membuktikan, cara itu tak lagi mujarab.

Hal ini juga dipertegas oleh career coach Rene Suhardono ketika dirinya diundang sebagai pembicara di BPR Lestari. Ia mengatakan, dulu label-label recording besar menentukan selera pasar, musik seperti apa yang harus mereka dengarkan, aliran dan bakat-bakat tertentu, tak bisa dengan mudah mendapat kesempatan untuk membuat album dan memamerkan talentanya, “ujarnya. Sekarang, Youtube dan berbagai daring (online) sejenis memutus aliran tersebut, memunculkan sejumlah artis-artis baru dan profesi bernama Youtubers. Dan hebatnya, hal ini juga mengubur eksistensi industri rekaman secara drastis.

Dulu, kita harus membuat proposal yang tebal, mencantumkan berbagai hal agar mendapat persetujuan dari investor atas ide-ide dan gagasan kita, sekarang crowfunding memungkinkan kita mendapatkan pendanaan dari patungan masal secara online. Dulu, kita gerilya untuk mencari klien, sekarang crowsourching memberi kesempatan untuk kita berkompetisi mendapatkan proyek dengan cara yang sangat fair.

Akses menjadi tak terbatas, kemungkinan dan peluang ada dimana-mana, pun demikian dengan resiko dan tanggung jawabnya. Semuanya tergantung pada kita, sejauh mana kita bisa mengelola diri dan karir agar terus berkembang. Dulu jabatan itu layaknya anak tangga, seiring waktu dan prestasi kita akan menapakinya setahap demi setahap.. sekarang, perjalanan karir itu bak tebing karang yang luas, penuh onak dan duri, tidak ada rute khusus, kita bisa melompat dengan bebas dari satu pijakan ke pijakan lain.

Dulu, ada panduan karir dari perusahaan agar kompetensi kita berkembang, sekarang kita bertanggung jawab terhadap diri kita sendiri, tak ada mentor sempurna yang akan datang memberi uluran tangan jika kita tak mencarinya.

Persoalannya, belum banyak orang yang membahas secar detil dan rinci, bagaimana kita berkembang di dunia saat ini. Bahkan Scott Belski (pendiri Behance) menyebutnya sebagai kurikulum yang hilang. Atau lebih tepatnya, adalah kurikulum yang belum dirancang.

Kabar baiknya, kita bisa belajar dari mereka yang telah lebih dulu meraih kesuksesannya di era saat ini. Mereka dengan kreatif mampu menciptakan peluang dan membangun karirnya hingga pada posisi terbaik. Jerry Aurum misalkan, fotografer beken dengan segudang prestasi. Lulusan Desain Komunikasi Visual , Institut Teknologi Bandung (ITB) ini tertarik terjun ke bisnis jasa tersebut karena melihat potensi besar. Cara awal untuk berkiprah-pun cukup unik, ia mempromosikan karyanya kepada klien menggunakan medium kalender, sambil memamerkan foto-fotonya. Kalender kecil sebanyak 300 buah ia sebarkan ke perusahaan-perusahaan dengan tujuan mendapatkan job memotret.

“Saya bekerjasama dengan teman-teman yang masuh kuliah pada saat itu untuk memproduksi kalender ini.

Dicetak sebagian untuk dijual, yang hasil penjualannya menutup seluruh ongkos produksi. Sisanya sebanyak 300 eksemplar saya bawa ke Jakarta untuk disebarkan kepada advertising dan sejumlah perusahaan. Kalender itu juga merupakan portofolio saya. Jadi portofolio saya bertengger di meja orang,” urainya kepada reporter Money&I.

Usahanya itu pun tak sia-sia. Jerry mendapatkan beberapa project dari promosi sederhananya itu, dan secara bertahap, akhirnya membawa Jeery pada posisinya saat ini.

Kunci dari pekerja kreatif adalah keberanian mereka untuk berkarya, dan ketika apa-apa yang mereka hasilkan itu bermanfaat, maka hanya soal waktu saja sebelum kesuksesan lainnya datang. Bagaimana dengan Anda?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *